Arsip untukFebruari 3, 2008

Kontradiksi Kemanusiaan dan Kapital

oleh: Ari eL Mohamed

Di tengah pertumbuhan ekonomi makro Indonesia yang merangkak naik 7-8 persen selama tahun 2007, keberadaan orang-orang jalanan yang menggantungkan hidupnya di sana juga mengalami kenaikan. Secara vulgar dapat kita lihat di seluruh pelosok kota, keberadaan pengamen, orang-orang tua yang mengemis, asongan, anak-anak jalanan bahkan orang-orang gila – yang merdeka – semakin bertambah saja.

Kemunculan “komunitas” orang-orang yang “turun” ke jalan tersebut merupakan kritik pedas kepada pemerintah dan kita semua, bahwa manusia sebagai subjek kehidupan semakin terlupakan oleh bias kapitalisasi semua materi yang ada. Seorang kawan menyebut, kini hanya jalan yang dapat mereka akses. Jalan adalah tempat tersisa paling demokratis yang dapat mereka nikmati di tengah semua layanan publik yang telah dikomoditaskan.

Komoditi barang memang semakin tidak terkendali. Tanah, air dan udara yang secara fundamel dalam UUD 1945 di kuasai negara toh dapat dengan mudah “dianulir” melalui perudang-undangan baru yang melegalkan itu semua untuk dapat diprivatisasi. Hal yang sama saat bicara tentang kemanusiaan, dimana manusia dapat diperjualbelikan secara gampang dalam memenuhi pasar buruh yang fleksibel (Labors Market flexibility). Nilai-nilai kemanusiaan akhirnya semakin bias, termasuk penggusuran yang sering memakan kelas ekonomi rakyat kecil. Padahal bagi mereka keberlangsungan ekonomi hanyalah untuk survive hidup, bukan sebagai tujuan hidup, apalagi untuk tujuan eksploitasi dan ekspansi yang lebih sering dilakukan oleh para pemodal dan investor besar.

Anehnya, para akedemisi kita pada saat yang sama juga bergerak menjadi sub-sistem yang mendukung “penindasan dan penghisapan” itu terus berlangsung. Akedemisi Psikologi misalnya, dalam berbagai out bond dan trining sering menyampaikan motivasi pribadi, kesuksesan pribadi, dan sinisme pada persoalan sosio-politik menjadi pilihan yang tepat untuk cepat sukses. Bahkan beberapa triner, terutama kalangan dosen, secara terus menerus menggembosi mahasiswanya agar hanya sibuk dengan nilai-nilai akademis. Sebuah pereduksian pada proses pendidikan yang sangat luas, fleksibel dan membebaskan. Padahal Psikologi adalah bidang keilmuwan yang seharusnya menjadikan manusia sebagai subjek utama. Tetapi mengapa di tangan mereka justru wilayah kemanusiaan semakin pudar, apatis dan asosial?

Berbagai out-bond, trining dan seminar akhirnya bernasib sama seperti tanah, air dan udara bumi kita. Siapa yang mempunyai modal, dialah yang berkuasa untuk memegang kendali, akan diarahkan kemana segala macam bentuk trining motivasi itu, tidak perduli hal tersebut sebetulnya justru menindas nilai kemanusiaan karena melahirkan sistem sosial yang menindas kelompok sosial tertentu. Akibatnya, kelompok kelas rakyat kecil tersebur semakin termarginalkan di bawah kapitalisasi besar-besaran semua akses hidupnya.

