oleh: Ari eL Mohamed
Hegemoni kapitalis terus menggeser nilai-nilai kemanusiaan. Penulis berpendapat, ini adalah persoalan besar kemanusiaan saat ini. Sebab, komersialisasi produk semakin ekstrim juga melahirkan berbagai kontradiksi kesenjangan sosial.
Mengapa demikian? Sebab hegemoni itu ternyata tidak hanya melahirkan kontradiksi sosial, tetapi juga belbagai kontradiksi perilaku politik dan kebijakan penguasa. Pemerintah sadar bahwa pembangunan ekonomi kecil mutlak diperlukan untuk memugar puing-puing ekonomi yang berserakan paska krisis moneter. Namun faktanya akses pendidikan dan kesehatan semakin mahal. Fase selanjutnya adalah lahirnya berbagai ‘bencana sosial’ baru. Apalagi berbagai bencana alam silih berganti ‘berkunjung’ ke negeri ini.
Sadar ataupun tidak, kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, yakni melakukan hegemoni atau dihegemoni. Kebudayaan dan peradaban kita akhirnya harus mundur layaknya kesenjangan kelas yang terjadi di Eropa pada abad 17-an. Kelas miskin semakin nyata terlihat di balik kemewahan teknologi dan pembangunan fisik. Meskipun demikian, sejarah politik ataupun peradaban kita berbeda dengan Eropa.
Lantas apa kaitannya dengan Psikologi? Penulis ingin menyampaikan kritik kepada mayoritas akademisi, baik dosen maupun mahasiswanya. Pertanyaan penulis, mereka ke mana saja ditengah kondisi (bencana) sosial dan kemanusiaan yang terus meningkat – seperti keberadaan orang-orang tua maupun anak-anak di jalanan akibat kemiskinan atau berbagai bencana alam? Saat manusia membutuhkan kiprah intelektuil mereka, mengapa mereka masih saja ‘bersembunyi’ di ruang pengab bergelut dengan pustaka saja? Sementara trining-trining motivasi dan seminar lebih sering dilaksanakan di ruang ber-AC. Ini yang penulis sebut sebagai tragedi kemanusiaan itu, meskipun masih absurd.
Akademisi Psikologi yang menjadikan manusia sebagai subjek keilmuwannya menjadi sangat ironis saat tidak sensitif dengan persoalan kemanusiaan temporer. Di tengah kompleksitas persoalan sosial dan kemanusiaan, seharusnya akademisi kita banyak melahirkan teori-teori baru yang berkontribusi pada persoalan kemanusiaan. Tetapi anehnya, peneliti kita lebih memilih pada topik-topik yang komersil dari pada kepentingan persoalan kemanusiaan yang sesungguhnya terjadi.
Sistem yang berangkat dari hegemoni Barat belum tentu relevan untuk karakter sosiologis kita. Kompleksitas persoalan negara kita membutuhkan progressifitas sosial solution. Apalagi produk-produk akademisi psikologi sejatinya merupakan manivesto dari eksisntensi manusia, yakni dari, untuk dan bagi manusia. Sumberpucung, 4 Februari 2007