aku

Tentang aku, Terimakasih Bundaku

Ribuan kata terimakasih, meski dilantunkan tiap detik waktu hari-hariku, tentu tidak akan pernah cukup untuk membalas jasamu, bunda. Terimakasihku tidak akan pernah terukur untuk semua peluh keringat pengorbananmu. Terimakasih.

Rabu Pahing 25 April, saat gema azan Isya’ berkumandang, saat seorang laki-laki paruh baya bersandar dalam peluh keringat di samping perempuan yang berjuang antara dua nyawa, bumi tersenyum bermunajatkan zikir cinta dua manusia untuk kelahiran seorang bayi laki-laki. Suara tangis memekik diantara orang-orang yang tersenyum bahagia. Di bumi Arema paling ujung barat ini, aku terlahir dari keluarga sederhana berumahkan tembok bambu dengan tancapan tiang-tiang kayu yang dirajut menutupi dingin malam. Inilah rumah paling bersejarah untukku, karena mimpi-mimpi manusia lahir dari bilik-bilik sederhana ini.

Seorang ayah yang hanya aku dengar lewat bait-bait cerita dari bunda, seorang ayah yang tidak lagi aku ingat wajahnya, setia duduk bermunjatkan kasih sayang membelaikan tangan syukur atas anugerah Tuhan. Cerita-cerita beliau sosok pekerja keras, mencetak lumpur-lumpur liat di halaman rumah menjadi batu bata, atau cerita tentang beliau menanam tebu di sawah warisan kakek, atau cerita beliau bersama Ibu merajang tembakau hasil sawah. Semua hanya cerita, jadi aroma wangi surga ayah di sisi Tuhan. Sementara tangan perkasa seorang Ibu menjelma menjadi perempuan perkasa laksana bidadari surga, tak kenal siang, tak kenal malan, tak kenal peluh ratap untuk hidupi semua anak-anaknya.

Inilah aku dengan semua anugerah Tuhan paling berharga. Pilihan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan pada sosok manusia kecil berlandaskan cinta. Anak kehidupan ini kemudian hidup berdua bersama Ibu dan seorang nenek buyut di ujung timur kabupaten Blitar. Sementara kakak pertamanya hidup bersama neneknya di kabupaten Sukarno ujung lain sebelat barat. Pilihan hidup dramatis yang mengishkan romantika jalan manusia. Dua bersuadara harus berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Tidak tahu mengapa, tapi ketidak sempurnaan cerita keluarga ini tentu saja pilihan kasih Tuhan atas rencana Tuhan seutuhnya.

Anak kehidupan ini tentu saja mengisahkan jalan yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Setelah usia tiga tahun berpisah dengan seorang laki-laki perkasa yang melindunginya, anak ini tumbuh menjadi anak bengal. Tak ayal, saat usianya msih enam tahun, ia di rumahkan di sebuah pesantren terpencil di utara kota wlingi, kecamatan Doko. Di daerah dataran tinggi berbukit ini, ia harus berpisah dengan ibunya selama dua tahun. Ia hanya hidup bersama teman-teman bermain dan belajarnya juga dengan pengasuh anak-anak.

Praktis masa kecilnya dilalui dengan kasih sayang dan makna keluarga yang tidak utuh. Selepas dua tahun, Ibu anak kecil ini harus berpindah-pindah rumah, ngekos di daerah sekitar tempat beliau mengajar. Sementara sang nenek buyut kembali ke rumah asalnya di daerah ujung barat kabupaten Blitar. Kisah ketiga tali darah antara seorang Ibu dan kedua anaknya ini menjalani hidup yang kembali terpisahkan oleh jarak dan kesempatan merajut hidup bersama, bergelanyut antara semua keterbatasan.

Ibu itu masih hidup sendiri di rumah kos tanpa kehadiran keluarga utuhnya, yakni dua orang putranya. Anak bengal yang mulai tumbuh cerdas ini menghabiskan masa skolahnya dari SD sampai lulus SMA di kabupaten Tulungagung. Perjuangan berat kasih sayang ibu itu kini kembali diukir untuk satu anak putranya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi swasta di Malang. Praktis sang bunda masih saja sendiri di rumahnya, kesepian di ujung malam dan pagi, meski kini rumah itu sudah menjadi rumahnya sendiri.

Terimakasih bunda. Masa depan aku pasti aku berikan seutuhnya untuk kebahagiaanmu di hari tua. Terimakasih bunda. Terimakasih. Terimakasih.

Kamar Kos, 28 Juni 2009

e-mail/fb: tap_tap_top@yahoo.com

Tinggalkan sebuah Komentar