| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Psikologi Disaster
dari berbagai sumber di internet by Ari eL Mohamed
Rabu, 26 Desember 2007 22:10 WIB – Headline News TANGGUL SUNGAI LUSI DI DESA GETASREJO JEBOL
Purwodadi: Tanggul Sungai Lusi di Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan, Purwodadi, jebol. Akibatnya, jalan raya yang menghubungkan Kota Purwodadi, Jawa Tengah dengan Blora, Jawa Timur, terendam banjir.
Rabu, 26 Desember 2007 20:13 WIB – Banjir
SEMBILAN KECAMATAN DI PEKALONGAN TERENDAM BANJIR
Pekalongan: Lebih dari 400 rumah terendam air dengan ketinggian sekitar 50 hingga 100 centimeter. Banjir juga mengakibatkan sebuah desa terisolasi karena terkepung banjir.
Rabu, 26 Desember 2007 19:12 WIB – Banjir
DENPASAR JUGA TERGENANG BANJIR
Denpasar: Bencana banjir terjadi di sejumlah wilayah di Kota Denpasar, Bali. Sejumlah rumah warga terendam air dan beberapa ruas jalan utama macet.
Rabu, 26 Desember 2007 19:05 WIB – Banjir
JEMBATAN RUNTUH DI MAGETAN, 20 ORANG HILANG
Magetan: Jembatan Damjati di Desa Semen, Kecamatan Nguntorongadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, runtuh tak kuat menahan luapan air sungai. Sebanyak 20 orang warga hilang. Hanyut terbawa air sungai.
Rabu, 26 Desember 2007 18:04 WIB – Banjir
WILAYAH BARAT JAWA TIMUR DIKEPUNG BANJIR
Madiun: Banjir melumpuhkan Kota Madiun dan Ponorogo. Hampir seluruh jalan utama tergenang banjir. Sementara di Ngawi, selain banjir, longsor menimpa wilayah ini. Empat orang tewas akibat rumah mereka tertimbun longsor.
Rabu, 26 Desember 2007 16:11 WIB – Longsor
KORBAN LONGSOR DI KARANGANYAR MENJADI 71 ORANG
Karanganyar: Korban tewas terbanyak dari Desa Mogol, sebanyak 37 orang. Hingga sore, dari 37 orang yang tewas di desa tersebut, baru lima orang yang berhasil dievakuasi.
Rabu, 26 Desember 2007 15:10 WIB – Longsor
JUMLAH KORBAN LONGSOR KARANGANYAR MASIH SIMPANG SIUR
Karanganyar: Jumlah korban jiwa akibat tanah longsor di Karanganyar, Jateng, masih simpang siur. Pendataan korban menjadi rumit karena beberapa lokasi sangat terpencil dan sulit ditempuh.
Rabu, 26 Desember 2007 15:08 WIB – Longsor
APARAT PEMDA DAN TNI BERGERAK KE LOKASI BANJIR/LONGSOR DI JATENG
Serang: Pemerintah telah menyiapkan langkah mengatasi bencana banjir dan longsor. Presiden juga telah memeberi instruksi aparat untuk terjun ke lokasi bencana.
Rabu, 26 Desember 2007 14:11 WIB – Longsor
PRESIDEN PERINTAHKAN MENDAGRI KE KARANGANYAR
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memerintahkan Mendagri Mardiyanto untuk datang ke lokasi longsor di Karanganyar, Jateng, dan mengoordinasikan penanganan korban.
Rabu, 26 Desember 2007 14:08 WIB – Banjir
AKTIVITAS EKONOMI DI PURWODADI LUMPUH
Purwodadi: Banjir di sejumlah titik di Purwodadi akibat meluapnya Sungai Glugu yang melintasi kota ini. Ratusan warga mengungsi di Gedung Olahraga Purwodadi.
Rabu, 26 Desember 2007 11:08 WIB – Banjir
AIR ROB MERENDAM PERMUKIMAN WARGA MAJENE
Majene: Permukiman warga yang kembali terendam banjir air laut pasang terletak di Kelurahan Binanga, Kecamatan Banggae Timur dan Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae. Ketinggian air mencapai 30-50 cm.
Rabu, 26 Desember 2007 11:02 WIB – Banjir
BANJIR BANDANG MELANDA EMPAT KECAMATAN DI JOMBANG
Jombang: Banjir melanda Kecamatan Mojowarno, Bareng, Mojoagung dan Sumogito. Banjir di wilayah ini akibat tingginya curah hujan, sehingga air Sungai Kaligunting meluap.
Rabu, 26 Desember 2007 08:07 WIB – Banjir
BANJIR MERENDAM 10 KECAMATAN DI PONOROGO
Ponorogo: Ribuan rumah di 10 kecamatan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, hari ini, terendam banjir. Ketinggian air yang merendam rumah sudah mencapai dua meter dan diperkirakan terus naik karena hujan masih turun hingga pagi ini.
Rabu, 26 Desember 2007 06:10 WIB – Banjir
PULUHAN HEKTARE LAHAN PERTANIAN DI JEMBER TERENDAM BANJIR
Jember: Seluas 20 hektare lahan pertanian di Desa Ponjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Jatim, terendam banjir hingga 60 sentimeter. Lahan yang terendam, antara lain lahan padi dan tanaman cabe.
Rabu, 26 Desember 2007 06:05 WIB – Banjir
BANJIR ROB MELANDA PERMUKIMAN NELAYAN PAREPARE
Parepare: Banjir rob di antaranya terjadi di Kelurahan Sumpang Minangae, Kecamatan Bacukiki, Parepare. Banjir rob dengan ketinggian hingga 20 sentimeter ini sudah berlangsung sepekan.
Rabu, 26 Desember 2007 06:02 WIB – Badai
GELOMBANG BESAR MEMPERPARAH ABRASI DI PESISIR PANTAI MATARAM
Lombok: Gelombang besar yang menerjang pesisir barat Pulau Lombok terjadi dalam empat hari terakhir. Hampir separuh panjang garis pantai Kota Mataram terkikis abrasi pantai
Berikut Data Sementara Daerah Terkena Banjir, Walhi * Januari 2008
1. Kabupaten Bojonegoro
· korban meninggal 8 orang
· Sakit yang bisa didiagnosa : Batuk, gatal2, Masuk Angin.
· Data korban banjir sebanyak 283.945 jiwa, sedangkan yang mengungsi 157.106 jiwa tersebar 202 lokasi (sumber: Satlak penanggulangan bencana dan pengungsi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro)
· Harga kebutuhan pokok di berbagai tempat di Bojoengoro, termasuk di pasar besar dan pasar Banjarjo, minyak tanah yang biasanya Rp2.300 naik menjadi Rp3.500 per liter. Beras Ir 64 yang biasanya Rp5.300 naik mencapai Rp10.000 hingga Rp13.000 per kg. Bensin eceran yang biasanya Rp5.000 naik menjadi Rp9.000 per liter. Sementara itu, harga telur yang semula Rp10.000 naik menjadi Rp16.000 per kg.
· Kerugian sektor pertanian mencapai Rp93,3 miliar, akibat rusaknya 12.262 hektare areal tanaman padi dan sekitar 8.500 hektare diantaranya dalam kondisi puso (gagal panen). Sementara kerugian areal jagung tercatat 723 hektare dan palawija 22 hektar.
· Banjri merendam 20 desa di beberapa kecamatan antara lain: o Kecamatan Margomulyo o Kecamatan Dander o Kecamatan Ngraho(Karangnongko) o Kecamatan Padangan o Kecamatan Kaliditu o Kecamatan Trucuk (Guyangan) o Kecamatan Bojonegoro (Ledok Wetan, Ledok Kulon, Kauman- 28KK, Klangon,sukorjo,Mojokampung)
2. Kabupaten Magetan
· Banjir menggenangi 5 kecamatan
· Korban meninggal 2 orang
3. kabupaten Trenggalek
· korban meninggal 2 orang
4. Kabupaten Madiun 20 Warga di laporkan Hilang.
5. Kabupaten Ngawi
· Kecamatam Kwadungan (10 orang meninggal) : Pojok, Kendung, Dinden, Purwosari, Genengan, Sumengko, Simo
· Kecamatan Geneng (3 orang meninggal) : Klampisan, Kasreman, Sidarejo, Kersikan, Gempel, Kertoharjo, dan Klitik
· Dilaporkan sebanyak 50.000 orang mengungsi dari daerahnya ke wilayah yang lebih aman seperti di
· Korban jiwa sebanyak 19 orang
6. Kabupaten Jombang
· Banjir menggenangi 4 kecamatan
· sekitar 1000 warga mengungsi.
7. Kabupaten Lamongan
Banjir melanda 5 kecamatan:
· Kecamatan Babat
· Kecamatan Laren
· Kecamatan Maduran
· Kecamatan Karangbinangun
· Kecamatan Glagah 8. Kabupaten Tuban Di Kabupaten Tuban ditemukan 4 korban jiwa. Dua orang anak hanyut terseret derasnya arus bah, seorang pengungsi stres yang kemudian gantung diri di tempat pengungsian, dan seorang lagi tertimbun tebing.
9. Kabupaten Ponorogo
· Warga dari 15 kecamatan dievakuasi, jalan masuk ke dalam kota terputus, puluhan rumah roboh.
· Korban meninggal 4 orang
10. Kabupaten Pacitan
· Banjir melanda 3 kecamatan (Kecamatan Nawangan, Kecamatan Bandar, dan Kecamatan Arjosari bagian Selatan)
· korban meninggal 2 orang
· Banjir juga disebabkan tanggul sungai Grindulu di Desa Kembang, Kecamatan Kota perbatsan dengan Kecamatan Arjosari jebol, akibat meluap air sungai setelah hujan deras selama dua hari di daerah tersebut.
11. Kabupaten Gresik Banjir merendam 45 desa di 4 kecamatan (Dukun, Bungah, Manyar, Sedayu) Kecamatan Dukun:
· menenggelamkan 17 desa
· 2831 Rumah
· 621 Ha sawah
· 1732 ha tambak
· 25 gedung sekolah
· 26 tempat ibadah
· 3 pasar Kecamatan Bungah:
· 19 desa terendam air
· 1768 rumah
· 130 ha sawah
· 178 ha tambak
· 9 gedung sekolah Kecamatan Manyar:
· 5 desa terndam banjir
· 171 rumah
· 108 ha sawah
· 1 sekolah Kecamatan Sedayu :
· 4 desa
· 700 rumah
· 86 ha sawah
· 1540 ha tambak 8 gedung sekola
Difable dan Bencana Alam, Posted by cakfu @ 14:06 on July 26th 2006
Indonesia merupakan salah satu daerah rawan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor. Tidak dapat dipungkiri bahwa bencana alam tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan baik fisik maupun sosial. Namun ada satu hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kita adalah realita bahwa bencana alam selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan beberapa korban selamat menjadi difable (cacat). Banyak dari korban yang kemudian kehilangan kaki, lengan, atau fungsi fisik lainnya seperti fungsi penglihatan dan pendengaran selama proses penyelamatan diri.
Ada dua kelompok difable pada situasi bencana alam, pertama adalah mereka yang sudah menjadi difable sebelum terjadinya bencana (existed difable) dan kedua adalah mereka yang menjadi difable akibat dari terjadinya bencana (newly difable). Kedua kelompok ini memiliki persoalan yang hampir sama dalam situasi bencana, dimana fasilitas yang tersedia di barak pengungsian kebanyakan tidak ramah terhadap keberadaan mereka. Sehingga seringkali para difable mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dengan para korban selamat lainnya. Persoalan lain yang cukup penting adalah kenyataan bahwa negeri ini belum memiliki sistem peringatan dini (Early Warning System) dan sistem evakuasi bencana alam yang aksesibel terhadap keberadan difable. Sehingga konsekuensinya para difable menjadi kelompok yang beresiko tinggi saat terjadinya bencana. Banyak dari para difabel yang kemudian kehilangan alat bantu mereka seperti kursi roda, kruk dan tongkat petunjuk bagi mereka yang difable netra.
Permasalahan lain yang dihadapi difabel adalah kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri pada situasi panik sangatlah terbatas karena tidak tersedianya alat transportasi yang aksesibel bagi mereka. Selain itu kenyataan bahwa sistem evakuasi bencana yang ada belum memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan termasuk di dalamnya difable. Sistem evakuasi bencana yang ada masih berdasar pada evakuasi terhadap masyarakat normal. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem evakuasi bencana yang memperhitungkan keberadaan para kelompok rentan (vulnerable group); anak-anak, ibu hamil, lanjut usia dan difable.
Seperti pada kasus Tsunami di Aceh dan beberapa kasus bencana alam di tempat lain dimana sebagian dari korban selamat banyak yang kemudian menjadi difable. Namun keberadaan mereka paska terjadinya bencana kurang mendapatkan perhatian baik dari lembaga internasional maupun pemerintah sendiri. Kondisi para difabel paska bencana cukup parah baik secara sosial maupun psikologis. Banyak dari mereka yang kemudian mengalami trauma berat dan merasa rendah diri akibat dari kenyataan bahwa kondisi tubuh mereka tidak selengkap seperti dulu. Akibatnya para korban difabel tersebut yang terisolasi dalam rumah.
Selama ini saat pelaksanaan evakuasi bencana, para korban seringkali ditempatkan di penampungan sementara seperti di sekolah, kantor kecamatan, atau lapangan yang tentu kondisinya sungguh tidak layak untuk para difable. Keberadaan sistem sanitasi, struktur bangunan, dan kondisi lingkungan fisik lainnya jelas menyulitkan para difable untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari.
Selain itu sistem distribusi bantuan di tempat pengungsian selama ini juga kurang dapat memberikan akses terhadap keberadaan para difable. Seperti misalnya, distribusi bantuan makanan yang seringkali dilakukan dengan cara mengedrop makanan dengan helikopter menimbulkan situasi saling berebut diantara para pengungsi. Kondisi semacam ini jelas tidak menguntungkan bagi para kelompok rentan seperti wanita, lanjut usia, anak-anak termasuk juga para difable. Mereka jelas tersingkirkan karena tidak mampu mengakses bantuan yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.
Keberadaan para kelompok rentan (vulnerable group) termasuk difable seharusnya menjadi referensi utama dalam penanganan korban pada situasi bencana. Hal ini disebabkan jumlah korban selamat yang kemudian menjadi difable tidak sedikit. Selain itu sangat terkait dengan bagaimana sistem distribusi bantuan, pembangunan infrastruktur baik pada program rekontruksi (reconstruction program) maupun pada program pengembangan masyarakatnya (development program). Seringkali yang terjadi selama ini bahwa program-program yang dirancang untuk merespon bencana kurang memperhatikan keberadaan para difable. Sehingga banyak para difable yang kemudian termarjinalisasi dan terisolasi paska terjadinya bencana alam.
Penanganan yang Komprehensif
Para difable atau korban selamat yang kemudian menjadi difable saat terjadinya bencana mengalami persoalan dalam penyusaian diri terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang ada setelah terjadinya bencana. Perubahan fisik yang terjadi selain menimbulkan trauma psikologis juga menimbulkan persoalan sosial bagi mereka. Seringkali kondisi tersebut memunculkan konflik batin bagi korban yang bersangkutan untuk bisa menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka sudah tidak seperti dulu.
Ketika seseorang menjadi difable, maka dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian fungsi tubuhnya hilang, itu artinya dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya mereka miliki. Berbeda dengan para korban lain yang dengan begitu cepat dapat menyesuaikan diri, para difable memiliki kebutuhan khusus untuk dapat segera kembali melakukan aktifitas normalnya sehari-hari. Untuk itu maka penanganan paska bencana harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai sudut pandang, baik dari segi infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial. Dengan begitu persoalan – persoalan yang dihadapi oleh difable paska bencana dapat diminimalisir.
Dalam perencanaan rekonstruksi bangunan paska terjadinya bencana alam semaksimal mungkin harus mempertimbangkan faktor aksesibilitas sehingga fasilitas yang dibangun dapat mengakomodasi keberadaan para difable. Hal ini juga berlaku pada saat emergency respond di daerah pengungsian, dimana fasilitas yang dibangun harus juga memperhatikan keberadaan para difable sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Selain itu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan adalah pertama,sistem komunikasi yang aksesible. Sistem komunikasi dalam situasi bencana memainkan peranan penting dalam keselamatan korban. Selama ini kita masih banyak menggunakan sistem komunikasi audio seperti alarm untuk menyampaikan peringatan terjadinya bahaya bencana. Sistem seperti ini jelas tidak dapat diakses oleh mereka kelompok difable rungu. Sehingga memang sudah seharusnya didesain sebuah sistem komunikasi audio visual sehingga memungkinkan para difable rungu untuk mengaksesnya. Kedua desain sistem evakuasi bencana yang aksesible sehingga memungkinkan untuk mengevakuasi para difable yang memiliki persoalan mobilitas di situasi bencana. Ketiga, tentang bagaimana membangun sistem distribusi bantuan yang merata dan memungkinkan bantuan tersebut dapat diterima langsung oleh yang membutuhkan. Sistem distribusi bantuan yang ada sekarang sangat tidak memungkinkan bagi para difable dan kelompok rentan lain untuk mengaksesnya. Sehingga kondisi ini menyebabkan para difable seringkali tidak mendapatkan jatah mereka kecuali hanya menggantungkan dari belas kasihan teman dan saudara.
Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam situasi bencana adalah dimensi ekonomi.Banyak dari para korban bencana yang kemudian kehilangan mata pencaharian paska terjadinya bencana karena rusaknya infrastruktur dimana mereka dulu bekerja. Selain itu hilangnya mata pencaharian juga disebabkan oleh kondisi sebagian mereka yang menjadi difable sehingga kehilangan fungsi tubuhnya untuk melakukan aktifitas bekerja sebagaimana sebelumnya. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem pengembangan ekonomi bagi para korban bencana yang bertumpu pada semangat kewirausahaan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi lokal yang dimiliki daerah. Untuk itu pemberian bekal ketrampilan untuk mengolah potensi lokal harus segera dilakukan serta segera menghentikan pemberian bantuan yang bersifat karitatif. Karena pemberian bantuan karitatif dalam jangka waktu lama hanya akan membuat para korban menjadi tergantung dan tidak mandiri.
Dimensi terakhir adalah dimensi sosial psikologi. Dimana dimensi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya para difable di masyarakat. Sementara ini masih banyak pandangan di masyarakat bahwa difable merupakan sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan perlu untuk dikasiani atau disantuni. Sebagian para difable sendiri juga masih memandang difable sebagai kondisi yang memalukan sehingga ada kecendrungan dari para difable untuk mengurung diri di rumah. Pandangan-pandangan tersebut menjadi telah menjadi hambatan sosial bagi para difable untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat secara penuh. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah program dan aktifitas yang memberi kesempatan bagi para difable untuk berpartisipasi secara terbuka dalam aktifitas sosial di masyarakat.
Kita memang tidak dapat mengelak terhadap terjadinya bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana kita dapat meminimalisir penderitaan yang dialami oleh para korban dengan memberikan pelayanan bantuan sebaik-baiknya.
Gangguan Psikologis pada Warga di Aceh Meningkat ,Senin, 24 Januari, 2005 oleh: Siswono
Gizi.net – Tim medis Jepang melaporkan, saat ini, gangguan psikologis seperti insomnia, kecemasan, sakit kepala, palpitasi, dan hipertentilasi pada warga yang selamat dalam bencana gempa dan tsunami di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), jumlahnya mengalami peningkatan cukup signifikan.
Siaran pers Media Center Lembaga Informasi Nasional (LIN) yang diperoleh Antara di Jakarta, kemarin, menyebutkan, berdasarkan laporan Posko Departemen Kesehatan (Depkes), tim medis Jepang tersebut juga tidak menemukan sama sekali epidemi penyakit di Aceh.
Posko Depkes juga melaporkan bahwa Rumah Sakit (RS) Jiwa Banda Aceh masih membutuhkan tenaga dokter jiwa, perawat, dan tenaga gizi, RS Adam Malik dan RS Zainoel Abidin masing-masing membutuhkan dua bronchscopy untuk dewasa dan anak-anak.
Imunisasi campak
Sementara itu, dari 149.948 anak usia 6 bulan sampai dengan 15 tahun di daerah bencana gempa dan tsunami di Aceh yang menjadi sasaran imunisasi campak, sampai dengan 19 Januari 2005 telah berhasil diimunisasi 52.389 orang (34,9%).
Di Kabupaten Simeulue cakupannya telah mencapai 73%, Aceh Utara (10,9%) Bireuen (17,9%), Aceh Timur (17,7%), Langsa (5,7%), dan Lhok Seumawe (149%), Aceh Utara (109%), sedangkan Pide, Nagan Raya, Sabang, dan Meulaboh belum ada laporan.
Selain itu, cakupan vitamin A biru untuk anak usia 6 bulan – 1 tahun sebanyak 228 jiwa dan vitamin A merah (untuk anak usia) 1 tahun – 5 tahun mencapai 13.048 anak.
Menurut Doti Indrasanto, Kepala Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Depkes akhir pekan lalu mengatakan, imunisasi campak tersebut diberikan mengingat di tempat-tempat pengungsian sangat rawan terhadap kejadian luar biasa (KLB) campak.
Pasalnya, kata dia, di antara anak-anak pengungsi terdapat kelompok yang rentan terhadap penyakit campak dan lebih rentan lagi karena adanya penurunan status kesehatan, terutama karena masalah gizi dan sanitasi yang pada umumnya buruk. Karena, tanpa dilakukan imunisasi, jelas Doti, penyakit tersebut akan menyerang hampir setiap anak sehingga berpotensi KLB.
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan kematian yang diakibatkan oleh komplikasi seperti radang paru, berak-berak (diare), radang telinga (otitis media), dan radang otak (ensefalitis), terutama pada anak dengan gizi buruk.
Sementara itu, menyangkut jumlah korban meninggal dunia, hingga 22 Januari 2005 pukul 05.00 WIB, Posko Depkes mencatat 166.760 jiwa meninggal dunia yang 166.520 jiwa di NAD dan 240 jiwa di Nias Sumut. Korban luka yang menjalani rawat inap tercatat 2.552 jiwa dan 24.880 lainnya rawat jalan.
Penyakit yang menonjol di wilayah bencana tersebut hingga kini adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan gangguan kulit. (V-2)
12000 Orang Butuh Penanganan Psikologis Jangka Waktu Lama, June 16th, 2006
Inilah asumsi yang ditarik Tim Crisis and Recovery Center, Fakultas Psikologi UGM bahwa 2,5% dari populasi yang mengalami beban mental pasca gempa bumi (27/5) akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri pada jangka menengah dan panjang. Dengan demikian kurang lebih 30 ribu korban selamat akan memerlukan bantuan psikologis mulai minggu ketiga sampai kurang lebih tiga bulan kemudian. Selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah 1% dari populasi, atau kurang lebih 12 ribu orang yang mengalami kesulitan psikologis pada masa yang lebih lama.
Asumsi ini disampaikan Crisis And Recovery Center (CRC) Fakultas Psikologi UGM, saat Presentasi Program Penanganan Bencana Alam, hari Jum’at (16/6) di ruang fakultas setempat.
Seperti diungkap Koordinator CRC Fakultas Psikologi UGM Dra Noor Rahmani MSc, bahwa prevalensi permasalahan psikologis akan lebih tinggi pada kelompok rentan. Menurutnya, yang pertama adalah korban yang mengalami luka-luka. Sebagian besar dari mereka luka patah tulang. Untuk seluruh wilayah bencana mencapai sekitar 37 ribu. “Mereka akan mengalami kesulitan besar dalam penyesuaian diri sekembali dari rumah sakit. Kemungkinan besar mereka berasal dari rumah-rumah yang kondisinya rusak berat atau roboh”, ujar Noor Rahmani saat presentasi.
Selain itu, dijelaskan Noor Rahmani bahwa sebagian diantara mereka akan mengalami kecacatan atau kelumpuhan. Tentu saja, beban psikologis tidak saja dirasakan oleh penderita, namun juga oleh keluarganya. Pada penderita, beban psikologis tersebut akan menurunkan daya tahan tubuh, yang berdampak pada proses pemulihan yang lebih lama atau bahkan memperparah kondisi penyakit.
“Pada kelompok korban luka-luka berusia dewasa, penurunan kemampuan untuk menyediakan nafkah atau menjalankan tugas-tugas pengelolaan rumah tangga mungkin akan menimbulkan permasalahan psikologis tersendiri”, ungkap Dosen Fakultas Psikologi UGM.
Dalam pandangan Noor Rahmani, ada kelompok rentan yang lain, dimana mereka telah memiliki masalah-masalah psikologis sebelum bencana terjadi. Selain itu adalah ibu-ibu hamil dan bayi, serta anak-anak di bawah usia sekolah. “Anak-anak yang bersekolah pada tahun terakhir tingkat sekolahnya, yakni kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA juga merupakan kelompok spesifik yang memerlukan perhatian khusus”, lanjut Noor Rahmani. Demikian halnya dengan lansia yang selalu menjadi kelompok rentan dan perlu mendapat perhatian khsusus.
Oleh karena itu, untuk usaha jangka panjang sumberdaya untuk membantu kesehatan mental dan psikososial diutamakan berasal dari berbagai universitas yang memiliki fakultas atau program studi psikologi. Termasuk Fakultas psikologi UGM.
Dalam konteks ini, kata Noor Rahmani bahwa sistim rujukan, institusi profesi psikiatri semestinya juga tersedia di wilayah sekitar. Yang paling utama adalah Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UGM dan RS Dr Sardjito. Selain itu, RSJ Yogyakarta (Pakem), Klaten (Wedi), Solo dan Magelang. “Dengan memperhitungkan tersedianya kapasitas tersebut, dapat diperkirakan bahwa terdapat cukup potensi lokal untuk menangani permasalahan-permasalahan kesehatan mental dan psikososial”, tandas Noor Rahmani (Humas UGM).
Intervensi Psikologis di Sekolah Darurat, June 13th, 2006 by daNy_goNz
“Rumah dan sekolah boleh hancur tetapi sekolah harus jalan terus”
Program Sekolah Tenda, Sekolah Darurat, ataupun Temporary School merupakan solusi alternative pasca gempa untuk mengatasi hancurnya kurang lebih 526 bangunan sekolah.
1. Tujuan jangka pendek yaitu memberikan intervensi psikologis bagi siswa dan guru terhadap stress dan trauma akibat gempa.
a. Stimulasi emosi senang atau kegembiraan untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan. Aktivitas bermain dengan outdoor activities dan berolah raga untuk mengurangi ketegangan siswa dan menggantikannya dengan kegembiraan sehingga siswa tidak mengalami gangguan psikologis berlarut-larut, yang dapat menyebabkan kesulitan belajar pada siswa, sehingga siswa sulit konsentrasi dan malas belajar.b.Tahap kedua, stimulasi kognisi untuk menumbuhkan daya kreativitas.c.Stimulasi membangkitkan kepedulian pada lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan dengan mengajak anak-anak bermain permainan yang berlandaskan nilai-nilai masyarakat Jawa, gotong royong sehingga permainan berbasiskan tim sesuai untuk hal ini. Selama proses bermain dan belajar bukan dimaksudkan mengambil alih peran guru. Guru diharapkan berpartisipasi aktif.
2. Tujuan jangka menengah adalah menyiapkan guru dalam mengajar di dalam tenda yang meliputi:
a. Ketrampilan mengajar di dalam tenda yang tentu saja berbeda dengan di dalam kelas. Active learning merupakan keterampilan yang mutlak sehingga eksplorasi sumber belajar selain guru dapat dilakukan. Tentu saja alam sekitar dapat dijadikan sumber belajar.b. Ketrampilan psikologis untuk menangani siswa korban gempa. Keterampilan pengelolaan diri (self-management), memahami kharakteristik siswa korban gempa baik dilihat dari budaya dan psikologis, bagaimana mendeteksi trauma bagi siswa SD sampai SMA, Ketrampilan ini diharapkan dapat membantu siswa dalam 2 hal yaitu kesulitan belajar dan stress/ trauma pasca gempa. Sensitivitas guru terhadap pola perilaku siswa korban gempa ditingkatkan sehingga ketika siswa menunjukkan gangguan psikologis dengan intensitas meningkat, siswa akan ditangani Psikolog.
3. Tujuan Jangka Panjang
a. Pendampingan pada SD yang telah dilakukan sejak 5 – 29 Juni 2006 akan terus dilanjutkan. Setiap minggu akan ada 25 sekolah yang didampingi para relawan.b. Pelatihan keterampilan psikologis yang akan dilaksanakan pada saat liburan sekolah selama 18 jam dengan melibatkan guru-guru dari sekolah yang bangunan hancur dan rusak berat.
Pelaksana:
Pendampingan dilakukan kurang lebih 200 mahasiswa fakultas Psikologi se DIY yang telah diberikan bekal selama 3 hari.Konsep SD yang disusun bersama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Forum Bersama Fakultas Psikologi se DIY ini mudah-mudahan memberikan inspirasi berbagai pihak yang menyelenggarakan ide serupa.Kontak: avinpsi@ugm.ac.id
|
Memberdayakan Korban Bencana, 5 Januari 2008 Oleh Reza Indragiri Amriel
Menurutnya, kebanyakan tenaga psikolog yang terjun ke kawasan bencana alam masih saja bertitik tolak dari dua asumsi. Pertama, kebanyakan korban bencana mengidap guncangan psikologis yang tergolong parah. Oleh karenanya, kedua, pendekatan para psikolog itu menjadi berorientasi sangat individual. Kehadiran tenaga profesional di wilayah yang diterjang bencana memang tidak sepatutnya dikesampingkan begitu saja. Kendati demikian, para profesional semacam psikolog tidak sepatutnya beranggapan bahwa hanya merekalah yang dapat memberikan pertolongan yang sebenarnya kepada korban. Pada saat sama, masyarakat juga tidak semestinya bergantung (baca: pasrah) pada intervensi para profesional itu. Artikel ini memberikan gambaran ringkas tentang bentuk antisipasi yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat. Tema ini sangat relevan untuk diangkat, terlebih ketika Badan Meteorologi dan Geofisika memprediksi terjadinya rentetan fenomena alam yang bisa jadi tidak bersahabat dengan masyarakat. Tentu, langkah-langkah antisipasi itu akan semakin efektif, terlebih dalam situasi darurat bencana, apabila telah dikemas dalam proses kerja yang sistematis dan berbasis pada pengetahuan yang memadai. Menurut banyak psikolog, termasuk Vernberg (2002), yang intensif menangani para korban bencana alam, keberhasilan penanganan individu korban bencana sangat ditentukan oleh pemahaman para penolong (helpers, rescuers) akan dinamika psikologis para korban. Secara umum, dinamika psikologis itu dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yakni akut, pasca-kejadian, serta pemulihan dan rekonstruksi. Psikolog, pekerja sosial, dokter, dan profesional lainnya dapat memberikan kontribusi positif. Namun, karena kebanyakan korban sebatas pada distress ringan, maka pada dasarnya masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri sebagai gugus terdepan mandiri pemberi pertolongan. Dengan kata lain, masyarakat dapat bergegas memberikan pertolongan tanpa harus menunggu armada bantuan datang dari lokasi lain. Ragam bantuan yang dapat diberdayakan lebih pada langkah-langkah normalisasi kehidupan dan minimalisasi berulangnya terpaan bencana, terutama bagi para anak-anak. Konkretnya, berbeda dengan pandangan awam bahwa semua aktivitas harus dihentikan setelah terjadinya bencana, gugus bantuan justru perlu mengupayakan agar kegiatan rutin anak-anak dapat berlangsung walaupun dengan format sesederhana mungkin. Aktivitas belajar tidak harus dihentikan, meskipun lokasinya tidak di sekolah dan substansinya lebih ditujukan untuk memecah perhatian anak agar tidak berkutat pada bencana yang baru mereka alami. Ingat, bagi anak-anak, bermain adalah metode belajar paling efektif! Oleh karena itu, kendati dinamai ‘’aktivitas belajar’’, namun bobot keseriusan semestinya digantikan dengan kegembiraan (fun). Nilai bukan lagi sasaran. Bahkan lewat kegiatan bermain itulah, para anggota gugus bantuan yang terlatih akan dapat mengidentifikasi kondisi psikologis anak-anak. Data dari mereka bisa dimanfaatkan pada tahap bantuan berikutnya, jika diperlukan. Pasca-kejadian Penanganan yang bersifat therapeutic (penyembuhan) secara massal, jika diperlukan, bisa pula diselenggarakan. Dialog secara kolektif (bukan individual) antar-sesama orang dewasa dapat disertakan. Terapi massal lainnya, misalnya relaksasi, mengaktifkan sanggar kesenian setempat, menyulam bersama, membacakan buku cerita untuk anak-anak, dan sebagainya. Pemulihan dan Rekonstruksi Kita juga berharap, sebagian besar korban sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk melepaskan diri dari kecemasan berlebihan akan bencana. Hanya korban yang masih bergelut dengan guncangan psikis yang berkepanjangan, perhatian khusus perlu diberikan. Langkah therapeutic menjadi bersifat lebih individual. Misalnya, satu orang psikolog berkonsentrasi menangani satu atau sejumlah kecil korban saja. Si psikolog yang nantinya memertimbangkan jenis penanganan lebih serius yang sekiranya perlu didapatkan korban tersebut. Para korban yang relatif sudah lebih normal kondisi psikologisnya, dapat dibantu untuk mempertahankan stabilitas psikis mereka melalui penanganan berbasis kerja (vocational treatment). Intinya, libatkan mereka dalam kesibukan, termasuk bergabung ke dalam gugus bantuan. Ini tidak hanya menggerakkan fisik mereka, tetapi-lebih penting lagi-memperkokoh kepercayaan diri mereka bahwa mereka adalah the real survivors karena telah berhasil lolos dari terjangan bencana. Dari uraian di atas, terlihat bahwa masyarakat korban bencana alam tetap memiliki kemampuan untuk membantu diri mereka sendiri sejak dini. Sekali lagi, mengutip hadits Rasulullah Muhammad SAW, seikat lidi lebih mampu membersihkan debu daripada sebatang lidi. |
Memompa Semangat Hidup Anak Korban Bencana, Oktober 6, 2007 Oleh SITTA R MUSLIMAH
Artikel Ini DIpublikasikan Kompas Jawa Barat, Kamis, 08 maret 2007
Sering terjadinya bencana alam di musim hujan disinyalir dapat mengakibatkan munculnya berbagai gangguan psikologis pada warga sekitar, terutama anak-anak usia 12 tahun ke bawah. Sebab, kondisi anak-anak sedang berada dalam tahap yang labil dan rapuh.
Oleh karena itu, mereka akan mudah mengidap trauma psikologis yang berimbas pada terganggunya tugas perkembangan, yakni belajar dan bermain.
