| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
cerpen: Senandung Kidung Kemiskinan
Sore ini, pikiranku menatap ibu tua gendong keranjang bambu dengan isi botol-botol jamu, berdesir menyisir tapak jalan tepian kota. Ibu tua diam, kaki berkerut termakan waktu, melepuh menggumpal di jalan panjang aspal. Ibu tua berharap waktu berlalu jamu-jamunya terjual, untuk membeli sebuah mimpi. Ibu tua bersama botolan jamu tanpa kualitas, hanya pelepas dahaga, bersaing dengan pedagang es cendol, pedagang es lilin dan ratusan telapak kaki yang melangkah tawarkan pelepas dahaga.
Aku bertemu teman lamaku, di kantor bursa saham itu. Jawaban atas renungan gamang langkah manusia. Ini cerita aku dan temanku, bersaing di percikan hari yang tak lagi terkendali, seperti rimba. Ya, seperti rimba binatang. Siapa yang kuat, dia yang menang. Kompetisi ini bersifat bebas lepas tak terbatas. Bahkan hukum sebagai usaha manusia mencari prinsip hidup, juga hasru pupus tergerus sebuah paham liberalisasi kapital. Sekali lagi, seperti rimba.
‘Orang-orang kita ini pemalas’. Itu jawaban pertanyaanku pada teman kini pialang saham itu, seorang manager bursa saham di kota bisnis, seorang teman yang sukses tinggal duduk-duduk mengendalikan jual beli komoditi perusahaan-perusahaan internasional yang berpusat di Wall Street USA, atas pertanyaanku ‘Mengapa kemiskinan masih menggurita di negeri ini ?’
Fikiranku lantas kembali menatap sore kemarin, ya, saat aku bersansar di warung kopi, memandang tanpa ujung penjual jamu tua di ujung jalan beraspal yang panas dan kasar. Fikiranku lantas menatap waktu kecilku, saat nenek, berangkat ke pasar Gadang Malang, naik bus setiap selepas maghrib, menata dagangan sayurannya setiap subuh di pasar Templek Blitar, kemudian pulang sore sebelum maghrib. Selepas maghrib, keranjang plastiknya telah setia menunggu dijinjing ke pasar Gadang lagi, subuh sampai Blitar lagi, dan seterusnya.
Fikiranku lantas tatap juga ribuan dan jutaan pedagang yang terlepas di gelanggang perang harga, jutaan lapak-lapak puluhan tahun terbangun dan dalam hitungan detik ludes oleh sebuah penertiban. Fikiranku terus menatap, bahkan matanya lelah kini jelas terlihat, letih dalam aura kepasrahan dan keputusasaan.
Tiba-tiba aku tertunduk, malu atas apa yang aku nikmati, atas apa-apa yang aku banggakan, aku agungkan, apa yang aku sebut presiden, gubernur, manager. tim sukses, ketua atau koordinator ini dan itu, dosen, bahkan mahasiswa. Fikiranku kini hanya menatap tajam matanya, tanpa kata teriakkan harapan, tanpa nada nyanyikan kidung kehidupan, tanpa suara teriakkan kenyataan.
Aku terhuyung, pening atas apa yang aku baca di fikiranku. Tidak! Orang Indonesia bukan pemalas! Bahkan kita ini bekerja keras, teramat keras! Akupun berteriak keras di kantor pialang saham itu, orang Indonesia adalah pekerja keras! Tetapi mengapa seluruh komoditi dan investasi kita, minyak mentah, kelapa sawit, timah, bijih besi, kedelai, jagung, semua, harus kita transaksikan di Wall Street USA hanya dengan duduk-duduk di depan komputer?
Temanku, seorang yang semangat. Temanku, seorang yang pahit manis bersama di kontrakan rumah madam Aisah, satu sayur buat seminggu, dihangatkan dan dihangatkan sampai sayur kacang yang hijau berubah pekat kehitaman. Temanku, seorang yang menemani di ranjang mimpi, bergelanyut di ladang bisnis konfeksi yang kini telah gulung tikar di kota “bersinar”. Temanku, kini adalah orang sukses, kini seorang manager yang mengatur transaksi di kantor megahya itu, sebuah mimpi panjangnya tiga tahun yang lalu. Temanku, berkata sedalam apa yang ia telah pahami ‘Kita tidak dapat menentukan harga. Pasarlah yang menentukan. Kunci suskes adalah masing-masing individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri’.
Sekali lagi, ia temanku, seorang sahabat, kawan, saudara karib yang dulu saling bersandar, hingga tiga tahun tidak bertatap muka. Detik ini, di kantornya, aku rasakan sepi bernyanyi hempaskan akan masa lalu. Pada saat yang sama, kini ia telah masuk di sebuah sistem yang jadikan asal muasal kemiskinan ini menggurita. Temanku, pada saat yang sama juga sadarkan aku atas realitas factual yang terus berlangsung. Ya, kemiskinan dan kelaparan di negeriku yang bermula saat orang-orang Eropa dan Amerika menjajah negeri ini, mengeruk seluruh komoditi, dan memusatkan perdagangan dan modal di negeri mereka. Sama seperti sekarang, iya. Sampai sekarang. Sampai kapan?
ternyata kita tidak punya apa-apa…
Ari eL Mohamed (Malang, Juli 2008)