| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
puiSi
siapa sih kamu?
pengembala itu aku, tapi aku tak mampu menghidupkan atau sekedar memberimu makan
penggembala itu aku, tapi aku tak mampu menangisimu, memberimu obat takkala kau sakit
penggembala itu aku, tapi apa daya tangan dan asa berbeda, mimpi berubah dalam gelap angan
penggembala itu lunglai, karena semua harapan tak jua kenyataan
batas apa yang membuat ku optimis, naumn juga derai psimis
berajuk bersama air jernih yang mengalir di padang pasir, tapi kau tak dapat menyentuhku
padahal aku disamping mu
padahal aku di pelupuk matamu
padahal ahri-harimu itu aku
apa iya aku tak dapat bersamamu?
derai langkahmu sering buatku ingin teriak, pergilah jauh!
tapi apa daya, kaki tak mampu beranjak
selain tangis mengiris luka dalam penat berkeringat
siapa sih kamu?
malang, 21 Maret 2008
Nenek…
Oleh: ari el Mohamed
Kakimu yang melepuh
Berdenyut dalam jari akan waktu kian senja
Bias dan merapuh
Termakan usia
Saat kau sadar
Kamar serba putih telah bersandar
Seorang perawat cantik, senyum dalam getar
Tapi kau tak berdaya, lunglai akan senja
Aku hanya meringis
Coba senyum diantara kakimu yang penuh nanah
Merah bercampur darah
Siapkan dokter yang musti tabah juga resah
Mugkin gelisah
Mungkin hanyut dalam perih yang kau rasakan
Kami semua di sini, nenek
Sama seperti mimpimu
Terbungkus cita yang kau sandarkan pada orang tua kami
Membias pada wajah-wajah kami
Hingga kami sadar
Kau adalah kami
Cepatlah sembuh,
Luka hatimu…
Adalah mimpi buruk kami
Blitar, 20 maret 2008
Jangan pergi
Oleh: ari el Mohamed
Lelah waktu ku tetap menunggu
Sampai semua bintang gumintang tahu
Sampai langit juga bangkit
Sampai kelam malam tenggelam berganti surya
Sampai bumi mati, terhapus sisa abadi
Sampai darahku melumat lenyap bersama raga
Sampai kau tersenyum di ufuk pagi
Untuk kembali
Aku tetap merindumu
Terlahir sebagai rusukku
Terpisahkan oleh riak khuldi
Dan bertemu di padang arafah
Kembalilah…
Aku belum bicara sesuap kata
Karena bukan hanya lidahku yang kan bicara
Tapi juga hatiku yang meluka
Kau jangan pergi….
Blitar, 20 Maret 2008
Rumahku
Oleh: Ari eL Mohamed
Secarik kerts kecil dengan seutas pena
Menyisir aku tulis bait-bait surga
Juga syair yang berubah mencekam
Bagai neraka
Di sini…
Di rumah ini
Inilah sumber semua energiku
Inilah sumber semua cinta dan asaku
Dan di sini, sumber pahit getirku
Di sini pula, semua itu berakhir
Inilah waktu
Saat atap kayu termakan waktu
Menancap kegelisahan menghitung waktu
’kapan atap ini roboh?’
atau tiang penyangga yang lapuk
terbungkus rayap-rayap yang terus merayap
tak kenal waktu, pantang menyerah
di sini
seekor kucing putih hitam putih termangu
lelap di kursi kayu
menunggu nasi ikan asin
menjadi teman canda ibu
yang sendirian…
yang kesepian…
rumah ini
terbeli 1998 lalu
sesaat setelah pekik reformasi
menjadi satu, aku dan ibu
di sini…
mimpi-mimpi itu coba aku beli
ditengah gelisah akan waktu
rumah lapuk yang tak jua aku sanggup
sekedar memugar demi kelayakan
rumah ini…
mungkin sejelek gubuk meliuk tertiup angin
atau menjadi saksi emosiku
saksi marah dan sedihku
juga saksi atas kepenatan
sekaligus tawa dan kebahagiaan
di sini…
rumah ini menjadi oase
nyata dan fatamorgana
aku dan ibu
mengukir waktu yang kian angkuh
tak memberiku kesempatan
untuk mendekap erat semuanya
malang, 9 februari 2008
bangunlah! Bangunlah!