Dengan kondisi demikian, perasaan dalam diri anak-anak pascabencana kerap terproyeksikan menjadi sebentuk kecemasan kalau lingkungan keluarga dan sosial sangat berlebihan memproteksi segala aktivitas mereka. Ketika anak-anak hendak bermain, misalnya, orangtua kerap kali melarang mereka untuk keluar dari tenda pengungsian karena khawatir akan keselamatannya.
Memang logis orangtua merasa khawatir akan keselamatan jiwa buah hatinya. Namun, wujud kekhawatiran yang diproyeksikan secara berlebihan itu tentunya akan memicu ketertekanan jiwa. Seorang anak dengan perhatian berlebihan akan belajar membedakan perbuatan atau perasaan yang disetujui dan tidak disetujui oleh lingkungan keluarga dan sosial. Keadaan ini tentu saja akan memicu timbulnya konsep diri yang tidak selaras dengan kepribadian asli anak sehingga mereka berusaha menjadi seperti yang diinginkan orang lain. Mereka akan berubah menjadi generasi yang tidak mandiri, kritis, dan kreatif.
Dari fenomena tersebut, perlu kiranya penanggulangan korban bencana lebih memfokuskan pemberian bantuan bagi perkembangan psikologis anak-anak. Sebab, seperti yang diungkapkan para ahli psikologi, masa anak-anak merupakan masa yang paling menentukan. Tidak terpenuhinya tugas perkembangan anak-anak pada masa ini disinyalir bisa menghasilkan manusia yang rapuh dan tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Membangun optimisme
Maka, menciptakan generasi yang optimistis menjadi urgen diperhatikan oleh setiap elemen bangsa, mulai dari agamawan, negarawan, hartawan, cendekiawan, sampai guru di sekolah. Ketertekanan jiwa anak-anak pascabencana adalah agenda besar yang mesti segera ditanggulangi dengan aneka ragam kegiatan konseling suportif. Hal itu dimaksudkan untuk bisa mengembalikan tugas-tugas perkembangan jiwa anak yang terhambat oleh adanya bencana sehingga dapat menciptakan generasi yang sehat secara psikologis.
Hal tersebut akan tercipta kalau saja setiap anak memiliki secercah optimisme dalam mengarungi kehidupan. Namun, sesaat setelah datangnya bencana, optimisme seorang anak biasanya akan terganggu, malahan sampai menghilang, kalau tidak segera mendapatkan bantuan.
Dari sinilah pemberian bantuan berupa penyuluhan, terapi psikologis, dan bimbingan konseling yang terpusat pada anak (client centered) mesti diprioritaskan. Hal ini bertujuan mengembalikan keceriaan anak-anak sebagai ciri khas dari perkembangan jiwanya sehingga optimisme yang direpresi ke titik terbawah alam bawah sadarnya sedikit demi sedikit akan menyeruak ke permukaan.
Apalagi dengan kondisi daerah yang porak poranda, tentunya mereka bakal mengidap gejala-gejala traumatik, misalnya rasa khawatir berlebihan, ketakutan yang tak kunjung mereda, dan ketidaktenangan beraktivitas. Akibatnya, kualitas hidup anak-anak di wilayah bencana berada di ambang batas minimal dan bisa memengaruhi cara pandang mereka terhadap hidup. Bahkan, ketika tidak diberikan proses bantuan untuk menyembuhkan kondisi traumatik pascabencana, anak-anak dikhawatirkan akan mengalami hambatan perkembangan psikologis.
Sebab, kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi akan mengakibatkan timbulnya trauma yang mengganggu. Hal ini kemudian tercermin pada rasa takut terhadap bahaya nyata di luar dirinya, termasuk bahaya ancaman bencana susulan.
Maka, lingkungan keluarga dan sosial berperan besar dalam membangkitkan kembali semangat hidup anak-anak dengan ragam bantuan penyembuhan kuratif dan suportif. Cara yang bisa ditempuh antara lain membacakan kisah, mendongeng, berdialog secara suportif, serta memberikan permainan-permainan yang menghibur dan mendidik.
Peningkatan kesadaran diri
Meningkatnya kesadaran diri secara bebas dan mengalir adalah tujuan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam proses self supportive. Kesadaran anak-anak korban bencana mesti dirangsang guna mewujudkan pemahaman penuh terhadap segala sesuatu yang menimpa dirinya. Kesadaran itu bisa berupa persepsi tentang diri, memahami alur pemikiran, serta menerima tekanan-tekanan kuat pada konteks kedisinian dan kekinian.
Oleh karena itu, upaya pembenahan dan pemompaan semangat hidup terhadap diri anak-anak pascabencana merupakan salah satu tahap awal menyembuhkan “luka memar” psikologis yang dideritanya. Melakukan komunikasi dialogis yang suportif sebagai upaya penciptaan coping style ketika anak-anak menghadapi ancaman bencana juga perlu dipraktikkan. Selain itu, dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial berperan sekali bagi perkembangan psikologis anak-anak yang sedang diliputi ketakutan, kecemasan, dan ketidaktenteraman hidup.
Hanya dengan dukungan yang suportif dari keluarga dan lingkungan sosial seorang anak akan menemukan kembali “ruh” hidupnya yang mengendap dan bersembunyi di balik ketaksadaran represif. Apalagi, dukungan keluarga dan sosial itu dilakukan secara dialogis menggunakan metode role playing, permainan menghibur dan mendidik, serta berbagi pengalaman dengan mereka melalui cerita-cerita teladan. Tentu saja hal itu akan lebih efektif dan efisien dalam mengembalikan keterpurukan jiwa anak-anak pada posisi sediakala.
Terakhir, pembentukan lingkungan keluarga dan sosial yang saling mendukung, misalnya antara keluarga, individu masyarakat, LSM, dan pemerintah, perlu digalakkan kembali. Sebab, ada pepatah agama yang mengatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaah putih bersih. Adapun baik atau buruk karakter kepribadian anak pada rentang masa perkembangan ditentukan oleh lingkungan keluarga dan sosial.
SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Masalah Perkembangan Anak Usia Dini
PELAYANAN PSIKOLOGIS PASKA BENCANA TRAUMATIK (PPPBT) POST-TRAUMATIC DISASTER PSYCHOLOGICAL SERVICES, Oleh: Totok S. Wiryasaputra*
Pengantar
1. Secara kebetulan dua hari yang lalu pada tanggal 18 Januari 2004 petang, seorang reporter televisi swasta di Banda Aceh (saya tidak ingat persisnya di mana) menayangkan seorang pimpinan posko psikososial (mungkin seorang dokter ahli jiwa, tak dijelaskan) yang mengatakan bahwa di pos bantuan psikososialnya selama ini hanya didatangi oleh 10 orang pasien. Selanjutnya dengan semangat dia mengatakan tinggal 1 orang yang dirawatinapkan. Begitu sedikitkah orang yang mengalami gangguan psikososial paska bencana gempa bumi dan gelombang tsunami (untuk selanjutnya saya singkat GBGT)? Kalau kita mengamati dengan seksama kenyataan bencana yang sangat ganas, tragis, kompleks dan masif, apakah tayangan posko psikososial tadi menggambarkan kenyataan yang ada? Begitu tingggikah tingkat kekenyalan (resiliensi) psikologis orang Aceh? Jangan-jangan tayangan tadi justru menggambarkan suatu ketidakberesan yang lain? Misalnya dalam orientasi dan pendekatan yang digunakan oleh layanan psikososial tersebut?
2. Namun tak lama setelah itu petugas posko tadi mengatakan adanya kebutuhan tambahan tenaga profesional psikososial. Kalau begitu untuk apa tambahan tenaga itu? Benarkah dia membutuhkan tenaga tambahan bila pasien di poskonya sangat minim dan tidak sebanding dengan kenyataan bencana yang begitu ganas, tragis, kompleks dan masif itu? Atau dia sedang bingung antara orientasi dan pendekatan yang dia gunakan dengan kenyataan kebutuhan yang begitu besar di luar sana (Tempo, 16 Januari 2005)? Di satu pihak petugas posko itu melihat kebutuhan yang begitu masif di luar sana, namun di lain pihak tidak mau beranjak dari pendekatan konvensionalnya yang bersifat individual, klinis, patologis dan pasif menunggu orang datang? Berputar-putar di sekitar individu? Meskipun nama poskonya adalah psikososial, ketika menghadapi trauma sosio-psikologis yang sangat ganas, tragis, kompleks dan masif di bumi Aceh sekali pun tidak tergerak keluar dari kandang dan menara gadingnya?
3. Orientasi dan pendekatan yang bersifat patologis dan klinis tadi agaknya juga tampak nyata ketika Program Sigi dari sebuah TV lain (mungkin SCTV?) pada tanggal 20 malam melaporkan bagaimana RS Jiwa Medan mencampur begitu saja pasien-pasien depresif kurban GBGT dengan pasien lain yang depresif. Menurut Kepala RS Jiwa Medan (kalau betul, karena tak ada penjelasan – seorang perempuan), dia melakukan demikian karena jenis penyakit dan tingkat kekronisannya sama. Dari sisi psikopatologis klinis mungkin mereka semua bisa dianggap sama. Namun bagaimana dengan konteks eco-psiko-sosio-religio-nya?
4. Tayangan-tayangan program televisi tadi sungguh menggelitik hati saya sebagai seorang konselor psikologis untuk merenung dan menulis bagaimana seharusnya kita menangani persoalan sosio-psikologis paska bencana GBGT di Aceh dan Nias. Saya coba buka dan baca sana-sini, namun tidak menemukan ulasan tertulis yang lengkap dan layak dijadikan sebagai bahan acuan dasar. Maksud saya dalam bahasa Indonesia. Di berbagai negara lain, bahkan negara kecil seperti Srilanka saja telah memiliki semacam “guidelines, petunjuk, pedoman, manual” untuk menangani berbagai permasalahan bencana alam. Petunjuk semacam biasanya terintegrasi (integrated) dan menyeluruh (holistic, utuh); menyangkut semua aspek yang terkait. Misalnya menyangkut koordinasi yang dilakukan bila alat komunikasi dan transportasi blackout; cara bantuan materi dilakukan; cara menangani anak-amak terlantar; cara rehabilitasi fisik; cara rehabilitasi psikososial; cara peliputan media dilakukan bukan untuk membatasi namun agar informasi media ke masyarakat luas tidak menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang atau tidak menimbulkan disaster jilid kedua atau ketiga; perekrutan dan koordinasi antar sukarelawan/wati; cara bantuan lain diberikan. Dan tak kalah pentingnya di beberapa negara lain hal itu bukan hanya dalam tulisan, melainkan juga diterapkan dalam bentuk “drill, simulasi” secara reguler, misalnya setahun sekali; setiap kali setelah disaster drill dilakukan semua pihak duduk bersama saling memberi asupan – melakukan evaluasi dan perbaikan bila perlu untuk disaster drill berikutnya. Dari segi psikososial, biasanya petunjuk dibuat oleh departemen kesehatan.
5. Saya kurang tahu pasti apakah negara kita sudah memiliki petunjuk semacam? Mungkin saya tidak memiliki informasi yang lengkap, di mana pedoman semacam dapat ditemukan. Paling tidak, misalnya setiap kali saya ke Kantor Depsos atau DepKes, saya tidak melihat brosur atau sejenisnya yang dapat saya baca. Kalau belum kini waktunya yang tepat untuk mengambil pelajaran dari Aceh dan Nias. .
6. Sayang saya sendiri tak bisa terlibat langsung di kedua daerah itu sebagai seorang volunteer karena kesibukan tugas sehari-hari dan terlebih lagi karena usia saya yang sudah memasuki tahap “ashar” (empty nest). Dengan pengalaman saya beberapa kali terlibat dalam disaster drill terpadu seluruh kota (simulasi menangani bencana alam), khususnya menangani aspek post-traumatic stress disorder (PTSD) di Jacksonville, Flrorida, AS; menangani kasus-kasus kedukaan keluarga marinir yang gugur secara massal sebagai akibat peperangan dan kecelakaan kapal perang; menangani berbagai kasus kedukaan di konteks klinis rumah sakit dan masyarakat di berbagai daerah; perjalanan dan observasi-partisipatif ke Timor Leste paska jajag pendapat; saya memberanikan diri menulis artikel sederhana ini. Kemudian saya melengkapinya dengan membaca literatur baru (buku dan situs web) dan kontak saya dengan beberapa kolega profesi konseling klinis di luar negeri melalui email. Insya Allah, tulisan ini berguna bagi penanganan paska bencana GBGT di Aceh dan Nias, serta bencana-bencana lain yang bisa saja terjadi di tempat yang sama atau mungkin di tempat lain pada waktu yang akan datang.
7. Semoga kita semua minimal dapat mengurangi atau mencegah dampak yang lebih parah atau syukur alkamdullilah kalau dapat menghilangkan tragedi ikutan lain (saya sebut sebagai tragedi jilid kedua dan ketiga).
Peristilahan, Orientasi dan Pendekatan
8. Dalam layanan profesional psikologi (seperti psikiatri yang ini setengah medis; psikologi klinis, konsultasi psikologi, konseling psikologi, konseling klinis, konseling profesional, dan ada yang lain?) telah lama kita mengenal post-traumatic stress disorder (PTSD), post-traumatic stress syndrome (PTSS) dan post-traumatic natural disaster stress disorder (PTNDSD). Dari nama itu saja kita mendapat kesan jelas tentang orientasi dan pendekatan yang digunakan. Mereka mengikuti pola medis, psikiatri dan psikologis konvensional: individual, patologis dan klinis. Dalam orientasi dan pendekatan ini tindakan petugas pada umumnya bertumpu pada penyakit, disorder, syndrome dan persoalan yang dihadapi oleh yang biasanya disebut sebagai pasien, klien atau kelayan. Tempat yang dipakai untuk menangani pada umumnya disebut sebagai klinik, rumah sakit atau nama lain yang sejenis. Orang diisolasi dari konteks kehidupan nyatanya secara menyeluruh (intergrated) dan utuh (holistic). Padahal human life ecological contexts harus dilihat sebagai sebuah sistem yang organic, integrated (saling terkait dan mempengaruhi), circular (David J. Bennor MD, 2003) dan holistic (utuh), meliputi fisik, alam, sosial, budaya, mental (afeksi, kognisi, psikomotorik), religi, ekonomi, politik dsbnya. Pendekatan konvensional tadi sering dianggap bersifat reduktif, karena tidak mempertimbangkan human life ecological contexts secara organic, integrated and holistic. Bisa dipahami bila petugas menjadi pasif dan menunggu orang datang ke klinik, rumah sakit atau nama tempat sejenis lainnya. Selanjutnya, orientasi dan pendekatan demikian cenderung hanya menangani persoalan psikologis secara individual. Layanan model konvensional biasanya berputar-putar di sekitar ranah individu tertentu.
9. Dalam orientasi dan pendekatan demikian “dokter” atau “profesi lain sejenis” dipandang sebagai satu-satunya agen atau juga sebagai “agen paling utama” dalam proses penanganan penyembuhan. Tidak jarang pranata sosial yang ada di tengah masyarakat dianggap sebagai pengganggu dalam proses bantuan. Atau kalau diperhitungkan, paling maksimal dianggap sebagai pembantu dalam penanganan atau penyembuhan individu. Individu dan pranata sosial sekitarnya bukan merupakan sumber dan agen sejati dari proses perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan. Bisa dipahami pula bila titik tekan tindakan pertolongan petugas adalah healing, mengobati, menyembuhkan, menyelesaikan, kuratif, terapi dan treatmen atau istilah lain sejenis. Sekali lagi, dalam pendekatan konvensional agen penyembuhan berasal dari luar. Orang dan komunitasnya dianggap tak berdaya (powerless and even voiceless); tak memiliki kemampuan atau kekuatan apa-apa untuk berubah, menyembuhkan dan bertumbuh. Yang berdaya adalah dari luar, namanya bisa apa saja: dokter, perawat, psikolog, pekerja sosial, petugas psiko-sosial, tabib, dukun, dunia gaib, nenek moyang, dewa penolong dan sebagainya.
10. Sebagai tanggapan atas berbagai kekurangan dalam pendekatan konvensional, sekelompok ahli mengembangkan apa yang selama sepuluh tahun terakhir ini disebut sebagai layanan psikososial (psychosocial services). Dalam hal ini petugas tidak hanya menunggu orang datang, melainkan mendatangi orang (reach out people). Pendekatannya bukan hanya pada penyakit dan pengobatannya melainkan juga pada usaha preventif, promotif dan rehabilitatif, dan, bahkan liberatif. Tindakan pertolongan, intervensi, terapi, pengobatan bisa dilakukan di mana saja; tidak harus di klinik atau rumah sakit. Bahkan perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan harusnya terjadi dalam dan dengan konteks kehidupan yang alamiah. Tidak hanya menangani individu secara stand alone, melainkan juga melihat konteks kehidupannya. Pranata sosial yang ada perlu dirangsang, digerakkan dan diberi media penyembuhan. perubahan dan pertumbuhan yang diinginkan. Pranata sosial bukan hanya alat, melainkan justru “therapeutic power itu sendiri”. Kekuatan perubahan dan penyembuhan bukan dari luar, melainkan dari dalam. Kekuatan penyembuhan ada di sana – di dalam. Gerakan psikososial yang paling revolusioner selalu mengatakan bahwa masyarakat sendirilah sang pengubah dan penyembuh sejati. Power, energi perubahan dan penyembuhan ada di sana. Petugas, apa pun namanya berfungsi sebagai fasilitator, katalisator. Petugas hanya salah satu bagian dari sebuah integrated and holistic processes dan menempatkan diri dalam seluruh gerak sistem yang ada. Kalau ada sistem sosial yang sakit sebaiknya disembuhkan terlebih dahulu agar akhirnya dapat menjadi agen penyembuhan. Sekali lagi daya dan suara penyembuhan ada di sana, dalam diri orang dan masyarakat dengan segala pranatanya.
