Pengenalan citizen journalism kepada masyarakaat kota Batu melalui agenda Sekolah Demokrasi IV disambut antusias peserta. Silih berganti Tanya jawab berlangsung gayeng dengan satu semangat: menggagas aktif kegiatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita di kota Batu yang berjuluk De Kleine Switzerland ini.
Inilah bagian dari esensi demokrasi yang harus terus dibangun di kota Batu dalam berbagai kesempatan. Tentu saja pendidikan ini tentu tidak mudah, mengingat secara kultur masyarakat Indonesia dan masyarakat kota Batu pada khususnya bukanlah masyarkat administratif yang mempunyai kebiasaan menulis. Lebih-lebih jurnalisme mempunyai kaidah-kaidah yang representatif untuk menyebut informasi dan data yang bertebaran di masyarakat itu bisa disebut citizen journalism, atau dalam bahasa Indonesianya kita sebut jurnalisme warga.

Namun begitu citizen journalism ini harus diperkenalkan sebagai bagian penguatan pilar demokrasi. Untuk itu dalam agenda Sekolah Demorasi kali ini citizen journalism dibahas dalam sesi yang panjang, yakni dua hari berturut-turut mulai tanggal 16-17 April 2011.

Bertempat di Sekretariat Program SD Batu, diskusi dibentuk dengan membentuk lingkaran peserta. Satu-persatu teori dan pembahasan dikupas. Tidak lupa permainan-permainan ringan disisipkan fasilitator untuk membuat forum lebih terbuka, akrab dan cair.

Diskusi citizen journalism ini dibahas dalam lima sesi. Sesi pertama berlangsung pada hari Sabtu (16/04) mulai pukul 10:00-12:30 dengan agenda diskusi Media sebagai salah satu pilar demokrasi dan Teknik Dasar Jurnalistik. Pada sesi ini dibahas tentang  peran dan posisi media dalam gerakan demokrasi, berbagai jenis-jenis penulisan, liputan dan opini publik, serta metode wawancara dan observasi.

Pada hari yang sama dilanjut dengan sesi kedua. Sesi itu dimulai pukul 13.30 sampai dengan 16.30 WIB dengan berbagai pembahasan meliputi pengenalan kode etik jurnalistik, strategi pengembangan citizen jurnalism (jurnalistik komunitas), model pemilihan berita, teknik penulisan berita/opini, dan praktek penulisan berita / opini publik.
Mencukupkan waktu yang tersisa di hari pertama diskusi Citizen Jurnalisme, sesi ketiga dilanjutkan mulai pukul 19:00 sampai dengan 21:00. Pada sesi ketiga ini dibahas tema tentang Jurnalisme Warga dan Pengenalan Liputan Film Dokumenter dalam Demokrasi. Pada sesi ini peserta SD mendiskudikan tentang konsep dasar dan urgensi junalisme warga dalam gerakan demokrasi, pengenalan liputan dokumenter,  teknik dokumentasi dengan menggunakan media audio-visual dan metode praktis pembuatan liputan dokumenter secara sederhana. Meski melelahkan, diskusi hari pertama tetap mengasyikkan bagi 23 peserta yang hadir. Buktinya, diskusi kemudian berlanjut pada situasi informal setelah acara usai.

Keesokan harinya, Minggu (17/4), diskusi terkait Citizen Jurnalism tersebut berlanjut. Jika pada sebelumnya diskusi lebih berkutat pada teori, wacana, cerita dan retorika terkait Citizen Jurnalism, maka di hari kedua ini peserta SD diajak bersama fasilitator ditugaskan praktik lapang guna memperkuat pemahaman tentang proses pembuatan Citizen Jurnalisme. “Kita besok membuat video dokumenter, bukan video cerita. Artinya, video itu bercerita. Ada konsep cerita yang dibangun dalam video tersebut,” Ujar Mohammad Arsyadul Ibad, pengantar yang mendampingi selama diskusi citizen journalism berlangsung.
Hasil pekerjaan lapangan itu kemudian dibahas melalui presentasi tentang pengalaman masing-masing.
 
Melelahkan Namun Mencerahkan
Antusiasme peserta memang cukup tinggi meski aktivitas pertemuan tersebut sangat padat. Suasana pelaihan tetap gayeng, partisipatif dan penuh canda selama forum diskusi berlangsung. Itu yang membuat seluruh peserta betah mengikuti setiap sesi diskusi hingga selesai di hari kedua diskusi citizen journalism.

Hasil dari garapan jurnalisme warga tentu sangat berbeda dengan hasil olah berita dan data yang dilakukan oleh wartawan beneran yang bekerja di industri pers. Namun, di tengah keterbatasan pemahaman dan profesionalitas itu, suguhan jurnalisme warga justru memberikan informasi, berita dan film dokumenter realitas sosial dalam suguhan yang beragam, unik dan menarik.
Hal itu tampak pada sesi presentasi hasil citizen journalism pada hari kedua. Kelompok I menyuguhkan dokumentasi kolam masjid Al Mukhlisin yang konon didirikan oleh Sunan Kalijaga dengan muridnya, Ahmad Zakaria. “Kelompok satu mendalami bukti sejarah ini,” ujar presentator peserta demokrasi dari kelompok I.

Sementara Kelompok II melakukan eksplorasi tempat wisata Jatim Park. “Ada fenomena alam yang perlu kita amati dalam pasangan, seperti kerbau dan burung jalak. Ini ekosistem yang saling melengkapi. Begitupun Jatim Park. Diharapkan ini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang saling mendukung,” ujar perwakilan kelompok II dalam presentasi. “Ini adalah Ibu Rupintun, koordinator warung wisata Jatim Park,” lanjutnya sambil menunjuk gambar sebuah warung di Jatim Park. Lebih lanjut kelompok II mempresentasikan video dokumenternya untuk menyoroti CSR Jatim Park Kota Batu.

Persoalan pertanian tentang ketergantungan petani dengan pupuk kimia menjadi sorotan dalam video dokumenter kelompok IV. “Tanah telah kering, dan saatnya petani kembali pada pupuk alami, atau organik. Ini penting untuk masa depan lingkungan,” ujar Nanda, presentator pertama kelompok IV. Penjelasan video dilanjutkan kelompok IV dengan menjelaskan proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dalam berbagai proses di kecamanatn Bumiaji.

Kelompok III mengambil dokumentasi tentang pedagang kecil di tengah menjamurnya toko-toko besar yang menjamur di kota Batu. “Ini adalah nasib mereka yang belum berubah sejak dulu, bahkan semakin memprihatinkan karena semakin masifnya penetrasi toko besar,” ujar presentator kolompok III.

Pengalaman turun ke lapangan dalam praktik citizen journalism ini membuka cakrawala baru peserta tentang peran aktif warga dalam menyampaikan informasi, berita dan menelaah data untuk disampaikan kepada khalayak umum. Pencarian informasi dan berita yang dulu mereka bayangkan hanya dapat dilakukan wartawan profesional, nyatanya dapat mereka lakukan. Ini adalah hal baru yang menyenangkan dan mencerahkan semangat peserta Sekolah Demokrasi untuk saling berbagi. Semoga bermanfaat. (*)

Tulisan untuk Progress Report Newsletter Simpul Demokrasi edisi Mei. Website bisa dilihat di www.simpuldemokraasi.com
Sumber gambar: www.balebengong.net