Oleh: Ari eL Mohamed
Konon, kau dulu berjaya
Konon, kau dulu ladang ilmu
Konon, kau dulu nomer satu
Konon,kau dulu prospektif dan optimis
Kini,kau enggan mati
Tapi kau juga segan hidup
Kini,nyalimu ciut
Kau lunglai tak berenergi
Kapan kamu mengakui?
Kapan kau bisa terima kenyataan?
Kapan kau berani bilang ’ya’ bila itu ya?
Dan bilang ’tidak’ jika tidak?
Yang aku lihat
Kau semakin tertutup, takut transparasi
Kau semakin psimis untuk bicara, ini program kita
Matamu semakin redup, tapi tak bertanggungjawab
Akupun melihat, detik waktu kepergianmu
Aku hanya melihat, mendengar
Tapi aku buta hati
Tak merasakan kepedihan juga kenikmatanmu
Selain kehampaan
Hambar, pahit tidak
Manispun tidak
Semoga kau sadar
Kau bukan apa-apa
Saat tidak lekas bangun dan buka mata
Saat itu aku ingin tahu
Manis pahitnya bersamamu
Untuk UNIGA, malang, 22 desember 2007
Andai dia bukan ibuku
Oleh: Ari eL Mohamed
Nadamu kian meninggi
Meledak-ledak seiring emosi
Riuh… memecah otakku
Memekakkan telingaku
Mendebur tiada putus
merajam semua!
Semua!!
Semua kata yang kosong
Mendakwaku sebagai tong kesalahan
Tiada kebenaran
Tiada kau benar
Ingin aku berlari
Berteriak pada Tuhan…
Sekencang puting beliung
Aku bukan dia, Tuhan…
Aku bukan dia, Tuhan…
Akupun tidak harus seperti dia
Aku tidak harus sama seperti dia!
Tapi itu tuntutanmu
Sesuai dengan yang ia suka
Diam…
Karena ternyata lidahku kelu
Otot kakiku lunglai
Tidak bisa berlari
Diam…
Aku hanya lunglai
Lunglai dalam guratan emosi yang terus berkobar
Lunglai dalam nada yang terus memekakkan telinga
Lunglai dalam syair-syair yang yang terus mencercaku
Melumatku dalam gemuruh emosional
Melumatku dalam perih menahan segalanya
Menelan detak dada yang ingin meledak
Tapi aku tetap tidak bisa
Selain hanya diam
Karena dia ibuku
Karena itu cara ibu menyayangiku
Rumah ini, 22 desember 2007
Belahan hidup
Oleh: Ari eL Mohamed
Separuh kehidupanku adalah milikmu
Tapi kau tetap kau
Aku tetap aku
Separuh itu karena kau ada, aku ada
Rumah ini, 22 desember 2007
Mengejar….
Oleh: Ari eL Mohamed
Mimpi itu menggumpal
Bias dalam ketidakpastian
Menari dalam guratan waktu
Bersolek dalam cahaya tak pasti
Kapan kau dapat ku sentuh?
Melihatmupun aku tak punya daya
Kau masih terus berlari
Seenaknya kau untuk berhenti!
Kau tau aku punya letih
Karena terangmu hanya lewat mimpi
Smenetara aku tetap gelisah
Karena kau terus berlari
Kamar pengab, 22 Nopember 2007
Buat aku
Oleh: Ari eL Mohamed
Maju!
Itu kata hati
Males!
Itu kata diri
Segera…
Itu kata mimpi
Nanti saja
Hasrat tetap di sini
Melangkah sajalah
Mengalir sajalah
Meniru sajalah
Berbuat sajalah
Tidur sajalah
Besok atau lusa
Aku sadar
Sekarang dan esok
Ternyata berbatas tipis
Saat terlelap dalam selimut malam
Kapan berubah?
Kamar pengab, 16 nopember 2007
Ke mana kau cinta?
Oleh: Ari eL Mohamed
Cinta itu kian mati
Sendiri di sela hati yang sepi
Cinta itu kian pudar
Mencair seiring pergantian musim
Cinta itu makin tiada
Terhempas asa yang tak kunjung bersua
Cinta itu kini makin jauh
Makin kecil, menghilang dalam pekat
Ke mana kau pergi, cinta?
Seperti apa kabarmu, cinta?
Tidakkah kau hadir lagi?
Dalam hati yang kini makin kerontang…
Cinta…
Di mana kau ??
16 nopember 2007