11. Dalam orientasi dan pendekatan psikososial, model psikolopatologis klinis ditinggalkan oleh para praktisinya. Kemudian menempatkan kembali pranata, sumber dan kekuatan yang ada di tengah masyarakat sebagai agen penyembuh sejati. Proses perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan terjadi di sana, di tengah masyarakat dan bukan di rumah sakit atau klinik atau tempat sejenisnya. Sekali lagi, itulah sebabnya kelompok ini menggunakan istilah psikososial. Mereka tidak hanya memperhatikan aspek psikologis belaka seperti yang dilakukan oleh pendekatan psikologis konvensional (individual, klinis, patologis) melainkan juga aspek sosio-kultural-religio dalam proses bantuannya. Tampaknya orientasi dan pendekatan psikososial ini dipengaruhi oleh psikologi humanistic dan filfafat pembebasan (liberation).
Catatan: Kasus Adopsi Ratusan Anak Aceh
12. Kasus adopsi anak-anak Aceh, khususnya berita tentang 300 anak Aceh yang dibawa oleh sebuah organisasi keagamaan Kristiani fundamentalis, apalagi dibawa keluar dari Aceh, ke Amerika (kalau berita yang beredar itu benar), tanpa melihat pranata psikososial yang ada di Aceh adalah sebuah kesalahan besar. Saya tidak hanya melihat dari segi sentimen keagamaan, yang menganggap sebagai proses pemurtadan melainkan juga secara psikososial. Mungkin tujuan dari tindakan yang bersifat spontan, instant, dadakan itu mulia. Bukankah Ibu Presiden SBY juga keseleo karena melakukan hal yang sama, meskipun tidak diakuinya? Ingin membawa anak keluar Aceh? Menolong itu baik. Namun cara yang ditempuhnya juga harus tepat. Secara holistik, kita tidak hanya harus melihat tujuannya melainkan juga hasil akhir, proses dan caranya. Jangan potong kompas, instant. Secara psikososial adopsi anak demikian (kalau terjadi) oleh pihak mana pun juga sebenarnya tidak tepat.
13. Dengan kacamata yang sama, saya melihat bagaimana anak-anak Timor Leste banyak yang dipisahkan dari lingkungannya, dibawa ke daerah lain yang jauh, misalnya ke Jawa. Bahkan tak jarang hal itu dilakukan oleh kelompok agama yang sama. Kemudian mereka ditempatkan di sebuah asrama. Maksudnya baik, secara spontan, muncul dari rasa belas kasihan, mengambil anak-anak itu (secara kasar mencomot begitu saja). Mudah-mudahan tidak menimbulkan bencana ketiga. Nah ini harus diteliti dalam jangka panjang. Nantinya in the long term, sebaiknya ada penelitian psikososial yang dalam tentang persoalan anak-anak Aceh yang dibawa keluar dari Aceh dengan berbagai alasan. Di mana pun mereka berada.
14. Saya menghimbau lembaga CSR perusahaan domestic/international, donor, social agency, local and international NGO bersedia mendanai usaha-usaha semacam pada masa kini dan yang akan datang. Dokumentasi dan publikasi hasil-hasil penelitian itu (kuantitatif, kualitatif atau gabungannya) pasti akan bermanfaat bagi si apa pun yang berminat pada masa yang akan datang.
Orientasi dan Pendekatan Saya
15. Kritik saya terhadap pendekatan medis, psikiatri, psikologis konvensional sama dengan kritik kelompok psikososial. Orientasi konvensional terlalu psikopatologis dan klinis sehingga terlalu pasif menunggu orang datang. Mereka tidak reach out people. Mereka bisa saja mengatakan tak banyak orang yang terkena dampak psikososialnya, karena hanya sedikit orang yang datang ke rumah sakit atau klinik. Mereka bagai kantor polisi yang menunggu kasus perkosaan yang sangat jarang dilaporkan. Kantor polisi dapat mengatakan bahwa di lingkungan kerjanya tak ada persoalan itu karena tak ada yang melapor. Padahal sebenarnya kasus perkosaan itu terjadi di lingkungannya.
16. Saya setuju dengan kritik kelompok psikososial. Satu-satunya kritik saya pada kelompok ini adalah kadang-kadang mereka terlalu menangani aspek sosial, dan kurang memperhatikan aspek psikologis. Mereka campur adukkan begitu saja antara bantuan psikologis dengan bantuan memberi makanan, perbaikan sarana prasarana, bantuan hukum dan sebagainya. Saya paham betul sebuah persoalan itu memang bersegi banyak yang saling terkait. Namun demikian, percampuadukkan juga kurang tepat. Mereka lupa bahwa hal itu sudah menjadi ranah layanan lain. Kerjasama team dengan profesi lain, misalnya pekerjaan sosial kurang diperhatikan. Mengapa demikian? Karena kebanyakan kelompok psikososial mungkin dipengaruhi oleh lembaga donor, agensi internasional atau NGO internasional yang titik tekan bantuan awalnya adalah pada bantuan fisik dan sosial. Semula mereka melupakan aspek psikologis dari bencana alam. Untuk mengoreksi pola kerja awal itu, mereka menambahkan hal baru, yakni aspek psikologis.
17. Mengingat kritik saya pada kedua kelompok di atas, saya tetap menggunakan istilah layanan psikologis, namun sebaiknya kita sebagai pengemban profesi layanan psikologis tidak melupakan aspek kehidupan yang lain. Prioritas utama tetap pada aspek psikologis, namun harus mempertimbangkan aspek lain yang terkait. Atau lebih tepat, fokus penanganan kita pada aspek mental (meliputi kognisi, afeksi, behavior dan psikomotorik). Dalam konstelasi orientasi demikian seharusnya kita harus bermain sebagai team player. Bahkan sasaran layanan baik secara individu maupun korporat harus kita pikirkan dan perlakukan sebagai agen sejati perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan. Kalau begitu ide dasar apa yang dapat memayungi orientasi dan pendekatan demikian? Jawabannya sederhana, yakni saya akan mendasarkan praktik kita pada 3 ide utama, yakni holistic human, integrated approach, dan human caring and encountering nature.
Holistic Human, Integrated Approach, Human Caring and Encountering Nature
18. Holistic human merupakan pandangan tentang manusia sebagai multi aspek: fisik, mental, sosial dan spiritual namun sekaligus sebagai sebuah kesatuan yang utuh, organik, sistemik dan sinergik dari keempat aspek tersebut. Dengan kata lain, keempat aspek itu masing-masing dapat dibedakan namun sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Keempatnya saling terkait dan mempengaruhi serta menciptakan sebuah kesatuan, energi, kemampuan dan nilai yang jauh lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagiannya. Dalam pandangan manusia holistik kita melihat setiap individu dan komunitas bersifat spesial, khusus dan unik. Tak ada 2 orang atau 2 komunitas yang persis sama dan sebangun. Ini bukan berarti saya menafikan adanya kesamaan. Mungkin saja ada kesamaan. Saya mengakui pengalaman terdalam manusia ketika menghadapi peristiwa tertentu, terutama yang traumatik adalah sama. Inilah keuniversalan eksistensi manusia, bukan pada kulit luarnya, melainkan pada inner-world-nya. Pengalaman inner-world kita melintasi perbedaan yang ada, termasuk budaya dan agama. Bila ada perbedaan adalah pada cara dan tataran pengekpresiannya. Bahkan dalam pengekspresiannya pun bisa jadi ada kesamaan.
19. Dengan demikian kita boleh memandang bahwa kehidupan setiap individu dan komunitas adalah multi aspek dan kompleks. Menangani kondisi demikian dan ditambah lagi dengan perkembangan dunia yang makin kompleks, pasti kita tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan sendirian. Kecuali kita menjadi dukun ajaib. Kita harus memprioritaskan diri pada ranah profesi kita masing-masing. Namun bukan berarti tidak memperhatikan aspek lain. Sampai batas-batas tertentu bisa saja kita menangani aspek lain di luar batas profesi kita, paling tidak dalam tingkat primer. Terlebih lagi kita harus bekerja dalam tim yang organik, sistemik dan sinergis. Kerjasama team kita lakukan dalam bentuk perencanaan (treatment planning), tindakan pertolongan (treatment execution), evaluasi, perbaikan tindakan, komunikasi, koordinasi, rujukan dan sebagainya.
20. Dalam dunia yang sederhana mungkin saja semua orang bersama-sama (bukan bekerjasama) menangani semua masalah, seperti dalam model gotong royong masyarakat tradisional. Namun dalam dunia yang kompleks sekarang ini kita tak mungkin sendirian menangani semua permasalahan. Dengan ide dasar demikian maka tidak mungkin akan ada ketumpangtindihan tindakan secara berkepanjangan dapat dihindari. Dalam team demikian setiap anggota team jelas apa yang harus dilakukan. Semua orang jelas siapa menangani apa, kapan, bagaimana dan di mana.
21. Dalam pandangan holistic human, manusia tidak dapat diisolasi secara individual stand alone. Dia harus dilihat dalam hubungannya dengan pranata sosial yang ada. Setiap komunitas memiliki jalinan organik, sistemik dan sinergik sebagai corporate. Setiap pranata sosial diciptakan, dikembangkan, dipelihara, disesuaikan dan direvitalisasi demi kepentingan eksistensi komunitas tertentu secara berkelanjutan. Setiap sistem lokal pasti memiliki kearifan, nilai luhur, misalnya saling mempedulikan dan mendampingi (caring) tidak hanya untuk membertahankan eksistensinya melainkan juga untuk menciptakan perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan baik secara evolusioner maupun revolusioner.
22. Setiap komunitas baik setiap individu anggotanya maupun corporate adalah agen sejati dan utama bagi perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan dirinya. Seluruh anggota masyarakat berada di lapisan teratas dari sebuah struktur piramida terbalik kehidupan manusia universal. Setiap manusia dan komunitas memiliki kekuatan untuk berubah, menyembuhkan dan bertumbuh. Inilah lapisan teratas dari agen penyembuhan, perubahan dan pertumbuhan. Merekalah yang paling bertanggungjawab untuk saling mempedulikan, mendampingi, mengubah, menyembuhkan dan menumbuhkan. Kemudian, lapisan kedua, di bawahnya adalah para volunteer yang terlatih, pemuka agama, pemuka masyarakat, pejabat pemerintah dan sebagainya yang bertugas untuk mendukung lapisan yang di atasnya agar mereka dapat merealisasikan dirinya sebagai masyarakat yang mengubah, menyembuhkan dan bertumbuh. Lapisan terbawah adalah pengemban profesi yang terdidik dan terlatih untuk praktik layanan secara penuh waktu sebagai jalan hidupnya. Dalam hal ini termasuk para ahli dan spesialis. Hakekat eksistensi sebuah profesi harus tidak berhenti dan untuk dirinya sendiri. Kelahiran mereka adalah untuk merealisasikan dan merepresentasikan hakekat keberadaan sejati masyarakat sebagai pengubah, penyembuh dan penumbuh untuk mencapai tahap realisasinya yang paling utuh, sempurna, well-being, insan kamil, fitrah, tak hanya sebagai individu melainkan juga sebagai korporat. Para pengemban profesi penuh waktu, spesialis dan ahli yang berada di lapisan paling bawah memiliki kewajiban melayani dua lapisan di atasnya. Mereka harus ambil bagian dalam gerak kedua lapisan di atasnya untuk mengubah, menyembuhkan dan bertumbuh.
23. Dalam pandangan demikian, maka kita memperlakukan setiap komunitas sebagai pemilik dan penanggungjawab sejati dari setiap persoalan yang dihadapinya. Setiap komunitas adalah penanggungjawab, agen sejati dan agen utama dari setiap proses perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan. Kita semua, siapa pun dan apa pun adalah pendatang di Aceh dan Nias. Semua pihak terkait yang berada dibawahnya dalam struktur piramida terbalik merupakan pembantu, pemobilisir, katalisator kekuatan dan kemampuan yang ada di Aceh dan Nias. Semoga begitu. Dengan dasar pemikiran yang sama, maka pemikiran demikian dapat disebut sebagai “customer based approach post traumatic disaster psychological services” atau “market driven post traumatic psychological services”. Secara konvensional, orang yang kedudukannya makin tinggi atau makin ke bawah kedudukan seseorang dalam struktur piramid terbalik makin besar, luas dan berat dalam tanggungjawabnya untuk membantu masyarakat merealisasikan dirinya sebagai healing, changing and growing community.
24. Integrated approach merupakan konsekuensi logis dari pandangan kita tentang holistic human. Kita tak bisa berdiri dan bekerja sendiri-sendiri. Kerjasama terintegrasi, organik, sistemik dan sinergis akan menghasilkan hasil yang jauh lebih berharga dan bermakna daripada bekerja sendiri-sendiri. Pendekatan terintegrasi tidak hanya terfokus pada bantuan yang bersifat kuratif melainkan juga preventif, promotif, rehabilitatif bahkan liberatif. Tidak cukup kita beramai-ramai menangani persoalan setelah hal itu terjadi. Pedoman penanganan diciptakan, dievaluasi dan dikembangkan sesuai dengan konteks masing-masing secara berkelanjutan. Tak ada 2 gempa bumi dan tsunami yang sama. Setiap bencana adalah spesial, khas, khusus dan unik. Pedoman umum bisa dibuat, namun harus tetap disesuaikan dengan konteks masing-masing. Semua pihak terkait harus fleksibel. Generalisasi sebaiknya dihindari. Usaha promotif dan preventif harus terus dilakukan secara reguler dan berkelanjutan. Publikasi, komunikasi, informasi dan edukasi harus terus dilakukan. Terlebih lagi harus terus menerus diciptakan pencerahan, learning point, hikmah baru, perubahan sistem hidup, penyesuaian pranata sosial dan sebagainya. Bencana tidak tinggal menjadi bencana. Berhenti di sana melainkan menimbulkan pencerahan dan peradaban baru manusia dan dunia. Semuanya tidak mudah. Simulasi dan disaster drill perlu dilakukan secara terintegrasi, terencana, teratur secara terus menerus.
25. Rehabilitasi jangka panjang perlu dilakukan secara terintegrasi, bukan hanya fisik (sarana dan prasarana), melainkan juga mental, sosial dan spiritual. Rehabilitasi holistik itu direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi sedemikian rupa sehingga masyarakat setempat bukan menjadi penonton, melainkan pemilik, perencana, pelaksana dan pengawasnya. Dari aspek psikologis, perlu rehabilitasi dapat menggunakan kurun waktu 3, 6, 12, 24, dan 36 bulan. Selama kurun waktu itu diperlukan observasi dan evaluasi secara akurat dan teratur. Kemudian perlu juga ada evaluasi dan mungkin ada perbaikan dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan filsafat Jawa, kurun waktu 1000 hari atau 36 bulan (atau 3 tahun) dapat dipakai sebagai ukuran penanganan persoalan-persoalan psikologis. Kalau dalam kurun waktu 1000 hari ke depan orang belum mampu menyelesaikan kedukaan dan mencapai perubahan dan pertumbuhan yang diinginkan maka pasti ada sesuatu yang keliru. Kemudian kita perlu bertanya: Apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan? Adakah keunikan-keunikan tertentu yang perlu dicatat? Mengapa itu terjadi? Adakah kekeliruan intervensi pada tahap sebelumnya?
26. Caring and encountering nature juga merupakan konsekuensi logis dari pandangan holistic human. Pada dasarnya pada masa kini kita manusia di mana pun berada sedang belajar hidup bersama dalam satu dunia sebagai sebuah kesatuan organik, sistemik dan sinergik. Generasi-generasi manusia pada masa lalu agaknya hidup dalam kotak-kotak yang diciptakan sendiri dengan berbagai alasan, dari alasan paling samawi, ukhrowi sampai paling duniawi. Manusia secara global belum pernah hidup dalam konteks hidup yang begitu dekat seperti sekarang. Dunia terasa makin sempit. Bekas-bekas pola hidup bersama dalam masa lalu masih muncul. Dunia yang terkotak-kotak tadi tak jarang menimbulkan benturan. Seolah-olah kita hidup dalam darul-harb (rumah peperangan), padahal kita mulai hidup dalam darussalam (rumah perdamaian). Filsafat memayu hayuning bawana (menciptakan kesejahteraan dunia secara holistic) adalah sebuah ide dasar yang perlu kita kembangkan pada masa kini. Dalam tataran lokal, regional, nasional, dan global kita baik sebagai individu maupun korporat seharusnya saling mempedulikan dan mendampingi. Sebaiknya kita saling menciptakan ruang untuk saling menumbuhkan dan menyejahterakan. Dan, bukan sebaliknya saling mengalahkan, membenci dan membunuh.