Kesadarn kritis akan kemanusiaan ini wajib kita rekonstruksi ulang. Mengutip Ali Syari’ati, sang arsitek revolusi Iran, bahwa manusia ideal adalah mereka yang mencari dan memperjuangkan umat manusia. Dengan demikian dia akan menemukan Tuhan. Artinya, mahasiswa dan dosen kampus, khusunya Psikologi, seharusnya peka akan realitas faktual kemanusiaan ini. Kebijakan publik yang tidak berimbang dan melahirkan berbagai bencana sosial ini akan terus berlangsung, karena watak kesuksesan dalam wilayah tertentu sering mengabaikan kompetisi berimbang. Support sistem untuk menjaga motivasi kemanusiaan, terutama pada kelompok “sosial jalanan” itu adalah bagian dari mengapa kita bergerak dalam akademisi yang menjadikan manusia sebagai subjek utama.

Kesuksesan individu yang berangkat dari pembentukan mental dan etika pribadi memang awal keberhasilan dapat kita raih. Namun, masih kata Syari’ati, etika pribadi harus dapat ditransformasikan dan melebur pada gerakan sosial untuk merubah dunia. Kebersamaan kita sebagai manusia dan atas nama manusia inilah modal yang sebenarnya, mengapa segala kehidupan manusia sampai hari ini masih berlangsung. Bukankah hidup ini kita tidak dapat sendirian?

Ali Syari’ati, Sang Arsitek Revolusi Iran

Diringkas dari buku ”Ali Syari’ati, Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern” Ekky Malaky, 2004
Oleh: Ari eL Mohamed

Salah satu pernyataan Syari’ati adalah ”Manusia menjadi ideal dengan mencari serta memperjuangkan umat manusia, dan dengan demikian, ia menemukan Tuhan”. Sedangkan ciri pemikiran Syari’ati menurut Shahrough Akhlavi adalah ”Agama harus ditransformasikan dari ajaran etika pribadi ke program revolusioner untuk mengubah dunia”(h.119)

Manusia sebagai khalifah digambarkan oleh Syari’ati sebagai manusia individu yang dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan sebegai individu. Karenanya, manusia adalah individu yang otonom, mempunyai kesadaran, mempunyai daya kreatifitas, dan mempunyai kebebasan kehendak. Pemikiran Syari’ati ini dipengaruhi oleh Eksistensialisme yang menekankan kebebasan dan otonomi individual.

Meski menekankan tindakan etis perorangan, Syari’ati menyatakan bahwa setiap individu mempunyai tanggungjawab untuk perubahan masyarakatnya. Sayri’ati percaya bahwa revolusi digerakkan pertama-tama dengan menggerakkan masing-masing individu. Gerakan individual itu akan mengarah pada gerakan massa. Hal ini terlihat secara konkrit dalam ibadah haji. Syari’ati memberikan tafsiran haji pada penekanan pentingnya kualitas individual, tapi pada akhirnya harus melebur dengan gerakan massa. Sayri’ati memandang revolusi dapat digerakkan saat individu mampu menjalankan kewajibannya masing-masing, yang kemudian melebur dengan gerakan mass itu.

Syari’ati dan Eksistensialisme
Ciri-ciri umum eksistensialisme barat sangat terasa dalam beberapa pandangan Syari’ati. Pandangan Syari’ati secara khas membicarakan persoalan eksistensi yang berpusat perhatian kepada manusia. Bereksistensi adalah dinamis, menciptakan dirinya secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan dan selalu berubah kurang atau lebih dari keadaan sebelumnya. Manusia dipandang terbuka, realitas yang belum selesai (h. 50). Jika Sartree membatasi manusia pada becoming sebagai proses untuk membentuk esensinya, Syari’ati lebih jauh lagi, yaitu potensi manusia menjadi lebih tinggi (h. 40). Inti pemikirannya bermula pada pandangan dunia Tauhid, dengan Tuhan sebagai sentralnya. Sebagaimana pemikiran eksistensialis lainnya, baginya manusia dapat dilihat sebagai being dan becoming. Untuk itu ia menafsirkan kosa kata bahasa arab bashar sebagai being dan insan untuk becoming (h.7).

