GUGATAN KEBUDAYAAN TERHADAP KAPITALISME MEDIA

Kebudayaan dipahami sebagai segala hasil karya akal budi manusia untuk meningkatkan kualitas hidup dan peradaban manusia. Idealnya, manusia sebagai pencipta kebudayaan tersebut harus juga menjadi pengendali lajunya. Namun begitu ironis, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat di jaman modern ini berbalik mengendalikan setiap gerak hidup manusia dalam sebuah sistem kapitalisasi dan industrialisasi.

Adanya industrialisasi membawa banyak dampak negatif terhadap perubahan kebudayaan hakiki manusia sebagai makhluk di bumi yang seharusnya dapat hidup selaras dengan entitas-entitas lain sesama ciptaan Tuhan di bumi. Ekosistem bumi menjadi tidak seimbang karena eksploitasi alam besar-besaran yang dilakukan para pemodal untuk meningkatkan produksinya tanpa mengimbanginya dengan konservasi yang benar. Banjir, gempa bumi, tsunami dan global warming adalah hal yang logis yang diakibatkannya.

Manusia semakin teralienasi dari kesadaran manusiawi dan budaya akibat nilai-nilai kesenangan dan hiburan yang telah dikemas melalui media sebagai sarana pengokohan dominasi pemodal. Kebutuhan manusia telah ditentukan oleh iklan di televisi yang mengimingi prestise, hadiah-hadiah dan gaya hidup eksklusif.

Pendidikan formal di negeri ini juga menjadi obyek intervensi kekuasaan kapitalisme. Hampir semua unsur yang ada di sekolah atau universitas dari A-Z telah disusupi oleh strategi pasar bebas kapitalisme. Kurikulum yang dikembangkan penuh nilai-nilai prgamatis -pesanan dunia kerja dan industri-, orientasi institusi pendidikan pun bergeser menjadi institusi yang berbasis bisnis, hingga berakibat rapuhnya kekritisan dan kreativitas siswa.

Sama halnya yang terjadi di bidang kesenian yang dipahami sebagai wujud konkrit dari kebudayaan. Secara praktis, prinsip-prinsip ini mulai luntur oleh intervensi kekuatan modal, Walaupun secara dialektis prinsip-prinsip kesenian masih banyak dipegang teguh. Prinsip materialistik mulai dikedepankan. Nampak kecerdikan kapitalisme global yang mampu mengarahkan prinsip hidup manusia menjadi materialistik melalui tekanan kebutuhannya. Perilaku manusia menjadi konsumtif, ketergantungan terhadap hal-hal yang instant dan materiil.

Pengaruh dan strategi kapitalisme melalui tekanan ekonomi dan industrialisasi mampu menyusup ke dalam otak dan hati manusia melebihi doktrin agama. Bahkan agama pun mampu mereka manfaatkan sebagai alat untuk mendukung dan menjalankan strategi mereka.

Idealisme itu harus diwujudkan sebisa mungkin. Karena banyak negara-negara besar pemilik modal mengincar keluhuran nilai budaya Indonesia. Seperti yang diprekdisikan oleh John Naisbitt bahwa ketika sumber daya alam dunia sudah menipis maka kekuatan ekonomi ditentukan oleh bidang pariwisata (Fred W.hlm. 82-95).

Dengan bahasanya yang lugas dan mudah dipahami walaupun cenderung emosional -karena mungkin kegelisahan yang mendalam dirasakan oleh penulis akan realitas kebudayaan bangsa saat ini-, kritikan terhadap realitas sosial budaya bangsa saat ini disintesiskan dengan cerita-cerita budaya tradisional yang sarat ajaran moral.

Budaya tradisional Indonesia sudah dikondisikan menjadi obyek untuk mengikuti selera wisatawan, bukannya subyek yang harus berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kekayaan budaya. Ujungnya, kita merasakan pahitnya ketika seni tradisional budaya kita –reog ponorogo- diakui oleh negara lain.

Kondisi ini menimbulkan sebuah paradoks. Ketika seniman dan budayawan diharuskan memelihara jati diri dan nilai-nilai luhur seni-budaya bangsa, mereka telah dihadapkan pada tekanan berat dari sistem kapitalis menyangkut kebutuhan dasar yang makin tinggi di era modern ini. sekali lagi, nilai materialistik yang ditekankan oleh kapitalisme menjadi lebih kuat dari idealisme seniman. Hal itu sebenarnya bisa dicegah jika pemerintah proaktif menjadi fasilitator –membuat database atau hak paten karya seni-budaya tradisional- dan memberikan kompensasi materiil kepada para seniman kreatif agar mereka bisa terus aktif memelihara dan membangun seni-budaya bangsa.

