Perempuan paruh baya menarik selimut dari kasur empuk peninggalan suaminya. Terdengar suara adzan berkumandang tanda subuh telah tiba. Perlahan ia angkat kaki dari pembaringan, menuju kamar mandi. Tapi apa daya. Tiba-tiba saja lemah lunglai menghujam sekujur tubuhnya. Matanya berkunang-kunang. Kepala terasa barat, menahan sakit tiada tara di bagian ubun-ubun kepala.
Terhuyung wanita paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih ini, menguatkan diri untuk bangkit menuju kamar mandi. Tidak ada siapapun di rumah ini kecuali dirinya. Harus kuat, menahan berat tubuhnya sendiri, bangkit dari tempatnya bersimpuh di bawah ranjang, agar ia bisa sampai waktu mengambil air wudlu.
Tangannya menggapai apapun yang ada di dekatnya, menggenggam erat, menarik tubuhnya kuat-kuat dari tempatnya tersungkur. Perlahan kaki tuanya terasa perkasa, menahan beban usia senja. “Bismillah, bismillah, bismillah..” bibirnya gemetar menyebut nama Tuhan yang menguatkan kehidupannya sehari-hari, bangkit dari pembaringan di gelap fajar pagi hingga petang menjemput istirahat malam.
Dari jarak sekian meter terlihat kucing termangu, melihat usaha keras perempuan paruh baya di depannya. Hanya terdiam, menatap dalam sang tuannya yang memberi makan setiap hari. Kucing putih hitam pendamping makan, pengantar kaki keluar masuk rumah.
Perlahan perempuan paruh baya ini mulai bangkit, dengan penglihatan yang menghitam. Merayap di tembok rumahnya, ibu baya berjalan ke kamar mandi. Coba bekerja sekuat tenaga, tidak lagi menghiraukan sakit kepala yang menghujam. “Bismillah, bismillah, bismillah..” gumamnya menguatkan diri sendiri.
Usaha keras itu tidak sia-sia. Ia berhasil menyelesaikan wudlunya sekaligus merayap ke masjid, seratus meter dari rumahnya. Sesekali-sekali ia duduk beristirahat, berdiri dan berjalan perlahan, hingga tubuh senja itu tersungkur di teras masjid.
“Ibu… Ibu tidak apa-apa?”
Seorang jamaah perempuan mengangkat tubuhnya yang tersungkur.
Ibu paruh baya itu tidak menjawab, menahan sakit yang menyengat di kepalanya.
“Ibu istirahat dulu..”
Tidak menyahut. Bibirnya terkatup, bergetar menahan rasa sakit yang mendera kepalanya, meski hatinya masih terlafadzkan ribuan dzikir mengingat Tuhannya.
Fajar menyingsing, seiring ibu senja yang ikut berjamaah sholat subuh dengan duduk bersimpuh di hadapan Tuhannya. Dengan dipapah beberapa jamaah, ibu senja kembali ke pembaringan, menutup selimut pagi dan beristirahat. “Bismillah, bismillah, bismillah..” lantunnya berkali-kali seiring mata terpejam.
***
Mentari pagi muncul merekah dengan ragu. Sedikit waktu bergerak naik, terasa berat dirinya menggantikan malam, tidak ingin mengganggu sang ibu baya yang sedang beristirahat. Tapi ia harus tetap bangkit dari pembaringan, memberikan kehangatan pada seluruh isi bumi.
Sedikit demi sedikit mentari mulai menampakkan tubuhnya, memberikan kehangatan penduduk desa, memberi semangat anak-anak kehidupan. Jalan depan rumah ibu paruh baya mulai ramai oleh kendaraan lalu lalang. Bapak-bapak yang mengantar anak menuju jalan raya, sekitar lima kilometer dari desa sedikit terpencil ini. Anak-anak penerus kehidupan ini harus belajar menuju kota kecamatan terdekat.
Para penjual sayur, tahu, tempe dan aneka menu masakan tidak mau kalah menghiasi pagi desa. Juga para bapak dan ibu tani, memikul cangkul, menentang sabit, biji-biji tumbuhan, benih-benih tamanam kebun dan persawahan, lalu lalang mulai beraktifitas mengawali produktifitas hari ini.
Sang ibu paruh baya masih terlelap di pembaringan. Tenaganya mungkin terkuras habis menahan berat saat bangkit dipagi buta dari pembaringan, menuju panggilan rutin dari Tuhannya menjelang fajar.
Mentari pagi paham, ia harus menghangatkan sang kekasih kehidupannya. Perlahan sinarnya disisipkan di antara celah kaca jendela kamar, menghangatkan tubuh perempuan yang terdiam dalam peristirahatan.
Sinarnya disisipkan di celah-celah kulit kekasihnya yang mulai keriput, memberi kehidupan pada mikro biologis di dalam sel-sel tubuhnya, membuat aliran darahnya perlahan berjalan kembali pulih.
Kekuatan demi kekuatan ia susun untuk bangkit dari pembaringan, hingga terdengar suara lirih dari balik dipan tempatnya berbaring.
“Ibu… anakmu pulang…”
Like this:
One blogger likes this post.