Untuk berakhlak dengan akhlak Tuhan, manusia harus senantiasa melakukan proses evolusi (becoming) menuju Tuhan itu. Karena hanya dalam modus berada dalam bentuk Insan sajalah manusia memperoleh kebebasan dan mendapat amanat menjadi khalifah (wakil) Tuhan. Syari’ati menyatakan bahwa Insan mengandung nilai-nilai etis, sementara basyar mengandung nilai-nilai hewani. Hanya dengan menjadi insan sajalah manusia bisa memaksimalkan atribut ketuhanannya, yaitu kesadaran-diri, kehendak bebas dan kreatifitas. Hanya manusia saja yang bisa bertindak seperti Tuhan, tetapi manusia tidak bisa menjadi Tuhan (h. 110)

Syari’ati menyatakan bahwa manusia harus menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia harus menjadi insan, tidak sekedar basyar (mahluk fisiologis). Basyar adalah mahluk yang sekedar ‘berada’ (being), sedangkan insan adalah mahluk yang ‘menjadi’ (becoming). Dalam konteks ini Syari’ati menafsirkan ayat “Inna lillahi wainnailaihi rojiun” (dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya) menyatakan bahwa perjalanan kembali kepada-Nya bukanlah berarti di dalam-Nya atau pada-Nya. Artinya, Tuhan bukanlah titik beku atau suatu arah yang pasti, yang segala sesuatu menuju kepadanya.

Manusia yang ‘menjadi’ ini memiliki tiga sifat yang saling berkaitan dan dapat menyesuaikian diri dengan sifat-sifat ketuhanan. Ketiga sifat itu adalah kesadaran-diri (selft-awareness), kehendak bebas (free-will), dan kreativitas (creativiness). (h.36).

Syari’ati dan Marxisme
Ada hubungan cinta-benci antara Syari’ati dan Marxisme (h. 46). Ia menerima analisa Marx tentang kesadaran pertentangan kelas antara kaum penindas dan tertindas, misalnya antara kaum Habil dan kaum Qabil, tetapi terutama bukan antara buruh melawan Kapitalis, tetapi antara dunia ketiga melawan Imperialisme Barat. Sayri’ati juga banyak menggunakan paradigma, kerangka dan analisis Marxis untuk menjelaskan perkembangan masyarakat. Ia berpendapat bahwa Marx hanyalah seorang matrerialis tulen yang memandang manusia sebagai makhluk yang tertarik kepada hal-hal yang bersifat materi belaka. Namun Syari’ati menyanjung Marx yang jauh lebih tidak “materialistik” ketimbang mereka yang mengklaim “idealis” atau “beriman dan religius”. Prespektif lain, Syari’ati mengecam Marxisme yang mengejawantah dalam partai Sosial dan Komunis.

Syari’ati berusaha menyelesaikan kontradiksi pandangannya itu dengan membagi kehidupan Marx dalam tiga fase. Pertama Marx muda sebagai filosof ateistik yang mengembangkan materialisme dealektis. Kedua, Marx dewasa, seorang ilmuwan sosial yang mengungkapkan bagaimana penguasa mengeksploitasi mereka yang dikuasai. Ketiga Marx tua yang merupakan politisi. Dari tiga fase itu, Syari’ati menerima banyak gagasan dari Marx fase kedua, dan menolak fase pertama dan ketiga.

Syari’ati juga secara terang-terangan mengkritik ulama konvensional yang disebutnya sebagai “Borjuasi kecil” dan “Depotisme Spiritual”. Di satu pihak, penguasa telah menindas keimanan atas nama Islam Syi’ah, tetapi dipihak lain para ulama tradisional juga harus dikritik karena apatis terhadap kezaliman. Sebagian dari mereka bersikap oportunistik, sebagian lagi bersifat pasif karena mengharapkan Imam yang tersembunyi, Imam Mahdi (h. 22).

