puiSi

siapa sih kamu?

pengembala itu aku, tapi aku tak mampu menghidupkan atau sekedar memberimu makan
penggembala itu aku, tapi aku tak mampu menangisimu, memberimu obat takkala kau sakit
penggembala itu aku, tapi apa daya tangan dan asa berbeda, mimpi berubah dalam gelap angan
penggembala itu lunglai, karena semua harapan tak jua kenyataan

batas apa yang membuat ku optimis, naumn juga derai psimis
berajuk bersama air jernih yang mengalir di padang pasir, tapi kau tak dapat menyentuhku
padahal aku disamping mu
padahal aku di pelupuk matamu
padahal ahri-harimu itu aku

apa iya aku tak dapat bersamamu?
derai langkahmu sering buatku ingin teriak, pergilah jauh!
tapi apa daya, kaki tak mampu beranjak
selain tangis mengiris luka dalam penat berkeringat

siapa sih kamu?
malang, 21 Maret 2008

Nenek…

Oleh: ari el Mohamed

Kakimu yang melepuh

Berdenyut dalam jari akan waktu kian senja

Bias dan merapuh

Termakan usia

Saat kau sadar

Kamar serba putih telah bersandar

Seorang perawat cantik, senyum dalam getar

Tapi kau tak berdaya, lunglai akan senja

Aku hanya meringis

Coba senyum diantara kakimu yang penuh nanah

Merah bercampur darah

Siapkan dokter yang musti tabah juga resah

Mugkin gelisah

Mungkin hanyut dalam perih yang kau rasakan

Kami semua di sini, nenek

Sama seperti mimpimu

Terbungkus cita yang kau sandarkan pada orang tua kami

Membias pada wajah-wajah kami

Hingga kami sadar

Kau adalah kami

Cepatlah sembuh,

Luka hatimu…

Adalah mimpi buruk kami

Blitar, 20 maret 2008

 

 

Jangan pergi

Oleh: ari el Mohamed

Lelah waktu ku tetap menunggu

Sampai semua bintang gumintang tahu

Sampai langit juga bangkit

Sampai kelam malam tenggelam berganti surya

Sampai bumi mati, terhapus sisa abadi

Sampai darahku melumat lenyap bersama raga

Sampai kau tersenyum di ufuk pagi

Untuk kembali

Aku tetap merindumu

Terlahir sebagai rusukku

Terpisahkan oleh riak khuldi

Dan bertemu di padang arafah

Kembalilah…

Aku belum bicara sesuap kata

Karena bukan hanya lidahku yang kan bicara

Tapi juga hatiku yang meluka

Kau jangan pergi….

Blitar, 20 Maret 2008

 

Rumahku

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Secarik kerts kecil dengan seutas pena

Menyisir aku tulis bait-bait surga

Juga syair yang berubah mencekam

Bagai neraka

Di sini…

Di rumah ini

Inilah sumber semua energiku

Inilah sumber semua cinta dan asaku

Dan di sini, sumber pahit getirku

Di sini pula, semua itu berakhir

 

Inilah waktu

Saat atap kayu termakan waktu

Menancap kegelisahan menghitung waktu

kapan atap ini roboh?’

atau tiang penyangga yang lapuk

terbungkus rayap-rayap yang terus merayap

tak kenal waktu, pantang menyerah

 

di sini

seekor kucing putih hitam putih termangu

lelap di kursi kayu

menunggu nasi ikan asin

menjadi teman canda ibu

yang sendirian…

yang kesepian…

 

rumah ini

terbeli 1998 lalu

sesaat setelah pekik reformasi

menjadi satu, aku dan ibu

 

di sini…

mimpi-mimpi itu coba aku beli

ditengah gelisah akan waktu

rumah lapuk yang tak jua aku sanggup

sekedar memugar demi kelayakan

 

rumah ini…

mungkin sejelek gubuk meliuk tertiup angin

atau menjadi saksi emosiku

saksi marah dan sedihku

juga saksi atas kepenatan

sekaligus tawa dan kebahagiaan

 

di sini…

rumah ini menjadi oase

nyata dan fatamorgana

aku dan ibu

mengukir waktu yang kian angkuh

tak memberiku kesempatan

untuk mendekap erat semuanya

 

malang, 9 februari 2008

 

bangunlah! Bangunlah!

