Kontradiksi Kemanusiaan dan Kapital

oleh: Ari eL Mohamed

Di tengah pertumbuhan ekonomi makro Indonesia yang merangkak naik 7-8 persen selama tahun 2007, keberadaan orang-orang jalanan yang menggantungkan hidupnya di sana juga mengalami kenaikan. Secara vulgar dapat kita lihat di seluruh pelosok kota, keberadaan pengamen, orang-orang tua yang mengemis, asongan, anak-anak jalanan bahkan orang-orang gila – yang merdeka – semakin bertambah saja.

Kemunculan “komunitas” orang-orang yang “turun” ke jalan tersebut merupakan kritik pedas kepada pemerintah dan kita semua, bahwa manusia sebagai subjek kehidupan semakin terlupakan oleh bias kapitalisasi semua materi yang ada. Seorang kawan menyebut, kini hanya jalan yang dapat mereka akses. Jalan adalah tempat tersisa paling demokratis yang dapat mereka nikmati di tengah semua layanan publik yang telah dikomoditaskan.

Komoditi barang memang semakin tidak terkendali. Tanah, air dan udara yang secara fundamel dalam UUD 1945 di kuasai negara toh dapat dengan mudah “dianulir” melalui perudang-undangan baru yang melegalkan itu semua untuk dapat diprivatisasi. Hal yang sama saat bicara tentang kemanusiaan, dimana manusia dapat diperjualbelikan secara gampang dalam memenuhi pasar buruh yang fleksibel (Labors Market flexibility). Nilai-nilai kemanusiaan akhirnya semakin bias, termasuk penggusuran yang sering memakan kelas ekonomi rakyat kecil. Padahal bagi mereka keberlangsungan ekonomi hanyalah untuk survive hidup, bukan sebagai tujuan hidup, apalagi untuk tujuan eksploitasi dan ekspansi yang lebih sering dilakukan oleh para pemodal dan investor besar.

Anehnya, para akedemisi kita pada saat yang sama juga bergerak menjadi sub-sistem yang mendukung “penindasan dan penghisapan” itu terus berlangsung. Akedemisi Psikologi misalnya, dalam berbagai out bond dan trining sering menyampaikan motivasi pribadi, kesuksesan pribadi, dan sinisme pada persoalan sosio-politik menjadi pilihan yang tepat untuk cepat sukses. Bahkan beberapa triner, terutama kalangan dosen, secara terus menerus menggembosi mahasiswanya agar hanya sibuk dengan nilai-nilai akademis. Sebuah pereduksian pada proses pendidikan yang sangat luas, fleksibel dan membebaskan. Padahal Psikologi adalah bidang keilmuwan yang seharusnya menjadikan manusia sebagai subjek utama. Tetapi mengapa di tangan mereka justru wilayah kemanusiaan semakin pudar, apatis dan asosial?

Berbagai out-bond, trining dan seminar akhirnya bernasib sama seperti tanah, air dan udara bumi kita. Siapa yang mempunyai modal, dialah yang berkuasa untuk memegang kendali, akan diarahkan kemana segala macam bentuk trining motivasi itu, tidak perduli hal tersebut sebetulnya justru menindas nilai kemanusiaan karena melahirkan sistem sosial yang menindas kelompok sosial tertentu. Akibatnya, kelompok kelas rakyat kecil tersebur semakin termarginalkan di bawah kapitalisasi besar-besaran semua akses hidupnya.

Kesadarn kritis akan kemanusiaan ini wajib kita rekonstruksi ulang. Mengutip Ali Syari’ati, sang arsitek revolusi Iran, bahwa manusia ideal adalah mereka yang mencari dan memperjuangkan umat manusia. Dengan demikian dia akan menemukan Tuhan. Artinya, mahasiswa dan dosen kampus, khusunya Psikologi, seharusnya peka akan realitas faktual kemanusiaan ini. Kebijakan publik yang tidak berimbang dan melahirkan berbagai bencana sosial ini akan terus berlangsung, karena watak kesuksesan dalam wilayah tertentu sering mengabaikan kompetisi berimbang. Support sistem untuk menjaga motivasi kemanusiaan, terutama pada kelompok “sosial jalanan” itu adalah bagian dari mengapa kita bergerak dalam akademisi yang menjadikan manusia sebagai subjek utama.

Kesuksesan individu yang berangkat dari pembentukan mental dan etika pribadi memang awal keberhasilan dapat kita raih. Namun, masih kata Syari’ati, etika pribadi harus dapat ditransformasikan dan melebur pada gerakan sosial untuk merubah dunia. Kebersamaan kita sebagai manusia dan atas nama manusia inilah modal yang sebenarnya, mengapa segala kehidupan manusia sampai hari ini masih berlangsung. Bukankah hidup ini kita tidak dapat sendirian?

Tinggalkan sebuah Komentar