Biografi
Ali Syari’ati lahir 23 Nopember 1933 di desa Mazinan, pinggiran kota Masyhad dan Sabzavar, propinsi Khorasan Iran dengan nama kecil Muhammad Ali Mazinani. Ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati adalah seorang ulama yang mempunyai silsilah panjang keluarga ulama dari Masyhad, kota tempat pemakaman Ali Al-Ridha. Kehidupan Syari’ati atau Ali Mazinani berakar di pedesaan dan di sanalah pandangannya pertama kali dibentuk. Guru pertama kalinya adalah ayahnya sendiri yang memutuskan mengajar di kota Masyhad. Pada awal 1940-an, ayah Ali Mazinani mendirikan usaha penerbitan bernama “Pusat Penyebaran Kebenaran Islam” (The Center for Propagation of Islamic Truth) yang bertujuan untuk kebangkitan Islam sebagai agama yang sarat dengan kewajiban dan komitmen sosial. Pada dekade ini, ayah Syari’ati membentuk cabang organisasi Nehzat-I Khodaparastan-I Sosiyalist (The Movement of God-worshiping Socialist, Gerakan Penyembah Tuhan Sosialis. Ia membahas gagasan pemikir modern, khususnya para pemikir Sosialisme Arab dan sejarahwan Khazrawi, tokoh yang dibenci para Mullah Iran. Karenanya ia dicap sebagai “sunni”, “wahabi”, bahkan “baabisme” oleh beberapa ulama (h. 13). Dari ayahnya inilah semangat non-konvensional – dan oposisi – Ali Mazinani terbentuk.

Sementara dari pihak ibu, kakeknya, Akhun Hakim adalah sosok ulama yang kisah hidupnya turut menginspirasi Ali Mazinani. Pamannya adalah murid dari ulama terkemuka Adib Nishapuri, yang setelah belajar filsafat, fiqh, dan sastra, – mengikuti jejak leluhurnya – memilih kembali ke Mazinan.

Pada periode 1950-1951, Ali Mazinani seperti ayahnya, bergabung dalam Gerakan Penyembah Tuhan Sosialis dan mengikuti gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Perdana Menteri Muhammad Mushadiq. Ketika gerakan itu pecah menjadi Liga Kemedekaan Rakyat Iran tahun 1953, ia juga ikut bergabung. Setelah Mushadiq gagal melancarkan kudeta tahun 1953, ia ikut dalam Gerakan Perlawanan Nasionalis (National Resistance Movement). Karena gerakan itulah ia bersama ayahnya dipenjara di rumah tahanan Qazil Qala’ah, Teheran selama 8 bulan sebagai akibat gerakan oposisinya melawan Rezim Syah Reza Pahlevi.

Tahun 1956, Ali Mazinani melanjutkan studi di Fakultas Sastra universitas Masyhad. Tahun 1960 ia mendapat beasiswa dari pemerintah Iran dan melanjutkan pendidikan di Universitas Sorbonne, Perancis. Di Sorbonne inilah ia menjalin hubungan secara pribadi dengan intelektual terkemuka seperti Louis Massiggnon (Islamolog Prancis beragama Katolik), Jean-Paul sartre, “Che” Guevara, dan Jacques Berque. Ia juga bertemu dengan Henri Bergson dan Albert Camus. Pada tahun 1965, ketika kembali ke Iran, Ali Mazinani ditangkap di Bazarqan (perbatasan Iran-Turki) dan dipenjara 1,5 bulan. Ia dituduh berpartisipasi dalam aktifitas politik ketika sedang belajar di Perancis.

Ketika berada di Perancis itu, dia sadar bahwa pemikiran Barat bisa mencerahkan sekaligus memperbudak pemikiran pelajar Iran. Dia melihat adanya proses pembaratan total yang membentuk eropanoid (h. 19). Dari sini muncul pemikirannya dan memetakan inteletual Islam yang meniru dan ‘intelektual Islam sejati’. Intelektual sejati mengikuti tradisi Nabi. Perenungannya ini kelak membuatnya berpikir tentang Rausyanfikr (intelektual yang tercerahkan) tercermin dari aktifitasnya di Hussainiah Irshad dan kumpulan tulisan What is To Be Done

Periode 1967-1973 adalah periode paling aktif dalam hidup Ali Mazinani. Ia mengajar di Masyhad, Hussainiyah Irshad di Teheran, serta beberapa universitas dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Dalam wanktu singkat, ia menjadi populer d kalangan mahasiswa dan meluas ke masyarakat umum. Aktifitasnya yang selalu mempropagandakan perlawanan membuat khawatir Syah Pahlevi. Karena itulah SAVAK menangkap ayah Ali Mazinani dan memenjarakannya selema lebih dari satu tahun. Pada September 1973, sebulan setelah ayahnya ditahan, Ali Mazinani menyerahkan diri pada polisi rahasia itu, dan ia diganjar 18 bulan penjara.

Karena desakan masyarakat Iran dan juga protes dari dunia internasional, pada 20 Maret 1975 Ali Mazinani terpaksa dibebaskan. Ia kemudian diawasi dengan ketat, dilarang menerbitkan buku, dan dilarang berhubungan dengan murid-muridnya. Tetapi secara diam-diam ia tetap memberikan kuliah perlawanan.

Menyadari dibatasi, Muhammad Ali Mazinani mengganti nama resminya menjadi Ali Syari’ati dan meninggalkan Iran pada 16 Mei 1977. Pergantian nama ini dimaksudkan agar ia tidak terdeteksi pihak bandara dan polisi Iran (SAVAK). Lama tidak terlihat, pada 8 Juni 1977 SAVAK mengeluarkan edaran bahwa Ali Mazinani telah meninggalkan Iran secara illegal dengan mengganti nama menjadi Ali Syari’ati (h. 25).

Tanggal 18 Juni, Pouroan, istri Syaria’ti, beserta tiga putrinya hendak menyusul ke London, tetapi tidak dijinkan oleh pihak berwenang. Tetapi Soosan dan Sara, dua anak lainnya dibolehkan. Begitu tiba di Heathrow, Syari’ati menjemput mereka dan membawa mereka ke sebuah rumah sewaan di daerah Southampton, Inggris.

Tetapi keesokan paginya, 19 Juni 1977 Syari’ati ditemukan tewas di Southampton, Inggris. Pemerintah Iran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya ia dibunuh oleh Polisi rahasia Iran. Sang istri menolak biaya pemakaman dari pemerintah karena tidak ingin terlibat dalam eksploitasi nama suaminya demi kepentingan propaganda Syah Pahlevi. Syari’ati lalu dimakamkan pada 27 Juni 1977 di Damaskus, Suriah, bersebelahan dengan makam Zainab, cucu nabi dan saudara perempuan Imam ketiga, Husein bin Ali.

Innalillahi wainnailaihi rojiun. Kematiannya menjadi mitos “Islam Militan”. Pada hari ke-40, kematiannya diperingati di sekolah menengah atas Ameliat, Beirut, dan mirip dengan pertemuan puncak berbagai organisasi pembebasan dari berbagai Negara seperti Lebanon, Pakistan, Iran, Amerika, Kanada, Zimbawe, dan sebagainya. Roh perjuangannya terus mengalir dalam tiap nadi rakyat Iran, masyarakat Arab dan Internasional, menyusup dalam kesewenang-wenangan kekuasaan hingga memuncak selama berlangsungnya revolusi Iran Februari 1979. Fotonya mendominasi di jalan-jalan Teheran, berdampingan dengan Ayatullah Khomeini (h. 26).