Adanya institusi pendidikan atau sentra-sentra kesenian ternyata tidak mampu mengakomodir kebutuhan hakiki eksistensi kesenian itu sendiri. fengsi mereka tidak lebih seperti institusi-institusi pendidikan lain yang menjadi kepanjangan tangan pemilik modal dalam kuasa industrialisasi (Fred. Hlm.102-120).

Sebagai orang yang banyak berkecimpung di dunia media, Fred banyak menyinggung peran teknologi-informasi dalam membentuk budaya negatif di ranah sosial kemasyarakatan. Media telah menjadi sarana pendidikan non-formal yang sangat bermakna bagi manusia modern ini dibanding pendidikan formal.

Pengaruh televisi terhadap masyarakat khususnya kaum muda dan anak-anak melalui program-program unggulan mereka yakni program kuis, infotainment/gossip dan sinetron. Ketiganya begitu mudah merasuki dan membentuk peta kognisi masyarakat di hampir seluruh kategori usia.

Begitu kuatnya pengaruh tayangan program dan iklan televisi terhadap pembentukan pola hidup dan menjadi kebutuhan masyarakat ini kemudian menimbulkan stigma-stigma bahkan nilai baru yang dianut di masyarakat umum. Kehidupan dalam sebuah cerita sinetron seolah-olah menjadi realitas kehidupan yang harus diikuti oleh masyarakat, seorang wanita baru diakui cantik jika memakai produk kecantikan tertentu atau bahkan stigma bahwa seorang wanita harus langsing jika ingin dikatakan cantik akibat iklan produk pelangsing tubuh. Sikap diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan masyarakat atas pengaruh media pun tak dapat dihindari. Pada intinya, masyarakat dituntut untuk terlibat secara emosional ketika merespon tayangan televisi –program reguler maupun iklan- daripada mengajak mereka untuk berpikir.

Anak-anak pun tak ketinggalan terjebak dalam jerat pengaruh tayangan kekerasan di televisi. Telah banyak diberitakan tentang anak yang bunuh diri atau membunuh temannya sendiri. Modusnya cukup mengejutkan, selain karena sedikit kebenciannya kepada temannya modus aksi pelaku juga “diilhami” oleh gaya bertarung pegulat WCW/spiderman yang sering ditontonnya di televisi. Secara psikologis memang pembelajaran visual melalui proses modeling lebih mudah diterima daripada proses belajar verbal atau tulis –dalam pendidikan formal-.

Kita memang tidak mungkin membendung derasnya arus media dan multimedia di era informasi global. Namun, penanaman kesadaran dan sikap tegas terhadap masuknya program-program media dan multimedia bisa kita lakukan. Kritikan dan gugatan Fred terhadap hegemoni kapitalisme yang menyerang buas struktur peri kehidupan dan kebudayaan manusia juga diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan solusi.

Sebagai alternatif yang dapat dilakukan adalah membangun pendidikan kesadaran media kepada masyarakat untuk membentuk dan mengembangkan sikap kritis terhadapa program-program media; televisi, video dan lain-lain. Menciptakan video forum dan pelatihan kesadaran media -yang disebut Fred dengan media awareness training- merupakan upaya yang cukup efektif dan mudah dijalankan untuk menciptakan kesadaran kritis terhadap media dengan kajian-kajian tentang program/tayangan televisi dan video. Sehingga masyarakat tidak hanya menerima begitu saja apa yang disajikan oleh media, namun lebih bisa bersikap kritis dan selektif terhadap tayangan yang akan ditontonnya. (Fred hlm. 185-214).

Pantas jika karya Fred ini diberi judul “Kebudayaan Menggugat”, karena tulisannya yang penuh kritikan dan tuntutan terhadap sistem kapitalisme global yang menyerang kebudayaan bangsa. Fred mencoba berinteraksi dengan alam pikiran pembaca melalui pertayaan-pertanyaan yang diajukan dalam tulisannya untuk memunculkan sikap kritis pembaca terhadap tema masalah dengan referensi data yang sudah disajikan dalam buku dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sendiri.

Apakah manusia menunggu dulu terjadinya air bah -akibat global warming- yang menenggelamkan seluruh bumi, sebelum terbangun kebudayaan baru dengan manusia baru? (Fred hlm 265).

Judul Buku : KEBUDAYAAN MENGGUGAT

(Menuntut Perubahan atas Sikap, Perilaku, Serta Sistem yang Tidak Berkebudayaan)

Penulis : FRED WIBOWO

Penerbit : PINUS

Cetakan : I, 2007

Tebal : 316 hlm.

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar