| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Aku menyesali diri, mengapa aku tidak siap jatuh cinta?
Aku menyesali diri, mengapa aku tidak siap jatuh cinta?
Kelembutan itu terpancar. Nama kamu terngiang dalam tiap bait lagu umbrella terdengar dari computer. Ya, itu mengingatkanku tiap waktu akan dirimu. Meski kamu dingin, tidak hangat menyentuh kejiwaanku yang menggelora.. Aku bahagia, mencoba ikut bahagia, saat kau telah mendapatkan tautan hati.
Bayanganku kemudian mengingat saat aku berkunjung ke kos kamu di istana Gajayana. Kau antarkan kepulanganku dengan menunggu di depan gerbang kos. Aku berfikir, bagaimana tidak bahagia seseorang bila kehadiranmu menyambut perjumpaan dan perpisahan dengan senyuman kamu yang menawan, lebih cantik dari dirimu sendiri?
Sinar kecantikan itu bukan dari wajahmu, bukan pula dari tubuhmu. Itulah yang membuatku tertegun, terdiam sebelum pulang, lalu sesak sebentar menyulitkan dadaku bernafas, menyulitkan tenggorokanku menelan ludah. Sinar kecantikan itu terpancar begitu dalam, dari aura perilaku yang kau tampilkan… lantas aku berfikir ulang, merenung ulang, apakah aku jatuh hati?
Teramat lambat dan sangat lambat. Hatiku berdiam dalam lamunan sepanjang jalan, tidak lagi ingat, tidak lagi sempat menyapa semua yang lewat, tidak lagi sadar, sampai mana roda duaku telah berjalan. Yang aku sadar, aku telah salah arah. Jalan kendaraan aku putar, aku lebih baik pulang ke kos. Riuh kendaraan mengkin saja bisa menelanku diantara hiruk pikuk motor, tanpa capek, tanpa kesabaran. Huf. Lebih baik aku istirahat. Itu saja.
Konsentrasi aku atur hingga bisa sampai kos di dinoyo. Lagu-lagu rindu dan patah hati D’Masive cukup aku resapi dalam kenikmatan sakit, dalam kenikmatan perih, luluh lantak meleburnya hati, karena kau kini telah bersandar di dada lelaki lain, teman sekelas mata kuliah Antropologi.
Kecantikan yang kau pancarkan memang bukan dari wajah dan tubuhmu. Hasratku untuk bermain dengan perasaan, hasratku untuk bisa memelukmu, memilikimu, memadu kasih, merindu, menyayang bahkan berduka denganmu, kini aku pikir telah berakhir. Tetapi aku tidak tahu, sejauh mana akhir ini juga akan berakhir. Yang aku pertahankan, kecantikanmu tetap bisa aku sentuh. Aku masih bisa melihatmu di sela-sela mata kuliah. Sedikit menghiburku, meski aku pengecut, karena tidak berani jatuh cinta, aku tidak siap jatuh cinta.
Kamar kos_Malang, 01:05am, 29 Desember 2008