27. Dengan aspek social yang kita miliki, pada hakekatnya kita berubah, menyembuhkan dan menumbuhkan melalui perjumpaan (encountering). Kita saling menumbuhkan melalui proses mutual encountering. Perjumpaan di antara 2 individu atau 2 komunitas sebagai makhluk yang sama dan sederajat untuk saling menumbuhkan. Kita tak dapat berubah, bertumbuh dan sembuh sendirian tanpa encountering. Kita tak bisa lagi menjadi masyarakat yang terisolir sama sekali seperti pada zaman dahulu. Kita semua sebagai individu dan komunitas berubah, menyembuhkan dan bertumbuh melalui perjumpaan. Bahkan harus melalui proses perjumpaan eksistensial (dan bukan sebuah pertemuan biasa). Dalam praksis, perjumpaan kita dengan penerima sasaran atau penerima layanan, khususnya saudara/ri kita yang mengalami bencana traumatic dan kini selamat (survivors) adalah merupakan perwujudan dari hakekat keberadaan kita sebagai the caring and encountering nature of human. Yang kita dampingi adalah sesama kita. Saudara/ri kita yang sama dan sederajat. Tidak lebih tinggi atau rendah. Mereka adalah manusia dan bukan obyek. Kita ini adalah sama-sama anggota sebuah keluarga wahidah: keluarga manusia, dunia dan Allah Yang Mahakuasa.
Pengertian Layanan Psikologis Paska Bencana
28 Seseorang individu, keluarga atau sekelompok orang bisa mengalami peristiwa kehilangan, kedukaan, goncangan, tekanan psikologis (stress) ketika menghadapi sebuah peristiwa bencana yang traumatik, dahsyat, tragis dan kompleks seperti GBGT di Aceh dan Nias. Berbagai persoalan psikologis ringan atau berat bisa saja muncul ketika kita menghadapi peristiwa demikian. Apalagi keehilangan dan goncangan tadi terjadi dan dialami secara tiba-tiba dan berlangsung secara cepat. Seperti tak masuk akal. Berbagai gejala psikologis (kedukaan) itu sebenarnya merupakan reaksi yang normal. Hal itu sebagai defence mechanism (pertahanan diri) untuk menciptakan keseimbangan psikologis baru. Peristiwa kehilangan atau stress demikian dapat disebabkan oleh perampokan, perkosaan, kecelakaan, kebakaran, pembunuhan (khususnya dengan mutilasi), pembunuhan dilakukan oleh yang paling dekat dengan korban secara keji, peperangan, penyiksaan misalnya di kamp tahanan, kerusuhan sosial, penculikan dan penyiksaan, dan bencana alam. Dalam hubungannya dengan bencana alam dapatlah dikatakan bahwa makin luas, dahsyat, ganas, kompleks, tragis dan masif peristiwanya makin dalam tingkat kehilangan, kedukaan dan goncangan batinnya (Mengapa Berduka, 2003). Peristiwa traumatik demikian biasanya terjadi sangat cepat, mendadak, dalam waktu sekejap, tak terbayangkan. Mengingat ciri bencana alam demikian maka peristiwa yang traumatik itu bisa digolongkan sebagai kecelakaan (accidental) dan bukan developmental yang berkaitan dengan tahap perkembangan manusia.
29. Banyak praktisi layanan psikologis menyamakan layanan post-traumatic, khususnya post traumatic disaster dengan layanan psikologis kehilangan dan kedukaan pada umumnya (David A. Tomb, 1981). Saya setuju dengan mereka. Perbedaan di antara keduanya hanya pada cakupannya. Dalam bencana GBGT di Aceh dan Nias atau tempat-tempat lain tidak hanya mempengaruhi individu atau keluarga tertentu atau mungkin komunitas tertentu secara sempit, melainkan juga mempengaruhi seluruh pranata kehidupan yang ada dan meliputi cakupan wilayah yang lebih luas daripada wilayah yang terkena dampak GBGT secara fisik. Langsung atau tidak langsung, dalam hal bencana di Aceh dan Nias, tidak ada orang yang tidak tersentuh atau terpengaruh. Semua orang terkena pengaruhnya. Melihat peristiwa yang begitu traumatic, mempunyai hubungan darah atau tidak, orang-orang yang berada di luar wilayah Aceh dan Nias, secara individu atau korporat banyak yang terkena dampak psikologisnya.
30. Karena peristiwa traumatik yang begitu dahsyat dan tak tertahankan itu baik individu maupun korporat orang mengalami goncangan psikologis sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana biasanya. Karena goncangan itu terjadi begitu tiba-tiba, mendadak, dahsyat, kompleks dan berdampak luas maka sumber daya yang biasanya dipakai untuk mempertahankan diri, berubah, menyembuhkan dan bertumbuh tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Hidup dan sejarah seolah-olah berhenti. Semua sirna dalam sekejap mata. Mekanisme pertahanan psikologis yang biasanya dapat berfungsi dengan baik kini juga tidak dapat lagi digunakan untuk menahan guncangan yang begitu mendadak, ganas, kompleks, luas, tragis dan masif seperti yang terjadi dalam GBGT di Aceh dan Nias. Begitu pula goncangan psikologis yang begitu dalam dan kompleks itu sama sekali tidak pernah diantisipasi sebelumnya. Bencana itu seolah-olah melewati ambang batas kekenyalan seseorang atau sekelompok masyarakat di Aceh atau Nias. Goncangan itu menerjang seluruh pertahanan mental seseorang dan sekelompok masyarakat secara kognitif, afektif behavioral dan psikomotorik. Homeostasis psikologis batin individu atau korporat tergoncang dan terjadilah ketidakseimbangan.
31. Layanan psikologis dengan memanfaatkan model psikologis, yang dilakukan individu atau kelompok yang terdidik atau terlatik untuk melakukan tindakan psikologis, secara baik penuh waktu (profesional) maupun tidak (volunteer) bagi sasaran layanan sebagai individu atau kelompok, yakni yang terkena dampak GBGT – sebuah bencana alam yang tragis, traumatik, kompleks dan masif secara langsung atau tidak dapat disebut sebagai POST TRAUMATIC DISASTER PSYCHOLOGICAL SERVICES.
Kategori Sasaran Layanan
32. Semakin langsung seseorang, sebuah keluarga atau suatu komunitas terlibat dengan bencana atau menjadi saksi terjadinya bencana, semakin dalam dan kompleks kedukaan dan dampak psikologis yang diderita oleh orang, keluarga atau komunitas yang bersangkutan. Urutan kategori sasaran layanan psikologis dibawah ini menggambarkan makin dalam dan kompleksnya kedukaan dan persoalan psikologis yang muncul pada paska bencana.
33. Akan sangat bermanfaat bila ada pihak-pihak yang tertarik untuk melakukan observasi partisipatif, penelitian kualitatif (case study, fenomenologis, dsbnya) tentang impact psikologis terhadap setiap kategori di bawah ini. Dokumentasi dan publikasi ini dapat dimanfaatkan untuk penanganan layanan psikologis pask bencana traumatic pada masa yang akan dating.
34. Individu, keluarga, komunitas atau sekelompok orang yang tinggal di wilayah bencana yang secara fisik dan sosial terkena dampaknya; namun mereka selamat, artinya tidak meninggal. Mereka sering disebut sebagai survivors. Mereka mengalami sendiri secara langsung bencana itu, namun selamat. Mereka bisa lelaki atau perempuan, baru menikah, orang hamil, usia bayi, anak, remaja, pemuda, orang dewasa, tengah baya, pasangan bersarang kosong, masa matang atau usia lanjut. Mereka mungkin masih menemukan seluruh atau sebagian anggota keluarga lain (sebagai sesama survisor) atau tidak, baik yang tinggal di wilayah bencana atau di luar wilayah bencana. Mereka bisa dalam kondisi sehat secara fisik atau hanya mengalami persoalan fisik/medis mulai dari yang sangat ringan sampai yang sangat berat. Mereka bisa terpaksa kehilangan sebagian anggota badannya. Mereka kini mungkin berada di kamp pengungsian atau tempat lain yang lebih aman, di tempat anggota keluarga atau kenalan, di dekat wilayah bencana atau jauh. Atau juga di rumah mereka sendiri yang masih layak untuk dihuni atau sisa-sisa reruntuhan yang masih ada.
35. Individu, keluarga, komunitas atau sekelompok orang yang tinggal dalam wilayah bencana dan namun tidak mengalami sendiri secara langsung bencana itu, namun mereka memiliki hubungan langsung dengan individu, keluarga, komunitas, sekelompok orang korban atau wilayah bencana tertentu yang terkena dampak GBGT. Ketika terjadi bencana pada tanggal 26 Desember 2004 mungkin mereka sedang berada, tinggal sementara atau tetap di luar wilayah bencana. Sebagai contoh: Seorang keluarga yang kebetulan sedang mengunjungi keluarga besan di Yogyakarta. Di kehilangan seluruh tetangga dan kerabatnya tewas, harta bendanya dam kampungnya musnah. Atau seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Jakarta namun seluruh orangtua, kakak adik dan tetangga tewas dan kampungnya musnah. Atau, seorang suami yang kebetulan berkunjung ke kerabat di daerah yang lebih tinggi, namun isteri, anak, keluarga dan seluruh kampungnya hilang.
36. Inidividu, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat yang tidak tinggal di wilayah bencana dan tidak mengalami secara langsung peristiwa bencana itu; mereka tinggal di luar wilayah bencana, namun berkaitan langsung dengan orang, keluarga, komunitas atau sekelompok orang – survivors, secara parsial maupun keseluruhan. Sebagai contoh, sebuah keluarga tinggal di Jakarta namun memiliki orangtua tinggal di wilayah bencana. Kedua orangtuanya selamat, namun seluruh kakak-akak adik yang lain tewas.
37. Individu, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat yang tinggal di luar wilayah bencana dan juga tidak memiliki kaitan langsung dengan korban maupun survivor (secara parsial atau keseluruhan), namun memiliki hubungan emosional, cultural dan sosial dengan individu, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat si wilayah bencana tertentu. Misalnya, sebuah keluarga yang berasal dari Aceh, namun sudah lama (2 generasi) tinggal di luar Aceh, seluruh keluarga dekatnya sudah tidak ada, namun memiliki usaha perkebunan di bekas kampung nenek-moyangnya. Sekali setiap tahun dia mengunjungi kampung itu pada Hari Raya Lebaran Haji (Idul Adha) untuk mengikuti adat megang.
38. Individu, keluarga, komunitas atau sekelompok orang yang tidak tinggal di luar wilayah bencana, tidak memiliki kaitan apa pun dengan orang, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat yang menjadi korban atau survivors, namun karena tugas dan panggilannya sementara tinggal di wilayah bencana paska bencana untuk melakukan pertolongan, misalnya petugas militer, polisi, pemerintah, agensi internasional, lembaga donor, NGO nasional/internasional, petugas medis/perawat dan sebagainya dari pemerintah, sukarelawan/wati, jurnalis dan sebagainya. Mereka menyaksikan bekas kedahsyatan, ketragisan dan bencana GBGT. Mereka pula mereka mendengar cerita tentang kedahsyatan GBGT dari orang-orang yang ditemui dan ditolongnya. .
39. Individu, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat yang tinggal di luar wilayah bencana dan tidak memiliki kaitan apa pun dengan orang, keluarga, kemunitas atau sekelompok masyarakat; dan, juga tidak memiliki kaitan emosional, cultural, sosial, ekonomis dengan orang, keluarga, komunitas, sekelompok masyarakat atau wilayah bencana, namun melihat, membaca dan mendengarkan bagaimana bencana itu terjadi atau kondisi dan situasi paska bencana dari media cetak, elektronik dan hubungan mulut ke mulut. Peranan pekerja dan lembaga media sangat penting untuk menghindari bencana kedua dan ketiga. Kalau ada pihak akan melakukan observasi dan penelitian tentang bagaimana pengaruh media massa terhadap kedukaan dan stress paska bencana traumatic akan sangat bermanfaat untuk penanganan bencana di masa yang akan datang.
Tujuan Layanan
40. Karena posttraumatic psyschological services boleh dikatakan sama dengan grief psychological services, saya cenderung memandang tujuan layanan keduanya sama. Dalam buku Mengapa Berduka: Kreatif Mengelola Rasa Duka saya telah membahas hal itu. Kemudian saya lengkapi dengan skema yang saya tulis dalam naskah buku Ready to Care: Pendampingan dan Konseling Psikologis.
41. Tujuan pertama dan terutama adalah membantu survivors untuk mengalami pengalamannya secara penuh dan utuh. Mengalami pengalaman secara penuh dan utuh adalah fondasi yang kukuh bagi perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan secara holistic (fisik, mental, sosial dan spiritual) selanjutnya. Perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan secara penuh dan utuh tidak akan dapat dicapai melalui cara melarikan diri dari atau tidak menerima kenyataan sebagaimana adanya. Bila ada perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan dengan cara melarikan diri atau menolak kenyataan mungkin itu merupakan perubahan, penyembuhan dan pertumbuhan semu. Jadi tugas kita adalah menciptakan iklim perjumpaan yang konduksif sedemikian rupa sehingga sasaran lyanan dapat mengalami pengalamannya secara penuh dan utuh. Biasanya bila seseorang, keluarga, komunitas atau sekelompok orang tidak dapat mengalami kedukaannya secara penuh dan utuh maka bisa juga muncul berbagai persoalan psikologis lain seperti psychological unfinished business; prolonged grief; delayed grief; dendam; kebencian; kemarahan; melarikan ke addiction dalam bentuk apa saja: rokok, judi, main perempuan, obat-obatan dan sebagainya; depresif; psychotic break; usaha bunuh diri dan sebagainya.
42. Membantu survisors mengalami pengalamannya secara penuh dan utuh itu kita lakukan dengan sikap empatik. Ini berarti kita memasuki dunia pengalaman sasaran layanan secara utuh dan penuh, melihat dunia sasaran layanan seperti dia sendiri melihatnya, tanpa ada penilaian. Kita tetap netral dan otonom; tidak kehilangan otonomi dan tidak hanyut dalam pengalaman itu (seperti dalam simpati). Dalam empati kita menerima sasaran layanan dan pengalamannya sebagaimana adanya. Tidak lebih dan tidak kurang. Dalam budaya Jawa itulah yang disebut dengan ngrasuk raga lan sukma. Sebagai perwujudan konkret dari sikap empati itu adalah ketrampilan mendengarkan. Mendengarkan berbeda dengan mendengar. Dalam mendengar biasanya tidak ada konsentrasi dan perhatian penuh pada lawan bicara. Sebaliknya, dalam mendengarkan kita hadir penuh, jiwa dan raga, berada di sana, berada bersama dengan lawan bicara. Kita mampu menanggapi semua yang diungkapkan oleh lawan bicara. Baik verbal maupun non-verbal. Begitu pula kita mampu memahami apa yang diungkapkan dalam kata-kata. Kita mampu menangkap apa yang ada di balik kata-kata dan gerak tubuh lawan bicara. Kita mampu menangkap sinyal-sinyal batin lawan bicara.
43. Hindari sikap hanya ingin mencari fakta atau informasi seperti banyak dilakukan oleh reporter media massa (cetak dan elektronik), memberi nasehat secara sembarangan, memberi komentar sembarangan, menilai, menghakimi, dogmatic, moralistic dan sejenisnya. Mendengarkan perlu waktu dan kehadiran Anda sepenuhnya untuk sasaran layanan psikologis. Jangan bawa agenda apa-apa.
44. Tujuan kedua adalah berubah menuju pertumbuhan. Dalam hal ini pertumbuhan secara holistik. Disaster adalah sebuah pengalaman yang traumatic dan tragis. Kita sesekali mengalaminya meskipun sangat pahit. Namun diharapkan melalui krisis itu kita akhirnya dapat bertumbuh secara utuh dan penuh: fisik, mental, sosial dan mental. Memang tidak seketika kita dapat menemukan learning point, pelajaran baru, insight baru atau pencerahan. Dengan bertumbuh melalui krisis itu kita dapat menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi peradaban manusia.
45. Adakah dan apakah nilai peradaban baru yang kita temukan? Dalam hidup bersama? Pergaulan antar bangsa? Bagaimana menciptakan kader dan volunteer pendampingan psikologis? Bagaimana melengkapi para pemimpin agama dan umat dari semua agama untuk menangani persoalan psikologis primer sehingga tak hanya menekankan persoalan ajaran dan dogma? Sehingga mereka bersikap empatik dan trampil mendengarkan? Bagaimana hubungan kita dengan lingkungan? Bagaimana tata kota dan ruang baru direncanakan dan dikembangkan? Bagaimana kita tidak hanya menerima dari alam melainkan juga memberi sesuatu pada alam? Bagaimana tata ruang pantai kita harus diatur? Bagaimana pendidikan tentang disaster dirancang dan diatur? Bagaimana pedoman penanggulangan bencana alam dikembangkan? Bagaimana kita menangani anak-anak? Bagaimana sistem social welfare nasional dikembangkan?
46. Apakah sistem pendidikan akan tetap menggunakan sistem yang ada? Dengan model persekolahan yang ada? Membutuhkan banyak guru? Membutuhkan banyak gedung? Membutuhkan sarana dan prasarana? Membutuhkan biaya besar? Atau kita dapat menggunakan model de-schooling, home-schooling atau community schooling? Yang saya maksud dengan alternatif baru itu tidak sama dengan sistem yang sekarang ini oleh Depdiknas disebut sebagai pendidikan terbuka. Bukan itu. Tetapi deshooling, home-schooling atau community schooling. Di mana saja, rumah, pasar, komunitas, keluarga, panti asuhan, menasah, mesjid atau tempat-tempat ibadah lain atau bahkan kantor-kantor pemerintah tertentu yang kebanyakan pegawai kekurangan aktifitas bisa dijadikan sebagai media belajar. Sekaligus memberdayakan masyarakat? Bagaimana kurikulum atau modul diatur? Siapa yang berhak mengajar? Bagaimana sertifikasinya? Bagaimana mengukur kompetensi murid atau fasilitator belajar? Bagaimana ujian dilaksanakan? Keluarga, komunitas yang menjadi pemilik proses pendidikan dan pembelajaran. Pemerintah dan lembaga lain terkait hanya memfasilitasi. Prosesnya dibalik. Sekali lagi masyarakat adalah pemilik, penanggungjawab, perencana dan pelaksana segalanya termasuk proses pendidikan dan pembelajaran generasi mudanya. Ini adalah cara yang paling mudah dan murah serta sekaligus kontekstual.