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Konon, kau dulu berjaya

Konon, kau dulu ladang ilmu

Konon, kau dulu nomer satu

Konon,kau dulu prospektif dan optimis

 

Kini,kau enggan mati

Tapi kau juga segan hidup

Kini,nyalimu ciut

Kau lunglai tak berenergi

 

Kapan kamu mengakui?

Kapan kau bisa terima kenyataan?

Kapan kau berani bilang ’ya’ bila itu ya?

Dan bilang ’tidak’ jika tidak?

 

Yang aku lihat

Kau semakin tertutup, takut transparasi

Kau semakin psimis untuk bicara, ini program kita

Matamu semakin redup, tapi tak bertanggungjawab

Akupun melihat, detik waktu kepergianmu

 

Aku hanya melihat, mendengar

Tapi aku buta hati

Tak merasakan kepedihan juga kenikmatanmu

Selain kehampaan

Hambar, pahit tidak

Manispun tidak

 

Semoga kau sadar

Kau bukan apa-apa

Saat tidak lekas bangun dan buka mata

Saat itu aku ingin tahu

Manis pahitnya bersamamu

 

Untuk UNIGA, malang, 22 desember 2007

 

Andai dia bukan ibuku

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Nadamu kian meninggi

Meledak-ledak seiring emosi

Riuh… memecah otakku

Memekakkan telingaku

Mendebur tiada putus

merajam semua!

Semua!!

Semua kata yang kosong

Mendakwaku sebagai tong kesalahan

Tiada kebenaran

Tiada kau benar

 

Ingin aku berlari

Berteriak pada Tuhan…

Sekencang puting beliung

Aku bukan dia, Tuhan…

Aku bukan dia, Tuhan…

Akupun tidak harus seperti dia

Aku tidak harus sama seperti dia!

Tapi itu tuntutanmu

Sesuai dengan yang ia suka

 

Diam…

Karena ternyata lidahku kelu

Otot kakiku lunglai

Tidak bisa berlari

Diam…

Aku hanya lunglai

Lunglai dalam guratan emosi yang terus berkobar

Lunglai dalam nada yang terus memekakkan telinga

Lunglai dalam syair-syair yang yang terus mencercaku

Melumatku dalam gemuruh emosional

Melumatku dalam perih menahan segalanya

Menelan detak dada yang ingin meledak

Tapi aku tetap tidak bisa

Selain hanya diam

Karena dia ibuku

Karena itu cara ibu menyayangiku

Rumah ini, 22 desember 2007

 

Belahan hidup

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Separuh kehidupanku adalah milikmu

Tapi kau tetap kau

Aku tetap aku

Separuh itu karena kau ada, aku ada

Rumah ini, 22 desember 2007

Mengejar….

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Mimpi itu menggumpal

Bias dalam ketidakpastian

Menari dalam guratan waktu

Bersolek dalam cahaya tak pasti

 

Kapan kau dapat ku sentuh?

Melihatmupun aku tak punya daya

Kau masih terus berlari

Seenaknya kau untuk berhenti!

 

Kau tau aku punya letih

Karena terangmu hanya lewat mimpi

Smenetara aku tetap gelisah

Karena kau terus berlari

Kamar pengab, 22 Nopember 2007

Buat aku

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Maju!

Itu kata hati

Males!

Itu kata diri

Segera…

Itu kata mimpi

Nanti saja

Hasrat tetap di sini

 

Melangkah sajalah

Mengalir sajalah

Meniru sajalah

Berbuat sajalah

Tidur sajalah

 

Besok atau lusa

Aku sadar

Sekarang dan esok

Ternyata berbatas tipis

Saat terlelap dalam selimut malam

Kapan berubah?

Kamar pengab, 16 nopember 2007

 

Ke mana kau cinta?

Oleh: Ari eL Mohamed

 

Cinta itu kian mati

Sendiri di sela hati yang sepi

Cinta itu kian pudar

Mencair seiring pergantian musim

 

Cinta itu makin tiada

Terhempas asa yang tak kunjung bersua

Cinta itu kini makin jauh

Makin kecil, menghilang dalam pekat

 

Ke mana kau pergi, cinta?

Seperti apa kabarmu, cinta?

Tidakkah kau hadir lagi?

Dalam hati yang kini makin kerontang…

 

Cinta…

Di mana kau ??

16 nopember 2007

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar