Cerita di Komisariat (Bag.2)
Sore ini Sabtu 9 April 2011 agak gelap, mendung telah berganti gerimis. Gemericik kecil-kecil air langit mulai membasahi bumi kota Malang. Angin berhembus pelan menukar hangat siang yang baru saja berlalu, berganti dingin.
Di dapur seorang cewek cantik sedang menanak nasi, membuat sambal dan memasukkan telor ke penggorengan. Dengan kesabaran dia memulai satu telor hingga tiga puluh telor selesai digoreng. Satu persatu lauk pauk itu dimasukkan dalam kotak nasi yang telah siap, berjumlah tigapuluh kotak. Cukup untuk acara pelantikan komisariat sore ini dipanti asuhan Sunan Giri, depan kampus UMM.
Beberapa saat kemudian awan semakin gelap, merubah sore menjadi pekat, gelap, dan kelam. Hujanpun turun dengan lebat. “Jam berapa Ri acaranya dimulai?”, Tanya sahabati Rista (sebut saja begitu) sambil memasukkan lauk-lauk hangat di kotak-kotak nasi.
“Harusnya sich sekarang,” jawabku. Tapi hujan lebat ini rasanya sangat mengganggu persiapan acara pelantikan. Namun semangat ini begitu membara. Ya, aku sendiri sudah siap untuk mengabdi pada kepengurusan periode ini, satu tahun ke depan. Dan rasanya aku gak peduli terik maupun hujan. Acara harus berjalan dengan sukses. Dan.. sepeda motor segera aku nyalakan, meluncur dengan membawa baju pengganti menuju tempat acara, dengan basah kuyup.
“Semangat ini lua biasa”, gumamku dalam hati. Berbondong-bondong sahabat-sahabati datang ke acara pelantikan dengan antusias. Berbagai kebutuhan kegiatan disiapkan dengan matang. Tidak terasa lagi hujan yang bergemericik deras di luar. Optimism dan ekspektasi yang besar terhadap kepengurusan komisariat yang tentu harus dibayar dengan kesungguhan.
Kesungguhan itu yang membebani sekaligus menjadi jalan pembelajaranku, sanggupkah aku menjalaninya? Kekhawatiran dan berbagai keresahan berkecamuk mendebarkan dada. Aku bukan orang pandai atau punya karakter kuat dalam mensinergikan hati dan pikiran, lalu memberikan perubahan-perubahan pada lingkungan. Apalagi ini adalah organ pengkaderan. Satu-satunya yang aq pegang kuat adalah aku ingin memberikan sejauh yang aku bisa, terlepas dari segala kekurangan yang pasti setiap orang memilikinya. Apalagi aku yang bisa dibilang kurang sempurna dalam berproses di organ ini.
Lewat jam 7 malam, pelantikan ini dimulai. Tidak lupa sebuah sumpah jabatan dibacakan oleh ketua cabang. Sumpah janji setia dan kesungguhan memegang amanat dibacakan dengan menyebut nama Tuhan. Dengan keteguhan, aku meresapi sumpah itu, meski masih begitu banyak keraguan berkecamuk dalam hati, akankah aku sanggup memegang amanat dan menjalankan sumpah itu?
bersambung