47. Tujuan ketiga adalah mencapai pemahaman diri (baik secara individual maupun corporate) secara utuh dan penuh. Siapakah kita? Kekuatan kita? Kelemahan kita? Adakah sumber-sumber yang dapat digunakan untuk penyembuhan dan pertumbuhan, termasuk rehabilitasi secara holistic? Apa yang perlu diperbaiki? Kita mau ke mana? Apa yang harus kita lakukan? Siapa yang akan dilibatkan? Di mana dilakukan? Kapan akan diselesaikan?
48. Tujuan keempat adalah belajar menciptakan komunikasi yang sehat. Misalnya belajar untuk bersikap asertif, ekspresif tetapi elegan. Belajar bergaul dengan kelompok, bangsa, orang lain atau bahkan orang asing. Melalui konseling kelompok hal itu bisa dilakukan. Manfaatkan juga overseas volunteers yang ada untuk menciptakan pola komunikasi yang lebih sehat atau mengenal budaya lain dalam rangka cross-cultural communication. Bisa berjalan secara alamiah namun bisa juga melalui kelompok-kelompok yang sengaja diciptakan untuk itu. Kalau terjadi itu merupakan sebuah proses transformasi sosio-psikologis yang luar biasa. Komunitas di luar wilayah bencana tidak pernah akan mengalami kesempatan yang sama. Bahkan juga mungkin mengembangkan pola komunikasi baru di antara anggota keluarga, orang sekampung, orang semenasah, orang semesjid agar lebih sehat. Misalnya menciptakan rebounding psychologically sehingga kelompok-kelompok itu bisa saling mempedulikan dan mendampingi dalam melewati masa-masa sulit itu. Dan bahkan mungkin nantinya saudara/ri kita di Aceh dan Nias mungkin bisa menjadi volunteer yang tangguh untuk membantu wilayah bencana lain pada masa depan.
49. Tujuan kelima adalah berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Pengalaman yang tragis dan traumatic itu sebenarnya dapat kita pakai sebagai media belajar tingkah laku baru yang lebih sehat. Hal ini biasanya dilakukan melalui intervensi kelompok, baik secara alamiah maupun buatan. Misalnya kita dapat melakukannya dengan dan dalam lingkungan komunitas tertentu. Atau, kita menciptakan dan menggunakan kelompok buatan sebagai media layanan. Kita mulai dengan merefleksikan apa yang sudah terjadi, kemudian melihat hal-hal yang perlu diubah, mendorong dan menciptakan komitmen untuk perubahan, merencanakan proses perubahan, latihan (drill, role play, simulasi) perubahan, penerapan dalam hidup sehari-hari, penilaian ulang, evaluasi dan kemudian revisi tingkah laku baru dan seterusnya secara berkelanjutan. Insya Allah, muncul hibrida manusia Indonesia baru. Secara konkret, misalnya berlatih bagaimana menghentikan merokok, cara membuang sampah, cara menyampaikan perasaan marah dengan baik, cara berterimakasih, cara minta maaf, cara antri dengan baik, cara demo dengan baik, cara membuat proposal proyek pengembangan masyarakat (daripada mengemis di pinggir jalan), mengubah tingkah laku korup menjadi tidak korup, cara perbaikan pelayanan pemerintahan, cara kerja pegawai negeri yang berkualitas, dan sebagainya.
50. Kita menyadari bahwa psikologi merupakan satu-satunya ilmu yang begitu intensif dan ektensif menggeluti perilaku manusia dan perubahannya, mengapa tidak kita sumbangkan untuk mengubah perilaku, baik secara individu maupun korporat? Saya pernah membahas dan menulis peranan dan nilai perubahan tingkah laku bangsa, melalui pendekatan intervensi konseling psikologis kelompok dengan judul “Panca Mandala Bina Dharma Bangsa”. Paper ini saya sampaikan dalam seminar nasional psikologi di Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta 5 bulan yang lalu.
51. Perubahan perilaku ini juga bisa menyangkut masalah hidup yang lebih sehat dalam arti umum. Sekaligus untuk mengurangi dan mencegah distress dan stress, misalnya. Dalam hal ini layanan psikologis bisa memanfaatkan bantuan reiki, taichi, meditasi, samadi, hening, brain gym, senam, sholat, zikir, tahajud, doa, nyanyian, tarian dan creative art yang lain.
52. Bisakah mengembangkan model sholat baru (maaf kalau saya keliru dalam hal ini) misalnya dan sekaligus menjadi media trauma healing atau distress/stress releasing? Ekperimen yang menarik. Temukan pola dan kearifan lokal yang dapat digunakan untuk mengurangi distress dan stress. Semuanya harus kontekstual. Insya Allah semua media bantuan itu bisa berguna.
53. Sekali lagi, perlu dipikirkan perubahan tingkah laku yang lebih sehat secara individual, keluarga, korporat, misalnya dalam hubungannya dengan alam sekitar, orang lain, cara membangun rumah, membuang sampah, berkebun, berladang dan sebagainya. Memang ini sebuah usaha long term dan berkelanjutan. Saya yakin banyak pelajaran yang didapatkan dari pengalaman yang pahit seperti GBGT.
54. Tujuan keenam adalah belajar mengungkapkan diri secara penuh dan utuh. Saya pikir hal ini sudah saya kemukakan di sana sini secara selintas, khususnya dalam kaitannya dengan belajar berkomunikasi yang sehat. Self-realization secara utuh dan penuh penting untuk diperhatikan dalam proses layanan psikologis paska bencana. Perasaan helpless bisa dihilangkan dengan cara melibatkan mereka sepenuh dan seutuh mungkin. Mereka akan merasa dihargai. Mereka akan merasa menjadi subyek dan bukan obyek. Melalui layanan konkret kita dapat menemukan daya kreatif, keinginan saling tolong-menolong, saling mempedulikan dan mendampingi yang luar biasa. Sekali lagi sumber-sumber daya dan kekuatan lokal pasti ada dan perlu diberi kesempatan untuk tampil – dan dibantu untuk merealisasikan diri termasuk dalam proses rehabilitasi terintegrasi masyarakat bukan penonton melainkan pemilik, penanggungjawab, perencana dan pelaksana. Dalam perspektif demikian, maka proyek-proyek rehabilitasi lebih ditekankan pada small scale projects. Pembangunan sarana dan prasarana harus melibatkan masyarakat setempat dari A sampai Z. Kalau tidak itu akan memperparah bencana kedua.
55. Tujuan ketujuh adalah bertahan dalam kondisi yang baru. Setelah mengalami pengalamannya secara utuh dan penuh, maka akhirnya individu, keluarga atau komunitas tertentu dapat menerima kenyataan. Menyerah dalam arti yang positif (tawakal), bukan putus asa; merupakan titik tolak pertumbuhan baru. Dalam tahap tertentu mereka sudah siap membangun kembali lingkungannya. Pikiran mereka sudah jernih. Tenaga batin social, fisik dan spiritual mereka sudah pulih. Daya juang mereka sudah pulih. Proses sampai titik ini tak bisa digeneralisir misalnya 1 hari, 1 minggu, 1 bulan dan seterusnya. Setiap individu, keluarga, komunitas memiliki irama dan kecepatan sendiri-sendiri. Kita yang melakukan layanan tak memiliki hak untuk mempercepat atau memperlambat proses. Kita harus percaya pada setiap proses yang dilalui oleh setiap orang, keluarga, komunitas atau kelompok orang tertentu. Dalam bahasa Jawa ada yang disebut “ngemong mangsa” dan “angon mangsa”. Dalam hal ini kita harus bersabar. Titik penerimaan dan penyerahan ini sekali lagi merupakan titik awal untuk bangkit kembali membangun puing-puing yang ada.
56. Seorang nabi besar pernah mengatakan “tulang-tulang kering yang berserakan di lembah-lembah – kini telah hidup kembali; darah, daging, roh, jiwa berkumpula dengan tulang-tulang kering dan hidup kembali”. Sebuah ungkapan simbolik pada penyerahan, penerimaan keadaan dan pengalaman sebagaimana adanya dan bangkit lagi.
57. Layanan psikologis paska bencana memiliki arti yang mula bila dilaksanakan secara teratur, terencana, terevaluasikan dan berkesinambungan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri. Sumber daya luar hanya bantuan sementara.
58. Sekali lagi itulah sebabnya proyek rehabilitasi paska bencana: sarana-prasarana fisik, cultural, pendidikan, dan religius sebaiknya berskala kecil; dikelola oleh masyarakat lokal sesuai dengan irama dan proses masing-masing. Mungkin satu kelompok tertentu sudah lebih siap daripada yang lain. Jangan melakukan kesalahan sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat ketika mendirikan reservasi untuk masyarakat Indian (asli Amerika). Proyek itu tidak menyelesaikan masalah, melainkan justru menimbulkan berbagai masalah baru yang jauh lebih rumit: alkoholisme, bunuh diri, kenakalan remaja, perampokan, derajat buta huruf yang jauh lebih tinggi, tingkat kemiskinan yang lebih parah, dan sebagainya. Dan juga jangan mengulangi kesalahan proyek-proyek bantuan Jepang yang ada di Kecamatan Girimulya, Kabupaten Kulon Praga (mungkin juga di tempat-tempat lain) untuk korban tanah longsor yang sampai sekarang rumah-rumah itu masih menganggur, padahal sudah berusia 3 tahun lebih. Mungkin kesalahan utamanya adalah bahwa masyarakat lokal dan survivors tidak dilibatkan.
59. Tujuan kedelapan adalah menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional. Perhatikan juga poin 56-59. Di samping itu sebagai anggota team, petugas layanan psikologis bekerjasama dengan anggota tim lain, dapat membantu atau sambil melakukan hal-hal tadi dapat melakukan tugas prioritasnya. Karena pendekatannya bukan klinis patologis, perjumpaan dengan sasaran layanan dapat dilakukan di mana saja. Perkunjungan ke rumah sasaran layanan, lokasi penampungan atau tempat lain di mana mereka tinggal pasti berguna. Pendampingan dalam kelompok sangat membantu. Kelompok ini bisa buatan atau alamiah. Alamiah misalnya mengumpulkan orang dalam satuan komunitas wilayah tertentu, di mana orang masih saling mengenal.
60. Karena adanya perbedaan budaya, agama dan bahasa, layanan ini sebaiknya dilakukan terutama oleh dan harus melibatkan orang-orang lokal. Kita harus segera menemukan sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan. Oleh sebab itu melatih dan melengkapi orang-orang lokal, guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, volunteer lokal yang ada dengan ketrampilan pendampingan psikologis sangat penting. Ingat masyarakat sendiri adalah agen penyembuh, perubahan dan pertumbuhan sejati. Dan usaha ini juga penting agar dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pada masa depan. Dengan cara itu pertolongan kita tidak akan menciptakan ketergantungan, melainkan memberdayakan.
61. Kegiatan harus dilakukan secara terpadu dan intensif selama 3, 6, 9, 12 ke depan. Orang Jawa bilang sampai masa mendak (1 tahun) dan masa meling (2 tahun). Kemudian diteruskan sampai 36 bulan atau kalau menggunakan perhitungan Jawa 1000 hari. Apakah ada hal semacam di Aceh dan Nias? Selama masa itu harus dilakukan evaluasi dan perbaikan yang diperlukan secara teratur dan berkelanjutan. Pengalaman-pengalaman di negara-negara lain (di AS), jangka waktu 36 bulan juga dipakai sebagai kerangka kerja bantuan psikologis paska bencana. Pasti ada local cultural wisdom yang dapat dipakai sebagai kerangka acuan waktu kerja rehabilitasi psikologis.
62. Tujuan kesembilan adalah mencegah gejala-gejala yang disfungsional atau munculnya the second and the third disaster. Kalau tujuan 1 sampai 8 dilakukan dan dapat dicapai dengan baik, insya Allah, disaster kedua dan ketiga tidak akan muncul. Ini sebuah batu ujian yang sangat licin, baik bagi pemerintah maupun kita sebagai sebuah entitas sistemik Bangsa Raya Indonesia.
63. Ini hanya sekedar pikiran tentative. Kalau orang lain kurang berkenan, saya mohon maaf. Ini sekedar mengikuti creative thinking exercise process saja. Inilah paradigma baru. The Great Indonesia atau The Indonesia Raya terdiri atas berbagai bangsa (tidak terdiri atas suku-suku bangsa seperti paradigma yang gunakan selama ini). Dalam paradigma bangsa Indonesia yang terdiri atas suku-suku bangsa, seolah-olah terjadi sub-ordinasi antara yang satu dengan yang lain. Paling tidak antara pemerintah pusat dan kabupaten dan kota yang sekarang otonom. Dalam paradigma The Indonesia Raya hubungan antara bangsa raya dengan bangsa-bangsa di seluruh The Great Indonesia Water and Land, posisinya sedarajat dan sama. Pemerintah Indonesia Raya bukan di atas, melainkan abdi bagi kabupaten dan kota atau bangsa-bangsa di Indonesia. Tidak cocok lagi dikatakan “pusat” dan “daerah”. Bukan “Pakaian daerah Palembang” melainkan “Pakaian Palembang”. Paradigma atau sebutan daerah sebagai lawan pusat sebaiknya tidak dipakai lagi. Sebaiknya ungkapan “Wah Anda orang daerah” dihindari. Juga pertanyaan yang tepat bukan “Anda dari daerah mana?” melainkan cukup “Anda dari mana?” Bukan “Anda wewakili daerah mana?” Melainkan “Anda mewakili propinsi, kota atau kabupaten mana?” “Anda wakil dari mana?”
64. Sekali lagi pikiran saya tadi mungkin aneh kedengarannya. Tetapi itulah konsekwensi logis dari pemahaman saya tentang aspek psikososial yang ada. Hubungan antar kota dan kabupaten juga bukan hubungan menang kalah, melainkan koordinatif, sistemik, organic dan synergic. Dalam pola hubungan yang demikian maka kita akan menciptakan bangsa raya Indonesia yang benar-benar memiliki kekuatan, makna, arti dan produk yang luar biasa. Kekuatan bangsa raya Indonesia akan jauh melebihi jumlah dan kumpulan kekuatan bangsa Aceh, Batak, Padang, Palembang, Jawa, Dayak dan seterusnya sampai Papua. Insya Allah begitu. Sejarah yang akan menjadi saksi. Peristiwa tragis, traumatic Aceh dan Nias mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai momentum untuk menciptakan Indonesia yang benar-benar The Indonesia Raya.
Reaksi Ringan Terhadap Bencana Traumatik
65. Reaksi emotif yang biasanya muncul antara lain terkejut (shocked), takut (obyek jelas), cemas (obyek tak jelas), marah, menyesal, merasa bersalah, mendapat cobaan, mendapat kutukan, malu, berdosa, terhukum, diperlakukan tidak adil, merasa tanpa harapan (hopeless) atau tanpa pertolongan (helpless), tanpa arti, hampa, sendirian, kesepian, terasing, kehilangan minat, loyo, tak berdaya atau kehilangan rasa gembira dan cintakasih.
66. Kekurangkoordinasian, kekurangsigapan pemerintah, kelambanan pemerintah, prosedur pemberian bantuan yang berbelit-belit (birokratis), kekurangan sikap reach out akan dapat menimbulkan bencana kedua bagi survisors, karena mereka tidak hanya merasa hopeless melainkan juga helpless. Tidak jarang birokrasi berlaku normal seperti biasanya dalam kondisi tidak normal (emergensi) seperti menangani GBGT di Aceh dan Nias.
67. Reaksi kognitif yang biasanya muncul antara lain bingung, tanpa arah, tak mampu mengambil keputusan, tidak menentu, kuatir, kehilangan minat, tak bisa konsentrasi, kehilangan ingatan, mengutuk diri sendiri, membuang atau menghindari hal-hal yang dapat mengingatkannya pada peristiwa traumatik itu.
68. Reaksi somatik (atau psikosomatik) yang biasanya muncul antara lain denyut jantung lebih cepat, ada benda keras di ulu hati, tegang, badan mudah lelah, kaki dan tangan berat untuk diangkat, gemetaran, duduk tidak tenang, hiperaktif atau sebaliknya diam kaku, insomnia, tubuh terasa sakit atau nyilu atau nyeri seperti rematik, gigi nyilu-nyilu seperti sakit gigi, tenggorokan kering, lidah kaku, jantung berdebar lebih cepat, nafsu makan tidak ada, nafsu seks menurun, perut kembung, dada sesak, dada nyeri, sulit tidur atau sebaliknya ingin tidur terus, nafas pendek, batuk-batuk, dan, tekanan darah naik atau turun.
69. Reaksi hubungan antarpribadi yang biasanya muncul antara lain: tidak percaya pada orang lain/yang tidak dikenal, mudah curiga, saling mempersalahkan, menalahkan pihak lain, merasa tidak dapat menolong orang lain, mengapa saya membiarkan dia menderita saya egois, mudah membenci, mudah marah, konflik, menarik diri, mengurung diri, berdiam diri, mudah tersinggung, tidak dapat akrab atau intim dengn orang lain, terlalu ngotot, merasa ditolak atau dibuang. Bisa juga orang mengalami “lonely in the crowd”.
70. Untuk menangani reaksi-reaksi yang ringan itu selain kita dapat memanfaatkan teknik konseling individu, kita bisa juga menggunakan teknik konseling kelompok (alamiah atau buatan). Misalnya membentuk kelompok sharing pengalaman. Perlu juga anggota kelompok dilatih untuk bersikap empati dan mendengarkan. Kalau terbiasa menggunakan teknik “kursi kosongnya” pendekatan Gestlat juga sangat bermanfaat. Secara pribadi saya menggunakan teknik kursi kosong juga dalam membantu sasaran layanan mengalami pengalamannya secara penuh dan utuh. Tak jarang kaum lelaki menahan tangisnya ketika peristiwa tragis itu terjadi. Dalam hal ini saya dorong mereka dan saya persilakan untuk menangis sepuas-pusanya.
71. Selanjutnya therapy kegiatan (activity treatment) atau vocational therapy (ketrampilan) bisa juga digunakan. Akupunktur, terapi hidro (air hangat atau air alami), mandi di tujuh pancuran (kata orang Jawa), terapi aroma, pijat bisa juga digunakan untuk menurunkan tegangan dan goncangan batin. Ingat orang India sering turun ke Sungai Gangga untuk memperoleh kesegaran lahir dan batin. Masih adakah tempat semacam itu di Aceh dan Nias? Bagaimana dengan terapi air zam-zam yang memiliki kekuatan penyembuhan ilahi dan sekaligus alami? Adakah hal-hal lain yang bisa dimanfaatkan? Pasti ada kearifan budaya lokal.
Reaksi Berat Pada Bencana Traumatik
72. Disosiasi: secara mendadak dan untuk sementara kehilangan kesadaran (depersonalisasi: tentang diri sendiri; derealisasi tentang lingkungan; fuga: pindah tempat (jalan/terbang/naik bis/KA/mobil/dllnya) tanpa kesadaran tahu-tahu sudah sampai di daerah lain dan tak bisa menceritakan kembali caranya dan amnesia); peristiwa tragis terjadi kembali secara tioba-tiba dan berulang-ulang (misalnya bumi terus mendengar bunyi gemuruh gelombang, mendengar tetangga terus-menerus menjerit-menjerit minta tolong, isteri/orang lain terus menerus memanggil-manggil minta tolong, kenangan tragis, mimpi buruk, mimpi di siang bolong ketika dia sadar, flashbacks – peristiwa tragis itu terjadi lagi secara rinci), mati rasa (kosong, tidak bisa merasakan apa-apa); berusaha menghindari hal-hal yang mengingatkan kembali akan peristiwa itu (tidak mau melihat rekaman video yang dia buat sendiri, menjadi ketagihan merokok, mencuri untuk mengekpresikan kemarahannya, tangan jadi jahil semula tidak dan sebagainya); meledak-ledak (serangan panik, mudah marah, mudah tersinggung, tak bisa tenang), kecemasan berat (kecemasan yang sangat mengganggu, obsesif, kompulsif, merasa sendirian sama sekali), dan depresi berat (merasa tak berguna, tak ada harapan sama sekali, tak ada gunanya, tak ada artinya, semua menyedihkan).
73. Semoga hal ini tal terjadi di Aceh dan Nias. Menurut berbagai penelitian dan pengalaman saya sendiri, prevalensi usaha bunuh diri di antara survivors yang mengalami pengalaman kehilangan dan kedukaan yang tragis dan traumatic seperti GBGT – adalah tinggi. Risiko untuk usaha bunuh diri biasanya ada. Menurut pengamatan saya, rasio usaha bunuh diri yang paling tinggi di kabupaten di Indonesia adalah Gunung Kidul (dibandingkan dengan jumlah populasi). Saya beruntung karena sejak 2000 2003, saya sehari-hari menghabiskan sebagian hidup saya di kabupaten ini. Menurut pengamatan saya secara seliontas, kasus-kasus itu pada umumnya berkaitan dengan kehilangan dan kedukaan. Rata-rata 1 orang/minggu berhasil bunuh diri. Saya perkirakan jumlah orang yang berusaha bunuh diri dua kali lipat (sebagian tidak berhasil).
74. Tak jarang tindakan bunuh diri oleh orang lain dianggap sebagai jalan pintas, jalan paling mudah atau jalan paling buruk. Sebaliknya bagi pelaku sendiri (mungkin survivor) jalan itu merupakan “jalan yang paling baik” untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Ada perbedaan cara berpikir yang dalam antara survisor dengan orang di sekitarnya atau bagi petugas layanan psikologis atau orang-orang yang tidak mengalami peristiwa itu secara langsung. Keberadaan orang lain yang bersikap empatik dan trampil mendengarkan akan mengurangi tekanan batin itu dia merasa ada teman yang bersedia menerima dia sebagaimana adanya melihat secercah harapan.
75. Jangan beri nasihat murahan, dogmatik, moralistik. Nasihat demikian justru akan memperparah situasi. Orang demikian sedang tidak membutuhkan nasihat atau kotbah, melainkan teman seperjalanan pendamping yang memahami dan menerimanya secara penuh dan utuh. Tidak lebih dan tidak kurang.
76. Memang obat anti-depresan untuk sementara dapat membantu. Sudah barang tentu obat-obat ini harus diberikan oleh profesi medis.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kedalaman Derita Batin Paska Bencana Traumatik
77. Bentuk atau sifat yang hilang. Maujud Versus Mujarad. Kehilangan yang mujarad (abstrak) jauh akan menimbulkan persoalan-persoalan psikologis yang berkepanjangan dan kronis. Survivors tidak hanya kehilangan hal-hal yang tampak melainkan juga hal-hal yang tidak tampak: kesempatan, cita-cita, silaturohmi antar sesama anggota masyarakat, ikatan-ikatan sosial keagamaan, adat-istiadat (paling tidak untuk sementara tak dapat melakukannya), dan sebagainya.
78. Cara kehilangan. Biasa Versus Tragis. Semakin tragis peristiwa semakin menimbulkan goncangan psikologis. GBGT jelas-jelas sangat tragik dan traumatik.
79. Jangka waktu kehilangan. Sementara Versus Permanen. Semakin permanen kehilangan semakin menimbulkan goncangan. Dalam bencana GBGT jelas banyak survivors kehilangan banyak hal atau bahkan ada orang yang kehilangan segala sesuatu secara permanen. Hal demikian pasti akan menimbulkan dampak psikologis yang sangat kompleks dan berat.
80. Lapisan kehilangan. Tunggal Versus Bertumpuk. GBGT jelas sekali menimbulkan kedukaan yang bertumpuk-tumpuk dalam waktu yang sangat singkat. Kehilangan anggota keluarga, kemudian kehilangan rumah, kehilangan lahan pertanian, kehilangan komunitas, kehilangan pekerjaan, kehilangan simpanan uang, kehilangan aktifitas sosial-kemasyarakatan-keagamaan, dan sebagainya. Makin bertumpuk kedukaannya makin dalam kedukaannya, apalagi dalam waktu yang sangat singkat. Mereka tidak hanya merasakan kesuraman masa lalunya (depresif), melainkan juga hopeless (putus asa) dan helpless (merasa tidak ada yang segera menolong; pemerintah dan pihak-pihak lain terlambat menolong. Helpless ini dapat menjadi bencana kedua secara psikologis.
81. Kemudian, orang-orang, khususnya anak-anak, bahkan yatim piatu sekali pun, tanpa ba-bi-bu diocomot dari lingkungannya, menjadi rootless (kalau berita-berita itu benar). Tujuannya mulia. Menolong. Namun secara psikologis itu dapat menjadi bencana ketiga bagi survivor. Cara yang paling baik, kita harus bersabar dan melakukan hal itu secara bijaksana dan hati-hati. Misalnya menggunakan kerangka 3 bulan, pertama-tama anak-anak itu harus dipelihara oleh negara, petugas psikologis mencari anggota keluarga, orang terdekat atau kerabat, sekampung, atau semesjid, sesekolahan. Kemudian, gunakan kerangka kerja yang lama selama 6, 9 dan 12 bulan.
82. Pemindahan mereka keluar Aceh dan Nias oleh siapa pun juga harus menjadi pilihan terakhir. Sekali lagi mereka harus tetap dirawat di wilayah bencana. Itu harus menjadi pilihan utama penanganan anak-anak yang masih survive. Kecuali mereka memiliki anggota keluarga di luar Aceh yang betul-betul bersedia menampung mereka sampai akil balik. Kemudian, setelah waktu berjalan 12 bulan barulah alternatif terakhir dilakukan. Ini pin harus dilakukan secara hati-hati. Ingat mereka adalah anak-anak manusia yang memiliki nilai-nilai sesuai dengan fitrah penciptaan-Nya.
83. Nilai obyek yang hilang. Rendah Versus Tinggi. Makin tinggi nilai yang diberikan pada obyek yang hilang, makin dalam kedukaan dan goncangan batin yang dialami oleh survivors. Kalau kita mengamati dengan seksama peristiwa GBGT di Aceh dan Nias, kondisinya memang mengenaskan. Begitu banyak obyek yang hilang, dari yang paling sederhana sampai yang paling berharga. Orangtua, kakak adik, anggota kerabat yang lain, sawah, ladang, pekerjaan, mata pencaharian lain, rumah, tabungan, kendaraan, jalan-jalan, kampung, sistem sosial, mesjid, menasah dan sebagainya. Sangat dalam penderitaan mereka. Perbedaan kedalaman kedukaan di antara mereka adalah sejauh mana nilai obyek yang hilang dari setiap orang, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat.
84. Tingkat hubungan emosional. Dangkal Versus Dalam. Selain kedalaman kedukaan dipengaruhi oleh nilai obyek yang hilang, kedukaan juga dipengaruhi oleh kedalaman hubungan emosional orang yang kehilangan dengan obyek yang hilang. Sebagai contoh, seorang ayah yang ikut tewas dalam bencana itu, mungkin akan berdampak lebih buruk pada anak A karena dia memilikli hubungan emosional yang lebih dalam daripada anak B. Kedukaan, seorang imam sebuah masjid mungkin akan lebih dalam dibanding dengan kedukaan seorang guru sekolah. Sama-sama kehilangan masjid di kampungnya. Namun karena imam itu memberi nilai yang lebih tinggi dan memiliki hubungan emosional yang lebih dalam daripada guru itu, maka dia mengalami kedukaan yang lebih dalam. Masih banyak contoh lain bisa dikemukakan. Pak Amin seorang anggota DPR yang memenangkan di daerah pemilihan A, akan lebih berduka daripada pak Sofyan karena seluruh daerah pemilihan A hancur lebur. Harapan untuk memenangkan daerah pemilihan A itu di tahun 2009 tidak pernah akan ada. Kini dia mewakili siapa? Tidak ada.
85. Tingkat silaturohmi masyarakat secara keseluruhan dalam komunitas tertentu. Basa-basi Versus Berkulitas. Semoga hal ini tak terjadi di Aceh atau Nias. Menurut pengamatan saya, ada sebuah masyarakat yang secara formal memiliki hubungan yang akrab dan rukun dalam arti yang sesungguhnya. Namun ada juga sebuah masyarakat yang secara formal hidup rukun, namun sebenarnya itu hanya basa-basi. Silaturohmi mereka hanya bersifat structural, namun secara sosial silaturohmi tidak dalam atau ekistensial. Mereka tidak saling mempedulikan dan mendampingi dalam arti yang sebenarnya. Dalam hal ini makin basa-basi silaturohmi anggota masyarakat makin dalam pengalaman kedukaannya. Tak jarang masyarakat tidak memiliki sikap empati dan ketrampilan mendengarkan ketika menghadapi kehilangan dan kedukaan, apalagi yang tragis dan traumatik. Kondisi demikian sangat jelas akan mempengaruhi kedalaman kedukaan seseorang, keluarga, komunitas atau sekelompok masyarakat.
86. Betapa pentingnya orang, keluarga, komunitas atau sekelompok orang memiliki kelompok pendukung (support group) secara psikologis. They know where they belong to. Dan betapa pentingnya juga mengembangkan masyarakat yang memiliki jiwa kepedulian dan kependampingan yang dalam. Betapa pentingnya juga mendidik dan melatih masyarakat atau sebagian anggota masyarakat untuk memiliki sikap empati yang benar dan ketrampilan mendengarkan.
87. Visi kehidupan. Jelas Versus Kabur. Makin kabur visi seseorang, keluarga, komunitas atau sekelompok orang semakin dalam pengalaman kedukaannya.
88. Kebudayaan dan Adat Istiadat. Sehat Versus Tidak Sehat (Higienik Versus Patogenik). Dalam hal ini saya juga tidak bisa memberikan komentar apa-apa tentang kondisi di Aceh dan Nias. Insya Allah suatu saat nanti, Tuhan membuka jalan bagi saya untuk ke sana. Di daerah tertentu ada kebiasaan yang tidak membolehkan orang atau masyarakat menangis ketika kehilangan dan kedukaan. “Pak/Ibu, jangan menangis ya. Semuanya sudah menjadi suratan tangan kita.” Menangis kan tidak akan mengubah nasib kita. Bapak/Ibu itu sudah menjadi nasib kita. Pasrah saja. Nanti semuanya kan beres.”
89. Kalau saya boleh memberi komentar, ungkapan klise demikian mungkin tidak akan memberikan kesempatan kepada penduka untuk mengalami kedukaannya secara utuh dan penuh. Memang terus-menerus menangis, dalam waktu yang lama tidak sehat. Namun tidak boleh menangis sama sekali juga sama tidak sehatnya”. Ada waktunya untuk menangis, ada waktunya untuk tertawa, ada wakltunya untuk bergembira. Saya sangat terkesan dengan sebuah buku saku kecil berjudul Menangislah Jika Memang Ada Alasan yang ditulis oleh Muhammad Ibrahim Siraj (2003). Dalam buku itu para nabi junjungan dan orang suci lain pun menangis (Muhammad Ibrahim Siraj, 2003: 50-83), bila memiliki alasan kuat untuk menangis. Menurut penulis, menangis memiliki kekuatan penyembuhan (therapeutic power atau energy). Silakan menangis kalau memang ada alasan untuk menangis. Menangislah pada waktu dan tempat yang tepat.
90. Menurut pengalaman banyak survivors bencana alam yang mengalami tingkat depresi yang berat, karena tidak sempat menangis ketika mengalami peristiwa yang traumatik. Banyak gangguan mental dan perilaku menimpa orang-orang yang ketika mengalami kehilangan dan kedukaan bersikap kalem, kuat dan tidak menangis. Coba saja lakukan observasi partisipasi dalam kehidupan orang-orang yang menjadi pembunuh berdarah dingin. Atau orang-orang yang semula tampak saleh, religius, ramah tiba-tiba mengejutkan banyak orang karena membunuh orang lain (bahkan orang yang dikasihinya) secara keji. Bisa jadi mereka mengalami kehilangan dan kedukaan yang tidak diselesaikan secara tuntas. Mungkin juga mereka tidak sempat menangis. Kondisi demikian sangat berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk lingkungannya.
91. Tingkat antisipasi. Ada Versus Tidak Ada Antisipasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa bencana yang diantisipasi akan memiliki dampak psikologis yang lebih ringan daripada yang tidak diantisipasi. Inilah pentingnya disaster education atau training. Pendidikan dalam hal ini bukan berarti harus masuk kurikulum sekolah resmi. Pendidikan bisa menggunakan berbagai media: tatap muka, cetak dan elektronika. Juga lembaga adat-istiadat dan keagamaan perlu dimanfaatkan untuk pendidikan ini. Peringatan dini akan terjadinya bencana sangat berguna. Latihan, simulasi dan sejenisnya memiliki arti penting juga untuk mengurangi dampak psikologis bencana. Seperti di Nias, mungkin media lonceng gereja dan kapel bisa digunakan. Di Aceh mungkin media bedug masjid dan menasah atau nyanyian khusus lain bisa dimanfaatkan. Di Jawa kenthongan, bedug dan lonceng gereja atau juga radio, televisi, media cetak secara serentak bisa dilibatkan secara terintegrasi. bisa digunakan bukan hanya ketika bencana sudah benar-benar terjadi, melainkan bisa digunakan dalam rangka drill, simulasi atau latihan menghadapi bencana.
Hal-hal Yang Sebaiknya Kita Lakukan
92. Melakukan layanan psikologis paska bencana membutuhkan perencanaan yang matang, kepekaan batin (bersikap empatik dan trampil mendengarkan), ketegasan, fleksibilitas, dan common sense. Dengan melihat kondisi lapangan yang ada, maka layanan ini tidak harus dilakukan oleh kaum professional layanan, namun bisa juga dilakukan oleh pengemban profesi lain yang ingin memiliki nilai tambah dalam pelayanannya, paling tidak dalam tingkat primer. Kemudian, layanan ini juga bisa dilakukan oleh para volunteers dengan berbagai latar belakang keahlian dan pengalaman. Dalam hal ini paling tidak juga dalam tingkat primer. Justru tugas pengemban layanan psikologis professional adalah memperlengkapi mereka. Bahkan secara berulang-ulang sudah dikemukakan bahwa orang setempat sendiri juga harus dilibatkan. Jangan biarkan mereka menjadi penonton.
93. Prioritas pertama Anda adalah menjadi anggota tim. Hormati dan bekerjalah melalui jalur komando dan koordinasi yang ada di lapangan. Ingat layanan Anda tidak hanya untuk survivors melainkan juga anggota team lain. Berikan layanan psikologis dasar bagi survisors dan anggota team sukarelawan/wati lain, sehingga mereka merasa ada sesama volunteers yang memperhatikan dan peduli akan kehidupan mereka.