Selamat jalan pejuang kemanusiaan. Seperti yang kau sampaikan, kau tidak hanya mencari dan memperjuangkan manusia, tetapi telah menemukannya bersama Tuhan. Malang, Forsma, 23/01/2008

Judul Buku : Ali Syari’ati, Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern
Penulis : Ekky Malaky
Penerbit : Teraju (PT. Mizan Publika)
Jumlah halaman : 170+xiii
Cetakan I, Juli 2004

Debat “Kusir Kuda” Kemiskinan

Oleh: Ari eL Mohamed

Seperti kata Eko Prasetyo, miskin sebetulnya bukan aib. Namun di tengah komoditas segala hal, kemiskinan adalah monster paling menakutkan, karena ia sering memetamorfosis menjadi “bencana-bencana sosial”. Bencana ini menumbuhkan keprihatinan mendalam pemerhati kemanusiaan, baik melalui diskusi-diskusi maupun aktualitas riil yang bergerak di wilayah kemanusiaan.

Perselisihan ini tak terkecuali memadati retorika kalangan politik praktis. Kemiskinan menjadi ajang perdebatan teoretik menarik untuk mencari – atau mencuri – popularitas publik. Kemiskinan menjadi isu paling populis untuk menawarkan berbagai retorika praksis yang tertuang secara implisit dalam “janji-janji” politisi. Prespektif ini menjadikan kemiskinan sebagai “komoditi” baru untuk meraih populeritas menjelang pemilu. Perdebatan paling faktual adalah kritik Megawati atas kinerja SBY yang ia analogikan dengan “tari poco – poco”, gambaran arah kepiemimpinan SBY-Kalla yang tidak jelas. Padahal pada era Mega kita juga menyaksikan kebijakan yang memberatkan kaum miskin dengan menaikkan harga BBM.

Kritik inkonsistensi politisi ini menyuguhkan kita pada kerinduan keberpihakan. Memihak mungkin pilihan yang terkesan diskriminatif. Namun esensinya, justru dengan keberpihakan itu kebijakan menjadi lebih progresif dan terarah. Keberpihakan itu menghadirkan sosok yang berkarakter, konsisten dan komitmen pada prioritas perjuangannya.

Ideologi pembangunan pada masa Orde Baru, misalnya, terbangun dari aliansi tiga kekuatan besar, yakni militer, teknokrat dan pengusaha. Namun ternyata gabungan tiga serangkai itu tidak mempunyai pondasi kokoh untuk membangun perekonomian nasional secara menyeluruh. Keyakinan dari asumsi bahwa pembangunan secara otomatis akan memberikan dampak ekonomi bawah (trickle of down efeect) ternyata justru semakin menajamkan kesenjangan ekonomi.. Arah kebijakan Orde Baru dapat kita lihat lebih memihak tiga serangkai itu.

Maka sudah saatnya kita memberikan kepercayaan pada rakyat kecil melalui pendampingan usaha, pendidikan dan kemudahan dalam akses kesehatan maupun ekonomi. Keberpihakan ini akan menjadi tumpuan awal kebangkitan ekonomi mikro, yang juga membantu pertumbuhan ekonomi makro. Pembangunan ekonomi kecil sudah waktunya segera menjadi prioritas karena secara kuantiti merupakan mayoritas di negara ke-tiga seperti Indonesia.

Secara empiris, fenomena ini mengingatkan kita pada sosok Muhammad Nuh, peraih nobel perdamaian 2007. Muhammad Nuh tentu tidak hanya bermodal teori ekonomi yang hanya terbangun dalam perdebatan retorika emosional untuk saling menjatuhkan. Teori ekonomi yang ia bangun merupakan implementasi ruh ideologis, terwujud di konsistensi dan komitmen dia untuk memberdayakan produktifitas kum miskin. Komitmen itu dapat ia bangun karena ia mempunyai keberpihakan yang jelas.

Kalau hanya debat “kusir kuda”, hanya untuk mencari populeritas politik dan tidak terbangun dari kerangka berfikir ideologis keberpihakan, bagaimana bisa kita melepaskan diri dari atribut kemiskinan?