Arsip untukTak Berkategori

KEEP SPIRIT TO OUR NEXT GENERATION

Dalam rangka persiapan dan sosialisasi gerakan nasional “Aku Juga Anak Bangsa”, Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) bersama Komunitas Psikologi se-Malang Raya mengundang seluruh civitas akademika untuk hadir pada Live Music and Talk Show “AKU JUGA ANAK BANGSA” dengan tema “Keep Spirit to Our Next Generation” di Aula Utama Universitas Gajayana Malang. Talkshow yang sedianya juga dihadiri pihak Dinas Sosial ini menyoroti berbagai berbagai kontroversi kebijakan lokal yang tidak berpihak pada pemberdayaan dan pengembangan masyarakat miskin. Datang, dukung dan bantu mereka yang tersisih oleh waktu dan kemiskinan.
Semangat dan optimisme mereka jelas tidak akan terbentuk jika lingkungan sosial tidak mendukung mereka untuk berkembang. Dukungan eksternal dari manapun sangat mereka butuhkan untuk mensosialisasikan “AKU JUGA ANAK BANGSA”. Hadir dan dukung mereka untuk membantu mereka menata kembali optimisme dan bangkit dari keterpurukan.

Kamis 3 Januari 2008 pukul 13.30
Di Aula Utama UNIGA

Tentang Komunitas Psikologi se-Malang Raya
Komunitas Psikologi se-Malang Raya adalah kumpulan mahasiswa yang belajar Psikologi di seluruh universitas di Malang. Komunitas ini berdiri sebagai apresisasi dari ikatan emosional yang kuat serta adanya kesamaan bidang Psikologi. Adapaun yang tergabung dalam Komunitas Psikologi se-Malang Raya ini adalah mahasiswa Fak. Psikologi UNIGA, Fak. Psikologi UNMER, Jurusan Psikologi UB, Fak. Psikologi UMM, dan jurusan Psikologi UIN.

HIJRAH KE IMPLEMENTASI AKTUAL RAHMATAN LIL’ALAMIN

By: Ari El Mohamed

 

Tradisi dan kebudayaan mengembangkan wajah islam lebih inovatif dan mengandung nilai-nilai spiritual dalam tataran implementasi perilaku sehari-hari. Kalenderisasi Hijriah merupakan salah satu dari warisan intelektual Khalifah Umar ibnu Khatab. Di Indonesia kalenderisasi hijriah diintegrasikan oleh Raja Mataram Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo bertepatan dengan pergantian tahun baru Saka ke 1555. Dengan tanpa melupakan warisan budaya jawa yang juga mempunyai kerangka filsafat sendiri seperti adanya Kliwon, Legi, Pahing, Pon dan Wage serta angka tahun Saka, kalender Islam menyatu dengan kalender Jawa.

Apa yang dilakukan Khalifah Umar ataupun Sultan Agung merupakan implementasi bahwa Islam datang sebagai rahmatanlilalamin, menyatu dengan kearifan realitas kontekstual sekaligus memberikan manfaat nyata. Namun visi itu kini hanya wacana yang jauh dari realitas. Sebaliknya, sampai pada akhir 2007 berita kekerasan atas nama agama masih banyak terdengar misalkan terhadap jamaah yang dianggap sesat seperti Ahmadiyah. Begitupun kekerasan atas nama agama pada perilaku dan tempat-tempat maksiat.

Implementasi rahmatanlil’alamin berarti juga menjaga keseimbangan ekosistem alam. Faktanya, banyak umat islam yang masa bodoh melakukan berbagai perusakan alam. Berbagai bencana itu masih permulaan mengingat perubahan iklim dunia telah menimbulkan siklus cuaca baru seperti yang disampaikan BMG, bahwa muncul embrio badai tropis di utara Australia Samudra Hindia (Kompas,9/1). Fenomena perubahan iklim ini berdampak pada akurasi perkiraan cuaca dalam jangka waktu tertentu.

Prespektif sosial, keberadaan anak-anak jalanan merupakan kritik sosial atas timpangnya regulasi modal, ekses globalisasi maupun karena semakin mahalnya biaya pendidikan. Realitas ini semkain mempertanyakan aksi dari visi rahmatan lil’alamin. Sebab, tanpa menformilkan negara ini menjadi Negara Islam, Indonesia merupakan wajah Negara Islam plural karena mayoritas penduduknya beragama Islam.

Bencana alam maupun bencana sosial tersebut menjadi tanggungjawab umat Islam untuk fastabiqulkhoirot, berlomba-lomba kepada kebaikan dan nahulmunkar, mecegah kemungkaran. Namun tidak bisa sebuah pelanggaran hukum (syari’at) dilawan dengan pelanggaran hukum pula.

Tugas Islam saat ini adalah menjangkau visi rahmatanhlilalamin tersebut. Umat Islam harus mampu membangun integritas, inovasi, kreatifitas maupun pengembangan komperhensif dengan menjalin ukhwah yang baik pada seluruh komunitas dan ekosistem alam. Bukankah Islam telah memberikan kerangka syar’i yang sangat aplikatif seperti puasa, Idul fitri, Idul Qurban maupun zakat?

Tahun 1428 H telah berganti 1429 H yang berarti menambah tua usia dan pengalaman umat Islam. Bukan pesta pora yang justru menjadi ironi realitas negara kita karena prihatin berkepanjangan. Perayaan tahun baru Islam sudah seharusnya dijadikan sebagai motivasi untuk menjangkau visi rahmatanlil’alamin tersebut. Wallohu a’lambisshowab