94. Prioritas kedua adalah melakukan perjumpaan dan menciptakan hubungan pribadi baik dengan survisors maupun petugas lain. Tanyakan bagaimana kondisi mereka. Berikan bantuan konkret lain bila memang diperlukan.
95. Prioritas ketiga lakukan konseling dengan dan bagi survivors dan bila perlu pekerja lain. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang terbuka, sehingga mereka dapat mengalami pengalamannya secara utuh dan penuh.
96. Prioritas keempat adalah lakukan asesmen secara hati-hati dan seksama, faktor-faktor risiko, persoalan-persoalan yang simptomatik atau persoalan-persoalan kesehatan lain. Temukan dan lakukan rujukan dengan bijak.
97. Jaga harga diri, kesehatan, keselamatan, dan privasi survivors dan anggota team yang lain. Kalau Anda akan merujuk pada pihak lain sebaiknya atas sepengetahuan dan seijin sasaran layanan kalau tidak mungkin harus dilakukan atas sepengetahuan dan seijin orang terdekatnya.
98. Arahkan sasaran layanan ke pihak-pihak yang memiliki relasi dengannya; bantulah mereka untuk mengatur diri, memilih prioritas dan membuat perencanaan akan hidupnya pada masa depan.
99. Hubungkan mereka dengan anggota keluarga, kelompok peer, komunitasnya dan layanan-layanan lain.
100. Deteksi secara dini pada kelompok-kelompok yang mungkin akan menderita persoalan psikologis berat. Dan berikan bantuan krisis psikologis seperlunya pada kelompok itu. Kemudian pilihlah dan lakukan rujukan kepada layanan-layanan lain yang relevan.
101. Bila memungkinkan dan sesuai dengan budaya setempat, gunakan bahasa non-verbal (sentuhan tangan, penumpangan tangan, penggunaan minyak dan sebagainya untuk trauma, stress and distress releasing dan healing.
Hal-hal Yang Sebaiknya Tidak Kita Lakukan
102. Jangan mudah memberi nasehat; jangan mudah memberi hiburan palsu; jangan bekerja sendiri tanpa memperhatikan anggota team lain (interprofession and intraprofession); ciptakan kerjasama yang baik dengan mereka; jangan bocorkan rahasia hidup atau cerita sasaran layanan Anda pada pihak lain tanpa sepengetahuan dan seijin mereka; jangan bicarakan kasus layanan kepada pihak lain yang tidak berkepentingan atau di sembarang tempat; jangan katakan “semua itu kehendak Tuhan”; Jangan katakan “Itu semua kutukan Tuhan”; Jangan katakan “Itu semua ujian atau cobaan dari Tuhan”. Komentar-komentar demikian akan memperberat goncangan batin dan mungkin mengganggu mereka mengalami pengalamannya secara utuh dan penuh. Gunakan doa, ayat-ayat suci, ungkapan-ungkapan lain sesuai dengan kebutuhan dan proses. Dalam kondisi traumatik orang belum siap menerima ceramah dan teori tertentu. Kita harus bersabar. Jangan berdebat dengan sasaran layanan, baik itu survisors maupun pekerja lain. Jangan mempersoalkan, mendiskusikan, atau mempersalahakan keyakinan atau ideology tertentu sasaran layanan. Kemudian, jangan menjelek-jelekkan pihak lain atau petugas lain. Lakukan apa yang terbaik dalam koordinasi dan komunikasi dengan pihak lain.
103. Jangan memberi sesuatu janji yang tidak dapat Anda lakukan atau penuhi. Jangan mengingkari janji. Bijaksanalah menggunakan kata-kata dan kehadiran pribadi Anda (mungkin juga sentuhan). Jangan salah gunakan hubungan Anda untuk memenuhi kebutuhan psikologis Anda. Jangan salah gunakan kepercayaan sasaran layanan. Ingat mereka sangat rentan secara psikologis. Hindari hubungan pribadi yang menjurus ke hal-hal yang negatif. Jangan sampai layanan Anda menimbulkan ketergantungan emosional yang dalam. Ini akan menimbulkan persoalan lain bagi sasaran layanan Anda.
Rekomendasi Untuk Jangka Pan jang
104. Hal-hal yang akan dikemukakan ini sebenarnya telah saya kemukakan di sana-sini. Namun saya ulangi lagi untuk menegaskan betapa pentingnya hal-hal ini bagi pihak-pihak terkait. Pembelian alat-alat canggih untuk deteksi dini GBGT penting. Namun jauh penting adalah dengan melibatkan seluruh potensi masyarakat melakukan penerangan, pendidikan, latihan, simulasi dan sebagainya secara reguler da berkelanjutan. Ingat bagaimana Nabi Nuh, membuat kapal ketika menghadapi air bah? Itu bagai kita melakukan latihan menghadapi GBGT. Kita perlu belajar dari Nabi Nuh. Temukan “local wisdom” untuk melakukan itu semua. Saya yakin pasti ada local wisdom yang dikembangkan oleh nenek/kakek moyang kita. Kita harus merevitalisasikan hal itu semua. Semua itu harus dilakukan secara terintegrasi. Libatkan juga semua jenis media massa yang ada.
105. Saya challenge teman-teman, kolega, praktisi, ahli, peneliti perilaku (psikologis) dari semua agama dan bangsa untuk melakukan sesuatu mengubah perilaku “penjarah harta benda kelas berkaos oblong dan berdasi” terlebih lagi ketika paskah bencana seperti di Nias dan Aceh terjadi. Kita sebaiknya tak hanya berputar-putar di sekitar inidividu. Gunakan studi ektensif dan intensif kita tentang perilaku untuk menangani penyakit sistemik dan cultural yang akut-kronis-patologis. Sudah terbukti sistem peradilan dan pemenjaraan tidak atau kurang menolong. Sebaiknya ada rekayasa psikososial. Penyakit akut-kronis-patologis sudah terjadi. Sedang terjadi. Dan, kemungkinan besar akan terjadi. Kita tak boleh menutup mata. Dasar perubahan yang mendasar dan kukuh adalah mengakui kesalahan, mengalami keadaan kita sekarang secara penuh dan utuh. Kemudian dilakukan tindakan koreksi. Pejabat pemerintah sebaiknya tidak menutup-nutupi kekurangan yang ada. Akui dan terima serta alami secara penuh dan utuh, kemudian mengubah, menyembuhkan dan menumbuhkan diri.
106. Pemerintah dan pejabatnya yang mengemban amanah menyejahterakan seluruh bangsa dan negara sebaiknya bersikaplah wajar. Bersikap normal ketika masa normal. Namun bersikap normal ketika keadaan tidak normal adalah tidak wajar. Mungkin perlu juga mengembangkan contingency plan, drill, simulasi dan sebagainya mengembangkan sistem komando yang fleksibel, tak berbelit-belit ketika terjadi bencana alam atau hal-hal lain yang tidak normal.
107. Kembangkan manual, guidelines, pedoman, petunjuk secara tertulis dan disebarluaskan pada masyarakat. Siapa melakukan apa, kapan dan di mana. Pedoman ini harus diterapkan, dilatih, disimulasikan secara reguler dan berkelanjutan. Seiring dengan itu perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian bila diperlukan.
108. Perlu dilakukan pelatihan secara reguler dan berkelanjutan tentang pendampngan secara psikologis, bagi semua tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, guru, pejabat pemerintah. Agar mereka dapat bersikap empati dan trampil mendengarkan. Khususnya para pemimpin umat beragama dan kaum ulama dari semua agama memang sangat perlu dilengkapi dengan ketrampilan pendampingan psikologis. Peranan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dalam hal ini sangat penting. Usaha-usahakan usaha-usaha ini sebagai kegiatan interfaith dan interreligion effort. Ketrampilan psikologis akhirnya akan merupakan asesori yang akan mempercantik ketrampilan teologis keagamaan mereka. Bila dilakukan dengan baik, tahap demi tahap, lintas agama, ini akan merupakan proses penciptaan budaya dan peradaban baru Indonesia. Dan, bahkan mungkin dunia. Mungkin belum semua pihak siap melakukannya. Namun yang sudah siap silakan memulainya. Dan ini semua diharapkan merupakan sumbangan bagi pembentukan The Great Indonesia dan sekaligus untuk peradaban manusia universal. Insya Allah. Keberagamaan kita akan menjadi keberagamaan yang higienik dan bukan patogenik.
109. Perlu dilakukan observasi partisipatif, penelitian kuantitatif dan kualitatif, case study dan sebagainya psikologis serta dilengkapi dengan presentasi publik, dokumentasi dan publikasinya secara teratur dan berkelanjutan. Paling tidak selama 36 bulan ke depan. Lembaga donor, NGO lokal/internasional, perusahaan bisa melakukan funding untuk usaha-usaha semacam. Insya Allah akan ada hasil-hasil penelitian secara tertulis yang dapat digunakan oleh masyarakat banyak. Brosur, selebaran, buku saku perlu diterbitkan dan disebarkan di wilayah potensial bencana.
110. Kelompok volunteer laki-laki dan perempuan perlu diciptakan. Kamu muda relawan/wati yang tidak terkotak-kotak (menurut bangsa, agama, warna kulit, partai, aliran, tarekat dan sebagainya) perlu dibentuk dan dilatih secara terus-menerus dan berkelanjutan. GBGT yang begitu ganas, kompleks dan masif perlu dijadikan momentum untuk mengembangkan hal ini.Penutup
111. Hampir seminggu saya bersamadi di puncak Gunung Halilintar, Pegunungan Menoreh. Kini waktunya saya turun gunung untuk melihat keramaian kota. Terimakasih Anda berkenan bergumul bersama saya. Insya Allah, pergumulan kita berguna. Kutipan, penggandaan dapat dilakukan dengan mencantumkan nama, alamat dan email yang tertera ini. Kalau ada tanggapan, kritik dan saran silakan. Atau ada teman-teman yang ingin membagikan pengalaman, pengamatan, observasi partisipasi, studi kasus, deskripsi fenomeneloginya di lapangan, silakan; saya akan sangat senang dan bersyukur menerimanya. Pondok “Tridharma Manunggal”, Gowok RT 1, RW 1, Kebonharja, Kulon Progo 55673, Email: tridharma@ygy.centrin.net.id.
Anggota tim bantuan internasional Tiongkok Wu Min baru-baru ini menyelesaikan tugasnya di daerah bencana tsunami dan kembali ke tanah air. Wartawan sempat mewawancarainya. Wu Min masih kelihatan sangat letih, selalu merasa badan lemas, tidak dapat tidur pulas, nafsu makannya berkurang sehingga berat badannya menurun banyak. Walaupun telah kembali ke rumahnya, tapi masih terbayang-bayang di benaknya keadaan malapetaka daerah bencana tsunami, bahkan sulit dihapuskan dari ingatannya. Wu Min mengatakan, ia mengalami banyak kejadian dalam melakukan kegiatan bantuan kepada korban di daerah bencana, dan juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri keadaan malapetaka tersebut. Karena hati dan perasaan terpukul keras serta bekerja berat di daerah bencana, Wu Min kelihatan agak depresi.
Dokter terkait mengatakan, intervensi krisis psikologis merupakan masalah yang tidak dapat dihindarkan dalam kegiatan pertolongan bencana. Masalah tersebut tidak saja hinggap di kalangan korban bencana alam, tapi juga menyebar di kalangan anggota tim bantuan internasional. Mereka walaupun telah kembali ke negerinya, tapi pengalaman yang luar biasa itu, ditambah pekerjaan yang luar biasa beratnya, serta mendengarkan dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan malapetaka, kesemua itu telah menjadikan pukulan berat bagi psikologis mereka.
Wu Min dalam kenangannya mengatakan, begitu tiba di daerah bencana, karena di lapangan bencana masih belum dibersihkan, tampak banyak jenazah bergelimpangan di mana-mana dan mulai membusuk, yang paling mengenaskan ialah jenazah anak-anak. Personel yang membersihkan jenazah-jenazah pasti memikul tekanan psikologis yang besar, banyak jenazah bengkak karena terendam air laut, dan segera terkoyak begitu diangkat. Ada suatu hal yang menggebrak hati Wu Min, pada hari pertama mengadakan inspeksi ke rumah sakit, dia melihat seorang berpakaian putih duduk di atas bangku di tengah-tengah jalan dengan tidak menghiraukan hilir mudiknya kendaraan di pinggirnya. Ekspresi wajah orang itu hilang, mata kuyu tak berseri, bahkan tidak berkejap sedikitpun terhadap mobil yang berlaju cepat di sisinya. Reruntuhan yang direndam air laut di sekitarnya adalah rumahnya, dan dia adalah satu-satunya orang yang selamat di antara semua anggota keluarganya. Dia beruntung, karena masih hidup, tapi ia sangat malang karena mentalnya diluluh-lantakan oleh malapetaka tsunami.
Tim bantuan internasional Tiongkok pernah menemui seorang petani yang sekuat tenaga membantu pekerjaan tim. Sebelum terjadinya malapetaka tsunami, seluruh anggota keluarganya berjumlah 54 orang, tapi sekarang hanya tinggal dia sebatang kara. Dikatakannya, begitu matanya melek, dia harus terus bekerja keras, kalau tidak, akan terbayang terus wajah anggota keluarganya satu persatu. Dia tidak dapat menanggung kepedihan itu, hanya dengan bekerja berat tak henti-hentinya baru dapat menyelamatkan dirinya dari gangguan psikologis.
Trauma yang mengendap di lubuk hatinya para anggota tim bantuan internasional Tiongkok juga tidak sedikit, dengan manifestasinya bercerita tak habis-habisnya atau bungkam dengan seribu bahasa.
Pakar Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) mengatakan, bencana alam apa pun dapat mengakibatkan trauma hebat pada orang yang mengalami sendiri. Trauma itu juga berbeda sehubungan dengan lingkup dan taraf malapetaka. Penelitian terhadap malapetaka yang menghancurkan seperti gempa bumi, kebakaran, tornado dan lainnya menemukan, bahwa mayoritas mutlak orang yang selamat pada akhirnya harus hidup dalam kenangan yang mengerikan. Dan yang selalu tenggelam dalam kepedihan, tidak sedikit di antara mereka mudah terserang penyakit mental kronis atau bersikap acuh tak acuh, kesemua itu mudah mengakibatkan pengucilan diri oleh mereka.
Orang yang mengalami trauma serius perlu mendapat perhatian dalam jangka panjang, masalah mereka tak mungkin dipecahkan oleh penasehat psikologis atau mendapat pelayanan beberapa jam saja dari pekerja kesehatan mental.
Penelitian menunjukkan, setelah mengalami kerugian hebat atau menyaksikan malapetaka serius, pasti terdapat 5 hingga 10 persen orang yang kehilangan kontrol emosi, lemah saraf dan gangguan trauma lainnya. Sindrom tersebut kalau berubah menjadi kronis, sungguh-sungguh mengkhawatirkan, sindrom tersebut dapat kambuh lagi mungkin dalam beberapa bulan kemudian atau beberapa tahun mendatang.
Selain mereka yang selamat dan keluarga korban, sebagian anggota tim bantuan juga mudah mengalami ganguan mental beraksi.
Berdasarkan teori terkait, gangguan pascatrauma diakibatkan perusakan keseimbangan lingkungan intern oleh lingkungan ekstern, tapi dapat dikontrol melalui reaksi pengelakan, tapi kerisauan berkisar pada masalah tersebut tetap ada, maka muncul serentetan sindrom dalam taraf yang berbeda.
Analisa pakar terkait menunjukkan, seusai mengalami malapetaka hebat seperti tsunami, baik personel tim bantuan atau korban bencana yang selamat tetap mengalami gangguan psikologis, termanifestasi pada kerap terbayang-bayang keadaan tragis itu, seperti film diputar di benaknya, mudah marah, insomnia, kepala pening dan lain sebagainya.
Pakar terkait mengingatkan, waktu terbaik pengobatan trauma tersebut dalam 4 pekan setelah terjadinya malapetaka. Kalau dalam kurun waktu ini diadakan intervensi psikologis yang tepat, masalah psikologis akan berkurang sendirinya seiring dengan lewatnya waktu. Namun kalau sindrom tersebut tidak dapat disembuhkan dalam 1 hingga 3 bulan, gangguan psikologis itu akan memberat, dan setelah berlarut-larut 1 hingga 2 tahun, penanganan dan pengobatannya makin sulit, mudah mengakibatkan komplikasi depresi atau risau, yang berat bahkan memicu bunuh diri.
Bantuan psikologis memerlukan pembicaraan tatap muka dan pengobatan sekaligus. Pembicaraan tatap muka psikologis perlu pihak yang berkepentingan mengutarakan sedapatnya pengalaman trauma, perasaan dan emosi yang depresi, dan di bawah pengarahan dokter psikologi, mereka dibimbing untuk keluar dari bayangan gelap, melepaskan dirinya dari gangguan psikologis, serta mengkonsumsi obat-obatan anti risau.
Pakar berpendapat, intervensi psikologis terhadap anggota tim bantuan medis yang telah kembali ke tanah air harus diadakan secara terpusat, terhadap orang yang mengidap sindrom agak berat dapat diadakan pengobatan tunggal. Selain itu, bertugas secara bergilir ke daerah bencana juga merupakan cara mengatur tekanan psikologis. Bekerja berat dalam jangka panjang mudah membuat orang timbul deviasi psikologis, jangan menunggu terserang sindrom gangguan psikologis baru mengupayakan bantuan psikologis.
Malang, 12 Februari 2008